Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband: Ode akan Angan dan Ingin

someones-wife-boat-someones-husband_hlgh

Tulisan ini dibangun berlandaskan sepotong doa: “Semoga benar Edwin mengenal falsafah ‘pistol Chekov’ dan menganutnya dengan setia dalam bertutur cerita.” Tak boros dalam berbahasa lewat kamera, tak ada elemen yang terbuang percuma. Niscaya betul, bahwa sang sutradara memang berniat menaruh makna pada setiap skena. Karena, tanpa prasangka demikian, Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband memang rawan terlihat seperti film obesitas, yang gemuk akan gambar-gambar cantik tapi tak berguna.

Cerita tentang proses pembuatan film ini pun punya potensi mengundang sinis. Konon, tak ada proses survei tempat pra-syuting. Konon, naskah yang disadur dari cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik guratan Seno Gumira Ajidarma ini setadinya diniatkan untuk hanya film berdurasi sepuluh menit, yang oleh Edwin dan kawan-kawan terabas hingga 55 menit. Konon, banyak gambar yang diambil atas dasar spontanitas semata. Konon, banyak dialog dan adegan yang murni hasil interpretasi aktor-aktrisnya atas cerpen Seno Gumira. Dengan kata lain: tidak terencana. Tentang prosesnya, Edwin sendiri berkata, “Kami pun tidak tahu mau ngapain pas sampai di sana.” Bagi mereka yang berprasangka, cerita di balik layar ini sangat mungkin menyulut decak dan ungkapan “Pantas saja.”

Namun dalam kasus Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband, kebutaan rencana tersebut seirama dengan wacana yang dihembuskan oleh sang film melalui setiap organnya: insting, insting, dan insting.

Sang wacana samar-samar tercermin dari adegan pembuka: malam hari, sekumpulan nelayan tengah bercengkrama di dermaga dan melantunkan nada, sembari dilatari halilintar menyala-nyala. Imaji laki-laki laut, dengan sentuhan heroik dan estetik.

Dialog pertama kita dapatkan dari adegan seorang laki-laki muda yang tengah mendengarkan legenda tentang gurita kembar dari penjual buah durian. Sentral cerita lalu bergeser ke seorang Perempuan yang gigih mencari jejak-jejak leluhurnya, ‘Sukab dan Halimah’. Sukab merupakan suami orang, Halimah pun istri orang. Suatu waktu, mereka kedapatan menaiki perahu bersama dan tidak kembali lagi. Berita kawin lari itu santer terdengar dan mengundang caci maki warga sekitar. Namun kini, 100 tahun kemudian, ketika Perempuan menanyakan kisah itu pada penduduk desa, tidak ada yang berniat ataupun dapat memberitahu. Setiap warga yang ia temui selalu berkata tidak dan merujuk orang lain yang mereka rasa tahu.

Citra-citra yang kemudian hadir silih berganti: antara menyoroti lelaki yang terus menerus menerima cerita tentang gurita dan manusia yang bisa berubah menjadi hewan, dengan perempuan yang terus-terus meminta diceritakan tentang Sukab dan Halimah. Paralel, berada di satu pulau yang sama, kita tahu lambat laun mereka akan bertemu. Hal yang mengganjal jadi pertanyaan: apa yang akan terjadi kemudian?

Interaksi perdana mereka di suatu sarapan pagi terjadi janggal: sang lelaki nampak bersikeras ingin berinteraksi dengan Perempuan. Meminta korek api tak ada, menyeruput cangkir kopinya pun jadilah. Bahkan sebelum Perempuan berkata iya, tapi toh Perempuan menerima. Mereka duduk semeja, dirundungi hening yang agak terlalu lama, sampai akhirnya lelaki mengaku dirinya bernama Sukab. Untung maha untung, Perempuan tidak balas mengaku bernama Halimah dan tetap menjadi Perempuan saja sepanjang sisa cerita. Kalau tidak, terjebaklah bingkai kisah dalam kerangka FTV berlatarkan pemandangan cantik dan aktor-aktris ternama. (Lagian, siapa suruh pilih Nicholas Saputra dan Mariana Renata)

Adegan kunci yang memantik pencerahan terjadi tatkala keduanya berbincang di pantai, dengan pecahan buih ombak menyapu kaki mereka. Perempuan menuturkan lanjutan ceritanya: Sukab dan Halimah kembali. Sukab menggendong Halimah yang hampir mati, Halimah yang mati bahagia, dan vagina Halimah yang mengeluarkan cahaya.

Tak berani hamba mereplikasi apa yang dituturkan Perempuan. Ngeri salah kata dan degradasi makna. Lebih baik puan dan tuan tonton sendiri. Tapi kalau boleh hamba coba ingat kembali, yang ia katakan kurang lebih seperti ini: bahwa ia ingin tahu rasanya mencintai lelaki yang keberadaannya terasa lewat buih-buih ombak. Lelaki yang keberadaannya nyata terlihat sepanjang mata memandang lautan, meski fisiknya tak ada. Iri, Perempuan iri hati pada Halimah yang melompat ke dalam perahu cadik. Sementara orang lain menahan diri, ia membebaskan diri dengan lari bersama lelaki yang dikasihi.

…kemudian terbitlah terang di sepanjang sisa film.

Terang yang menyinari adegan-adegan sebelumnya pula: adegan Sukab masa kini bertatap-tatapan dengan kambing, adegan berulang kali di mana Perempuan berjalan ke tengah lautan tak pernah lebih jauh dari batas kedalaman sepaha, adegan Perempuan dan Sukab masa kini makan durian, serta belasan montase lainnya yang merangkai diri menjadi sebuah simfoni. Simfoni gagasan, yang dihantarkan dengan cara jukstaposisi.

Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband menggunakan jukstaposisinya untuk membingkai oposisi biner antara insting dengan konvensi masyarakat. Misalnya, adegan wanita-wanita desa setempat yang menari dengan gerakan yang irit dan segan. Adegan tersebut dikontraskan oleh gambar anak-anak yang tengah bermain bambu api. Dengan cerkasnya adegan tersebut dipilih, karena sekejap mengingatkan kita dengan petuah orang tua: jangan bermain api… kalau tidak mau terbakar. Petuah yang bernada serupa dengan anggapan komunal tentang insting dan hasrat: liar, berbahaya, membakar, dan karenanya harus ditekan.

Ini bukan kali pertama Edwin menggunakan jukstaposisi untuk menegaskan kerangka wacana besar yang ia usung. Dalam Postcard from the Zoo (2012), secara implisit Edwin mengasosiasikan keberadaan hewan di kebun binatang dengan keberadaan manusia di dunia. Film pendeknya, Hortus (2013), menggunakan metode jukstaposisi yang lebih gamblang dengan menyandingkan dua gambar yang diputar oleh dua proyektor secara bersamaan. Seusai menyediakan konteks lewat jukstaposisi, keberpihakan pun disajikan oleh adegan.

Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband adalah ode kerinduan akan keberadaan insting dalam diri manusia. Baik Sukab sang pelaut maupun Halimah, keduanya merupakan manifestasi insting. Kerinduan akan bawaan purbawi ini digambarkan dengan pencarian Perempuan akan kisah Sukab dan Halimah. Perempuan bingung ketika tidak ada penduduk desa yang tahu kisah ini. “Saya pikir semestinya kisah itu terkenal sekali, jadi legenda di sini.” Memang, insting semestinya inheren dalam diri manusia, turut membentuk hasrat agar manusia menjadi seutuhnya manusia. Namun kini insting sudah terkebiri dan terlupakan, hingga jadi legenda pun tidak.

Kisah ‘Sukab dan Halimah’ ditempatkan sebagai monumen dan ajang percontohan bagi mereka yang mengandalkan insting untuk mengejar pemenuhan hasrat. Sama halnya dengan adegan saat Sukab masa kini dan Perempuan tengah makan durian. Dengan janggalnya Sukab bertanya, “Denger-denger kemarin ada yang mati gara-gara makan durian ya, Pak,” sembari terus menghirup sari durian. Insan-insan pemburu hasrat diposisikan sebagai makhluk yang sungguh berbahagia. Mereka memperoleh yang mereka inginkan, merasakan perasaan eksklusif yang tidak dikenal para penganut konvensi.

Namun kita diingatkan juga, bahwa hidup mereka lebih singkat akhirnya. Bicara oposisi biner dari insting, akan muncul ajektiva-ajektiva seperti ‘teratur’, ‘beradab’, ‘damai’, ‘bermoral’, ‘sadar’, ‘logis’. Persis itulah yang kita temukan pada masyarakat yang mencaci sisi impulsif Halimah dan kebebasan yang dikejarnya. Masyarakat, yang merupakan kumpulan seperangkat konvensi-konvensi, tidak mengenal kata permisif dan relatif. Lahirlah semacam mekanisme otomatis, tangan tak terlihat, yang menyentil keluar para pelanggar konvensi.

Baik Perempuan maupun sutradara, keduanya sadar dengan konsekuensi di atas. Namun pada hakikatnya, yang berlawanan tidak bisa berdampingan. Cukup Dr. Jekyll saja yang berakhir tragis karena berusaha mengejar utopia ‘keseimbangan’ yang fana. Dualisme memang menyuguhkan keindahan dan kesakitan: bahwa ada lebih dari satu cara untuk menjelaskan segalanya, namun pada akhirnya pilihan harus ditetapkan. Manusia tidak punya kuasa untuk merengkuh keduanya, dan si Perempuan pun memilih untuk mengikuti instingnya.

Serupa dengan cara tutur dalam Postcard from the Zoo (2012), relasi antara Perempuan dengan insting diceritakan melalui metamorfosis sang tokoh utama. Lana dan Perempuan sama-sama memiliki idola: jerapah dan Halimah. Kedua tokoh digerakkan kerinduan untuk berdekatan dengan persona sang idola, tidak serta merta secara fisik. Di akhir cerita, kita temukan Lana dengan bahagia menyentuh perut jerapah, dan Perempuan sungguh bercinta di atas perahu cadik dengan Sukab masa kini. Perempuan tidak lagi berjarak dengan tokoh Halimah dan insting yang dimilikinya. Perempuan, yang tadinya hanya berani mengeksplorasi lautan sedalam batas paha, menjadi dengan bebas menyelam dan mengarunginya tatkala usai bercinta. Gurita yang muncul pada awal cerita, menjadi penutup manis dengan disapu ombak kembali ke lautan. Perlambang, bahwa yang hilang ditemukan, yang mencari menemukan. Perempuan kita mendapatkan yang ia angankan.

Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband | 2013 | Durasi: 55 menit | Sutradara: Edwin | Produksi: babibutafilm, Jeonju International Film Festival | Negara: Indonesia | Pemeran: Mariana Renata, Nicholas Saputra

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (11)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend