The Last Station: Bukan Tentang Tolstoy, Tapi Warisannya

 

last-station-film_highlight

Cerita tentang tokoh bersejarah selalu terkait dengan pengetahuan penonton akan subyeknya. Pengetahuan tersebut yang akan menjadi pintu masuk penonton ke narasi apapun yang disajikan pembuat cerita tentang tokohnya. The Last Station adalah salah satu kasusnya. Film tersebut mengangkat hari-hari terakhir kehidupan Leo Tolstoy. Perihal Tolstoy, ada dua pintu yang penonton dapat masuki. Pintu masuk pertama, yang juga pintu masuk paling luas, adalah Anna Karenina dan War and Peace. Keduanya adalah novel Tolstoy yang paling terkenal. Keduanya banyak direferensi di berbagai media, dan tercatat telah diterjemahkan ke banyak bahasa di seluruh dunia. Pintu masuk lainnnya, walau lebih sempit, adalah posisi Tolstoy di sejarah dunia. Umumnya dia dikenal sebagai sastrawan kelas atas, yang mendokumentasi kehidupan Rusia abad 19 dalam bentuk fiksi realis. Beriringan dengan kariernya sebagai penulis, Tolstoy mengembangkan pemikirannya tentang anaki dan resistensi dalam damai. Dia percaya perdamaian dan keadilan dalam kehidupan bersama dapat tercapai tanpa pertumpahan darah. Caranya adalah disiplin diri melalui ajaran Yang Maha Kuasa, dan mencintai sesama manusia tanpa adanya intervensi dari otoritas macam gereja dan pemerintah. Pemikiran tersebut berpengaruh besar pada tokoh-tokoh perdamaian abad 20, seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King, Jr.

Dalam sistem penceritaannya, The Last Station membuka kedua pintu masuk penonton ke dalam kehidupan Tolstoy. Pintu masuk yang paling luas dibuka sejak awal film. Ada beberapa baris teks yang menjelaskan siapa dan apa pencapaian Tolstoy secara umum. Pintu masuk yang lebih sempit ditubuhkan ke dalam dua pasang karakter. Kedua pasangan tersebut menjadi cerminan dari filosofi perdamaian Tolstoy, dalam wujud melodrama dan konflik moral. Pasangan pertama terikat dalam relasi afektif. Mereka adalah Valentin Bulgakov dan Masha. Keduanya adalah anak muda pemuja Tolstoy, bekerja untuk Tolstoy, dan berharap bisa hidup sesuai prinsipnya. Dalam praktiknya, relasi mereka terombang-ambing antara dua ekstrem: pengabdian dan pelanggaran total prinsip-prinsip Tolstoy. Mereka saling mencintai, tapi mereka bingung bagaimana mengembangkan perasaan tersebut. Bulgakov mencoba menjalani hidup puritan, dan mematuhi prinsip Tolstoy sampai ke akar-akarnya. Tidak heran kalau dia menghindari seks dan ekspresi sensual lainnya. Dua hal tersebut yang dianggap sangat normal dan manusiawi oleh Masha. Dia santai saja melakukannya, walau dia sadar itu melanggar prinsip Tolstoy.

Konflik di pasangan pertama beririsan dengan konflik yang lebih besar di pasangan kedua, yang terdiri dari Sophia Tolstaya dan Vladimir Chertkov. Pasangan tersebut terjalin dalam relasi yang kontradiktif. Sebagai istri Tolstoy, Tolstaya menginginkan royalti karya suaminya masuk ke kas keluarga dan keturunannya. Keinginan tersebut yang tidak disetujui oleh Chertkov, tangan kanan Tolstoy. Dia menganggap keinginan Tolstaya berlawanan dengan esensi pemikiran Tolstoy, yakni cinta antar manusia tanpa intervensi otoritas. Alih-alih melihat karya Tolstoy dikekang oleh hak karya intelektual, Chertkov menginginkan cetakan pemikiran Tolstoy diakses secara gratis oleh masyarakat Rusia. Di antara perebutan hak cipta tersebut adalah Bulgakov, yang menjadi bandul antara Tolstaya antara Chertkov. Dia digunakan oleh kedua pihak sebagai mata-mata, dan diharapkan dapat mempengaruhi pendirian Tolstoy perihal hak cipta karyanya.

Di tengah jalinan konflik karakter-karakter utama The Last Station adalah Leo Tolstoy sendiri. Posisinya dalam Tolstoy dalam cerita adalah sebagai karakter yang hampir terputus dengan konflik utama cerita. Dia nyaris tidak peduli dengan ribut-ribut soal hak cipta karya-karyanya. Dia malah prihatin dengan dirinya sendiri, yang menurutnya sangat tidak sesuai dengan pemikiran-pemikiran yang ia tulis. Faktanya: seorang Tolstoy bukanlah penganut prinsip Tolstoy yang baik. Perkembangan karakter Tolstoy bergerak dalam pola pengkhianatan prinsip pribadi tersebut, sampai ia frustasi sendiri. Silih berganti, adegan Tolstoy frustasi dikontraskan dengan perkembangan konflik karakter-karakter utama cerita. Begitu terus sampai film berakhir.

Berdasarkan penjabaran di atas, struktur cerita The Last Station sebenarnya menjadikan Leo Tolstoy sebagai catatan kaki dalam cerita kehidupannya sendiri. Penonton dituntun bukan untuk melihat Tolstoy dan perkembangan kariernya, tapi mengikuti intrik-intrik yang terjadi seputar orang-orang yang terpengaruh oleh Tolstoy. Teknik penceritaan tersebut punya dua implikasi bagi penonton. Di satu sisi, film ini sukses menyorot pentingnya warisan Tolstoy dalam konteks sejarah. Dengan menjadikan istri, orang kepercayaan dan pemuja Tolstoy sebagai fokus cerita, The Last Station membawa simpati penonton pada karakter-karakter tersebut. Semua karakter tersebut pontang-panting mempermasalahkan tanda tangan Tolstoy. Secara intelektual dan spiritual, tanda tangan Tolstoy akan memastikan karya-karyanya jadi milik orang banyak. Secara finansial, tanda tangan Tolstoy akan mempengaruhi jaminan masa depan keluarga Tolstoy. Rumitnya konflik yang mereka tempuh, dan keringat yang mereka kuras demi tanda tangan Tolstoy, menjadi tribut yang subtil perihal pentingnya warisan Tolstoy dalam sejarah peradaban manusia. Hal tersebut memberi bobot emosional yang secara perlahan memuncak dalam The Last Station, tepatnya pada adegan kerumunan orang yang berkabung saat Tolstoy meninggal dunia.

Di sisi lain, struktur cerita The Last Station justru gagal mencerahkan penonton tentang figur Leo Tolstoy sendiri. Dalam film ini, dia hanyalah catatan kaki. Kecuali beberapa baris teks yang muncul di awal film, tidak ada informasi tambahan tentang Leo Tolstoy sendiri. Setelah film usai, penonton hanya akan paham dia adalah penulis yang hebat, cinta kedamaian, dipuja banyak orang, dan punya relasi panas dingin dengan istrinya. Informasi-informasi umum tersebut dihimpit oleh ratusan detail perihal perebutan hak cipta antara Tolstaya dan Chertkov, serta kisah cinta antara Bulgakov dan Masha. Keempat karakter tersebut merujuk Tolstoy berdasarkan masalah pribadinya. Mereka tidak melihat Tolstoy sebagai figur yang mereka harus bagi ke orang lain, tapi sebagai konflik yang harus mereka selesaikan demi kepentingan mereka sendiri.

Bagi penonton netral, The Last Station adalah melodrama sejarah yang secara teknis digarap dengan baik. Pembuat film ini tahu bagaimana memanjakan mata penonton dengan reka ulang Rusia abad 19. Ada bangunan kediaman keluarga Tolstoy, yang mewah dalam segala kesederhanaannya. Ada shot-shot lanskap desa yang cantik dan dinamika kehidupannya yang eksotik. Para lakonnya juga memerankan karakternya dengan cukup baik, walau aksen Inggris Raya yang mereka gunakan bakal terasa aneh untuk sebuah cerita di Rusia. Bagi penggemar Tolstoy, atau yang ingin tahu tentang Tolstoy, The Last Station tidak lebih dari pengantar singkat ke literatur-literatur yang lebih komprehensif membahas Tolstoy.

The Last Station | 2009 | Sutradara: Michael Hoffmann | Negara: Jerman, Rusia, Inggris | Pemain: Christopher Plummer, Helen Mirren, Paul Giamatti, James McAvoy, Kerry Condon

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend