Biutiful: Moralitas Menjelang Mortalitas

biutiful_highlight

Biutiful adalah film panjang keempat sutradara kondang Meksiko, Alejandro Gonzalez Inarritu, sekaligus film pertamanya yang tidak berdasarkan pada naskah Guillermo Arriaga. Sinergi Innaritu dan Arriaga sebelumnya menghasilkan Amores Perros (2000), 21 Grams (2004), dan Babel (2006): tiga film yang plotnya tersusun dalam tiga fragmen cerita, yang masing-masing punya protagonisnya sendiri dan berhubungan dengan fragmen-fragmen cerita lainnya. Naskah Biutiful ditulis oleh Inarritu sendiri bersama dua penulis naskah lainnya, Armando Bo dan Nicolas Giacobone. Berbeda dengan tiga film Inarritu sebelumnya, Biutiful tersusun dalam plot yang melingkar, dimana adegan pembuka film menjadi penutup dari cerita. Dalam plot yang melingkar tersebut, Biutiful menceritakan hari-hari terakhir kehidupan Uxbal di kota Barcelona.

Uxbal adalah seorang bapak dengan dua anak. Dia menghidupi keluarganya sendirian. Istirinya mengidap depresi akut, sering mabuk, dan tidak bisa diandalkan untuk menangani pekerjaan rumah sehari-hari. Setiap harinya Uxbal berurusan dengan dua dunia. Beberapa kali Uxbal bicara dengan arwah di dunia lain, untuk menyampaikan pesan kepada relasi mereka yang masih hidup. Berkat talentanya tersebut, Uxbal kerap memperoleh sumbangan uang. Seringnya Uxbal berkutat di dunia nyata, melakukan transaksi-transaksi di bawah meja dengan polisi. Melalui transaksi-transaksi tersebut, Uxbal berusaha menjaga hajat hidup sekelompok imigran ilegal dari Senegal dan Republik Rakyat Cina. Para imigran tersebut jadi punya kesempatan bekerja di Barcelona. Di tengah itu semua adalah kanker yang menggerogoti ginjal, hati, dan tulang Uxbal. Perlahan tapi pasti garis hidup Uxbal mendekati akhirnya.

Cerita Biutiful mirip dengan film karya Akira Kurosawa tahun 1952, Ikiru. Di hadapan penonton adalah seorang protagonis yang mengidap kanker, yang tindak-tanduknya menjelang kematian menjadi sebuah pernyataan tentang kondisi manusia. Bedanya, tak seperti protagonis Ikiru, Uxbal bukanlah seorang kelas menengah yang hidupnya nyaman. Dia terlalu miskin, tertekan, dan putus asa untuk mengabdikan hidupnya pada suatu inisiatif yang mulia. Dia juga tidak punya banyak waktu luang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Di pikiran Uxbal hanya ada kedua anaknya, yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan kerap terabaikan oleh ibunya. Kondisi hidup anaknya tersebut yang ingin Uxbal ubah sebelum maut datang menjemput.

Biutiful bisa dipahami dengan dua cara. Di satu sisi, Biutiful adalah kisah perjuangan seorang bapak, yang berusaha menghidupi keluarganya dengan segala cara. Di sisi lain, Biutiful merupakan hikayat seorang pahlawan, yang mencari penebusan dalam dunia yang kelam. Kedua pemahaman tersebut berujung pada satu hal: moralitas, dari level personal sampai level sosial.

Kota Barcelona yang Uxbal hadapi bukanlah surga dunia yang kerap muncul di jepretan kamera para turis. Sepanjang 147 menit durasi film, Barcelona yang penonton lihat adalah kota yang tersedak oleh moralitasnya sendiri. Dalam kota tersebut, Uxbal terjebak dalam lingkaran setan, di mana semua orang harus mengandalkan satu sama lain, namun tidak ada yang benar-benar bisa diandalkan. Konsekuensinya: eksploitasi sesama. Institusi keluarga tak lagi sakral. Kakak Uxbal tega meniduri istri adiknya sendiri dan menjual kuburan ayahnya, yang lahannya akan dipakai untuk pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Penegak hukum juga sama nistanya. Semua polisi korup, tanpa rasa bersalah menerima uang suap, dan tanpa tedeng aling-aling melakukan kekerasan di muka publik.

Atas apa yang ia perjuangkan, yakni kelayakan hidup anaknya, Uxbal terlihat sangat heroik. Apalagi kalau dilihat berdasarkan para imigran yang ia tangani, Uxbal seperti martir yang kematiannya menjadi penebusan untuk ketidakadilan yang para imigran alami. Namun, Uxbal tidak lebih baik dari lingkungan sekitarnya. Perjuangannya untuk keluarga adalah secara etis memang mulia, namun tindakannya sehari-hari di sisi lain sama amoralnya. Di pertengahan film, Uxbal sengaja membeli kompor yang lebih murah untuk para pekerja pabrik. Kompor tersebut berkualitas rendah, sehingga berpotensi mengalami kebocoran gas. Sisa uang dari pembelian kompor ia pakai untuk keluarganya sendiri. Kejadian tersebut menjadikan Uxbal tidak lebih baik dari mandor pabrik yang mengeksploitasi para imigran Cina, dan para polisi yang secara keras meringkus para imigran Senegal. Ia sama eksploitatifnya.

Mengutip pernyataan Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, kehidupan yang otentik adalah kehidupan yang berorientasi pada kematian. Kematian seringkali kita sederhanakan ke dalam dialektika surga dan neraka. Pertanyaannya: untuk apa ada surga kalau kita sebagai manusia tidak berusaha menggapainya dengan usaha terbaik kita? Itulah yang Uxbal lakukan. Surga baginya adalah kebahagiaan anak-anaknya. Jalan hidup yang Uxbal tempuh memang menyerempet garis batas moralitas. Namun, apabila ia berhasil menjamin kehidupan anak-anaknya, Uxbal menganggap dirinya telah mencapai kemenangan moralnya sendiri. Ia sudah menjalani tugas moralnya sebagai seorang kepala keluarga, walau kondisi sekitar memberinya kesempatan untuk melakukan yang sebaliknya.

Sebagai sebuah film, Biutiful jelas merupakan sebuah perkembangan dari apa yang Inarittu sebelumnya lakukan. Inilah sutradara yang dalam tiga film panjang pertamanya terancam menjadi parodi dirinya sendiri. Seperti yang sudah dijelaskan, Amores Perros, 21 Grams dan Babel memiliki struktur yang serupa. Ketiganya tersusun dalam tiga fragmen cerita, yang masing-masing berhubungan dengan fragmen cerita lainnya. Semakin ke belakang, Inarritu semakin bombastis menggarap filmnya: dari Amores Perros yang bolak-balik lintas ruang di ibukota Meksiko, 21 Grams yang struktur waktunya diacak-acak sedemikian rupa, hingga Babel yang sama acaknya secara spasial dan temporal dalam lingkup lintas benua.

Berbeda dengan tiga film Inarritu sebelumnya, Biutiful secara jelas menarik batas ceritanya di seorang protagonis. Ceritanya pun lebih linear. Dalam struktur tersebut, Inarritu perlahan-lahan menyampaikan informasinya ke penonton. Cerita disajikan via momen-momen terpisah, yang kemudian dikaitkan dengan Uxbal. Contohnya saat kakaknya Uxbal meniduri istri adiknya sendiri. Butuh beberapa waktu bagi penonton untuk menyadari kalau mereka ada kaitannya dengan Uxbal. Kemunculan mereka tidak disertai informasi yang berhubungan dengan Uxbal, sampai akhirnya mereka berinteraksi langsung dengan Uxbal. Ketika momen-momen tersebut satu per satu terkait dengan Uxbal, barulah penonton menyadari kalau tantangan Uxbal kian lama kian berat. Teknik penceritaan ini sungguh efektif, karena bisa menarik penonton ke dalam kondisi keterjebakan Uxbal.

Ada momen-momen dalam cerita yang pada akhirnya tak terkait pada Uxbal, seperti kisah dua mandor pabrik yang ternyata homoseksual, atau cerita-cerita sempilan tentang kehidupan mengenaskan para buruh imigran. Dalam momen-momen tersebut, Biutiful terasa longgar dan bertele-tele. Inarritu seakan-akan ingin memperkuat konteks dunia yang Uxbal hidupi. Padahal, informasi tersebut sudah cukup tersampaikan lewat karakter-karakter yang berhubungan langsung dengan Uxbal. Seperti yang Kurosawa lakukan untuk protagonis Ikiru, sebuah plot yang lebih padat akan menjadi tribut yang pantas untuk Uxbal, satu-satunya pemenang dalam dunia kelam Inarritu.

Biutiful | 2010 | Negara: Meksiko, Spanyol | Sutradara: Alejandro Gonzalez Inarritu | Pemain: Javier Bardem, Maricel Alvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrell, Eduard Fernandez

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend