Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives: Film Antah Berantah yang Bisa Bicara Pada Siapa Saja

uncle-boonmee-who-can-recall-his-past-lives_highlight

“Ada apa denganku, mataku terbuka, tapi aku tak bisa melihat suatu apa,” keluh Paman Boonme, suaranya datar dan menyakitkan. “Tenang, mungkin matamu hanya butuh waktu untuk menyesuaikan dengan gelita,” sahut sebuah suara disebelahnya. Gelap.

Suatu malam, ketika Paman Boonmee dan orang-orang terdekatnya tengah berkumpul di meja  makan, tiba-tiba mereka didatangi makhluk halus; arwah keluarga mereka yang telah meninggal belasan tahun lampau: istri Paman Boonmee, Huay, dan anak Paman Boonmee, Boonsong. Mereka duduk bersama, Huay melihat-lihat album foto pemakamannya, sementara Boonsong bercerita kenapa ia bisa mati misterius. Saya mengernyit dalam. Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives jelaslah film tentang arwah, tetap ia sama sekali tak bisa disebut film horor. Menonton Uncle Boonmee rasanya seperti menonton film yang tak jelas dari mana datangnya. Ia tiba-tiba duduk didepan kita, mengambil jarak, bercerita dengan cerita-cerita rakyat yang cenderung dekat dengan kita. Thailand dan Indonesia, percayalah, tak begitu jauh berbeda dalam hal dunia hantu dan cerita rakyatnya.

Satu sebab yang saya yakini menjadi pemicu terpilihnya Uncle Boonmee sebagai film terbaik di Festival Film Cannes tahun 2010, yakni, film ini memang tak jelas asal muasalnya. Bahasa kerennya: orisinil. Mencari film dengan motif dan gaya bercerita serupa saya kira mustahil. Hanya ada satu film yang seperti Uncle Boonmee, yaitu Uncle Boonmee.

Meskipun luar biasa aneh, namun film ini tetap sampai dengan konsepsi-konsepsinya yang mengakar tentang begitu banyak permasalahan. Berbeda dengan karya-karya Apichatpong Weerasethakul terdahulu, seperti Syndomes and a Century (2006) dan Tropical Malady (2004) ,  yang ceritanya tiba-tiba berubah ditengah film dan sama sekali tak pernah kembali keawal, yang membuat mereka berhubungan hanya benang merah topiknya saja, Uncle Boonmee dijalin oleh crosscut bolak balik sebagai format penceritaannya. Gambar berbagai tempat asing dalam hutan dan pedesaan, hanya satu tempat yang begitu hangat dimata pemirsa, yakni rumah Paman Boonmee sendiri.

Bagi saya, Uncle Boonmee adalah film yang njelimet luar biasa. Apichatpong bisa menyampaikan begitu banyak hal lewat film eksperimen sekental ini. Pertama kali, adegan pembuka berupa acara makan malam bersama arwah keluarga adalah semacam penegasan eksternal bagi orang-orang non-Thailand/Asia Tenggara sekaligus sebagai peringatan kembali bagi orang-orang Thailand/Asia Tenggara sendiri bahwa  konsep keluarga antara Thailand dan Eropa akan sangat berbeda bagaimanapun ia berupaya disamakan. Struktur keluarga Eropa, sebagaimana yang sangat sering tersampir dalam film-film mereka, terdiri dari struktur kotak-kotak ayah, ibu, dan anak. struktur ini bahkan sudah baku secara ilmiah dalam paradigma beberapa disiplin ilmu (psikoanalisa Freudian misalnya). Bagi keluarga (dalam film-film) Eropa, kehilangan satu pilar seringkali (dan bahkan terlalu sering) berarti disfungsi. Coba catat, berapa ribu film yang bercerita tentang anak yang tersuruk-suruk mencari jejak ayah kandungnya. Kebutuhan akan ayah kandung datang sebab sebuah keluarga (Eropa) akan timpang bila kekurangan salah satu tiangnya.

Berbeda dengan keluarga Thailand dalam konsepsi Apichatpong via Uncle Boonmee, keluarga Thailand sudah terbiasa dengan kebocoran pilar utama, sehingga keluarga tidak boleh serta-merta didefinisikan sebagai Ayah-Ibu-Anak. Pergolakan sejarah sosial dan alamiah yang panjang menyebabkan orang-orang Thailand punya struktur keluarga bakunya tersendiri. Penyakit (yang begitu ramai ber-endemi di daerah tropis macam Thailand), perang, dan kemiskinan, telah menjadi tusukan-tusukan tersendiri yang mengubah struktur keluarga di negeri Siam ini. Keluarga Paman Boonmee juga termasuk tipe yang seperti itu. Acara makan malam memperlihatkan struktur keluarga Thailand se-objektif mungkin: Paman Boonmee, Tong keponakannya, Jen Adik Iparnya, dan Jaai pembantunya. Disana hanya ada Ayah-Keponakan-Ipar. Apichatpong melakukan manuver jenius dengan menghadirkan arwah Huay dan Boonsong ke meja makan sehingga pemirsa bisa melihat selisih bangun kedua keluarga dengan mata kepala sendiri, bagaimana karakter keluarga Thailand dari sudut pandang Uncle Boonmee sendiri, dengan logika cerita rakyat tanahnya sendiri. Bolong-bolong begitu, Paman Boonmee tetap punya keluarga, dan kehilangan istri serta anaknya sama sekali tidak berarti disfungsi.

Itu baru Paman Boonmee, belum Past Lives. Saya meyakini, tersampirnya kata Past Lives pada judul film ini membuatnya menjadi begitu seksi dan mengundang. Paman Boonmee yang tengah sakit, selalu dihantui perasaan bahwa masa lalunya begitu beragam namun semuanya tetap gelap baginya. Apichatpong sengaja membuat pandangan penonton menjadi semirip mungkin dengan terawang personal Paman Boonmee, untuk ikut gelisah, apakah dulunya ia seekor kerbau, seorang putri buruk rupa, atau seekor ikan lele penunggu telaga. Past Lives menjadi bercabang artinya, terutama ketika Paman Boonme tersangkut pada postulat bahwa masa lalunya tidaklah sedongeng itu. Masa lalunya hanyalah seorang tentara anti-komunis sekaligus petani pembasmi hama. Karena ia sering membunuh, akibatnya ia dijatuhi karma gagal ginjal. Dari situ muncul satu misteri lagi, Past Lives yang dimaksud sebenarnya yang mana? Berdasarkan logika cerita rakyat? Ataukah berpijak pada teleologika historis?

Kebercabangan kemungkinan tafsir Past Lives dijaga benar oleh Apichatpong dalam rangka mempertahankan misteri filmnya. Lewat tempo datar yang persisten, mengecilkan volume dialog dan membesarkan backsound gemuruh, penggunaan warna yang semakin lama semakin baur, serta caranya yang terlalu liar dalam menerjemahkan keinginan kedalam bahasa filmis yang bikin geleng-geleng kepala. Tidak hanya bagus bukan main, tapi juga belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Apichatpong memanfaatkan arwah-arwahnya: Boonsong dan ikan lele penunggu telaga untuk menjadi simbol penandaan ruang terhadap waktu, yang meskipun sangat sulit diterima, tetapi tetap bisa menjelaskan semuanya.

Dunia sekarang adalah dunia Paman Boonmee, dunia lampau adalah dunia ikan lele penunggu telaga, dan masa depan adalah dunia still photo para tentara. Ada petunjuk penting yang sebenarnya sempat diucapkan oleh Paman Boonmee, yakni otoritas dan penggunaan bahasa warna. Paman Boonmee, ikan lele penunggu telaga, dan para tentara, adalah pemegang otoritas didunia mereka masing-masing. Ketika masa lampau bergerak ke masa depan, maka otoritas juga tengah bergeser dari pelukan alam ke tangan manusia yang tak seragam. Boonsong, bisa dibilang menjadi kelinci percobaan dari semua itu. Bagi anda yang akan menonton filmnya, coba perhatikan penggunaan warna, terutama hijau dan kuning. Ah, saya akui, menceritakan Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives memang tidaklah mudah. Itu sebabnya saya menyisipkan sebagian dialognya di awal tulisan, sebagai sebentuk pemerian yang tegas pada penonton. Membuka mata saja belum tentu cukup untuk menonton film antah berantah ini. Kita butuh menyesuaikan mata.

Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives | 2010 | Sutradara: Apichatpong Weerasethakul | Negara: Thailand | Pemain: Thanapat Saisaymar, Jenjira Pongpas, Sakda Kaewbuadee, Vien Pimdee, Matthieu Ly

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend