HipHopDiningrat: Realita, Jogja, dan Musik Hiphop

hiphopdiningrat_highlight

HipHopDiningrat bukan saja sebuah film dokumenter, tapi juga road movie tentang Jogja Hiphop Foundation (JHF). Pasalnya, film ini tersusun dalam dua rangkaian perjalanan. Perjalanan pertama adalah adegan-adegan pendiri JHF, yakni Muhammad Marzuki, menyetir mobil sambil menjelaskan apa itu JHF dan apa saja kegiatannya. Perjalanan kedua adalah tur JHF dari Jogjakarta ke Jakarta dan Singapura. Kedua perjalanan tersebut menjadi garis besar, di mana HipHopDiningrat mengkronologikan eksistensi JHF dari tahun 2003 sampai tahun 2009. Dalam kurun waktu yang sama, kultur Jawa dan musik hiphop di Indonesia mengalami dinamikanya sendiri. Alhasil, terciptalah cerita perjalanan sebuah komunitas, yang mengembangkan musik hiphop melalui bahasa mereka sehari-hari, dan melestarikan bahasa Jawa melalui musik mereka sehari-hari.

Tulang punggung HipHopDiningrat ada pada kumpulan footage kegiatan JHF yang diarsipkan oleh Marzuki. Menurut pengakuan Marzuki, arsip yang ia miliki sangatlah lengkap, karena merekam kegiatan JHF dari awal berdiri sampai sekarang. Melalui kumpulan footage tersebut, HipHopDiningrat tidak saja memperoleh kelengkapan, tapi juga keintiman dalam memotret subyeknya. Pasalnya, kumpulan footage tersebut tidak sebatas pada adegan JHF rekaman dan tampil di atas pangung, tapi juga footage yang secara dekat memotret kesehari-harian mereka. Mulai dari adegan mencari baju di awul-awul (toko baju bekas), tertidur dalam perjalanan di bus, hingga jalan kaki di antara gang-gang. Kumpulan footage tersebut diolah dan disusun kembali oleh Marzuki, yang juga bertindak sebagai sutradara HipHopDiningrat. Konsekuensinya: ada sensitivitas humanis yang mengujur di seluruh film. Sebagai pendiri JHF, Marzuki sebenarnya sedang memfilmkan komunitasnya sendiri melalui HipHopDiningrat. Marzuki jelas punya kedekatan tersendiri dengan orang-orang yang terlibat dalam komunitasnya. Dia datang ke teman-temannya bukan sebagai pengintip dengan kamera, melainkan sebagai sahabat yang peduli dan kebetulan merekam. Tidak heran kalau sampai film berakhir, awak-awak JHF tidak sedetikpun dibingkai sebagai seniman dengan segala wacananya, melainkan sebagai manusia biasa dengan segala mimpi sederhananya.

Perlakuan humanis HipHopDiningrat pada subyeknya kentara pada adegan-adegan yang ada di dalam film. Semua adegan yang melibatkan orang-orang JHF dipotret dengan riang gembira. Maksudnya, tidak ada pretensi intelektual di dalamnya. Sepanjang film, kita hanya melihat JHF melakukan apa yang memang mereka senang lakukan: menyanyi hiphop dan bersuka ria bersama teman-teman. Ketika diwawancari, jawaban mereka juga jujur dan tidak berusaha terlihat rumit. Mereka menyanyi hiphop dalam bahasa Jawa, bukan karena mereka terikat dalam komitmen politis tertentu, tapi karena memang bahasa Jawa yang paling enak di mulut mereka. Mereka berkarya sedemikian rupa, karena mereka nyaman dengan materi yang mereka karyakan. Secara umum, melihat dari adegan-adegan yang ada, kesederhanaan dan riang-gembira itulah yang mewakili pandangan JHF tentang diri mereka sendiri.

Di sisi lain, orang-orang yang menyaksikan JHF direkam dalam beberapa adegan wawancara. Semuanya mengatakan hal yang berbeda, namun intinya sama: mereka memuji apa yang JHF lakukan. Dalam perkembangannya, pujian-pujian tersebut mengimbuhkan signifikansi kultural dan intelektual terhadap segala aktivitas JHF. Seorang penyanyi hiphop ternama memuji JHF atas kegiatan mereka dan solidnya ikatan antar awak-awaknya. Seorang sastrawan mengaku awalnya kaget ketika melihat keberadaan JHF, terutama ketika JHF mengadaptasi puisinya menjadi sebuah lagu hiphop. Namun, setelah melihat JHF tampil, sastrawan tersebut memuji tinggi apa yang JHF lakukan. Seorang penggiat teater memuji JHF, karena apa yang mereka lakukan turut berperan dalam pelestarian bahasa Jawa. Bukan itu saja, JHF juga sukses mengolah bahasa Jawa menjadi karya seni yang pop dan mudah diakses generasi penerus. Seorang pengamat budaya bahkan mengatakan bahwa JHF adalah eksperimen musik yang paling menyenangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Perspektif orang dalam dan pengamat luar perihal JHF ditabrakkan sepanjang HipHopDiningrat. Hasilnya: sebuah komedi dengan kemasan cerita perjalanan JHF, dari bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Menjadi menarik dan kadang menggelikan melihat bagaimana para pengamat tersebut mengatakan segala hal yang rumit tentang JHF. Sementara, di beberapa adegan lainnya, penonton mendapati JHF bersenang-senang dan menyanyikan hiphop dengan suka ria: dua hal sederhana yang sebenarnya melatari kesuksesan JHF.

Komedi dari tabrakan perspektif tersebut yang menjadi muatan dramatis HipHopDiningrat. Tanpa adanya komedi tersebut, HipHopDiningrat akan terasa sangat datar bagi penonton netral, mengingat film tersebut nyaris tanpa konflik. Sepanjang film tidak ada informasi ke penonton perihal kesulitan berarti yang menghalangi JHF menuju kesuksesan, baik secara internal maupun eksternal. Tidak ada juga yang kontradiktif dengan JHF. Semuanya positif dan mulus-mulus saja. Kesannya: mereka cukup menyanyi, dipuji oleh orang-orang penting, dan kemudian sukses pentas di ibukota dan Singapura. Bisa jadi memang ada kesulitan namun tidak terekam dalam film, atau memang pada kenyataannya tidak ada masalah dalam karier JHF. Satu-satunya informasi perihal hambatan dalam karier JHF adalah adegan wawancara dengan orang tua awak JHF. Mereka menyayangkan kuliah anak-anak mereka yang terbengkalai akibat hiphop, dan mengharapkan anak mereka turut menyelesaikan studi. Namun, adegan tersebut muncul di belakang film, setelah penonton mendapati segala kesuksesan yang telah dicapai JHF. Konsekuensinya: adegan tersebut terkesan merujuk pada perjalanan yang akan JHF tempuh setelah kesuksesan mereka, bukan pada perjalanan JHF yang penonton lihat sepanjang HipHopDiningrat.

Mempermasalahkan isu cover-both-sides dalam HipHopDiningrat bisa jadi adalah hal yang sia-sia. Seperti yang sudah dijelaskan, film ini adalah potret sebuah komunitas yang dibuat oleh orang dari komunitas tersebut. Spesifiknya: pendiri komunitas tersebut. Sama seperti orang tua yang tidak akan menjelek-jelekan anaknya di muka publik, seseorang tentu juga tidak akan menyibak hal yang buruk tentang komunitasnya sendiri. Menjadi logis apabila HipHopDiningrat hanya menyorot pencapaian JHF dan segala pujian tentang kegiatan mereka, karena HipHopDiningrat akan menjadi representasi JHF dalam medium film untuk beberapa tahun ke depan. Mereka jelas ingin menampilkan kesan yang baik. Bagusnya, pembuat film ini tahu bagaimana cara menceritakan komunitasnya sendiri dengan cara yang informatif sekaligus menghibur. Pencapaian HipHopDiningrat tersebut sekiranya pantas dihargai dengan senyum dan tepuk tangan dari para penontonnya.

HipHopDiningrat | 2010 | Durasi: 65 menit Sutradara: Muhammad Marzuki, Chandra Hutagaol | Produksi: Jogja Hiphop Foundation | Negara: Indonesia Narasumber: Muhammad Marzuki, Jogja Hiphop Foundation, Iwa K, Landung Simatupang

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend