Scream 4: Generasi Baru, Media Baru, Kemasan Lama

scream-4_highlight

Scream 4 tidak pernah jauh-jauh dari telepon dan pisau. Lihat saja sekuens adegan pembukanya. Ada sepasang teman perempuan di sebuah rumah. Satu sedang menjawab panggilan telepon, satunya lagi sedang chatting lewat telepon selulernya. Ketika mereka akhirnya mengobrol, dan bicara tentang seorang pria tak dikenal di Facebook, salah satu dari perempuan tersebut memainkan pisau yang tergeletak di meja. Tiba-tiba terdengar dering telepon. Ada seorang tak dikenal yang mengancam akan membunuh mereka. Singkat cerita, beberapa menit kemudian mereka mati mengenaskan. Seorang pembunuh bertopeng hantu, yang dalam serial film Scream dikenal dengan nama Ghostface, menerobos masuk rumah, mengejar kedua perempuan, lalu membantai mereka satu per satu. Senjata yang digunakan: pisau.

Dering telepon, kejar-kejaran, lalu pembunuhan. Begitulah motif cerita yang menyokong film Scream 4. Motif tersebut, walau mengalami beberapa variasi dalam beberapa adegan, berulang terus hingga akhir film. Cerita filmnya sendiri melanjutkan dari film-film Scream sebelumnya. Sidney Prescott (Neve Campbell) kembali lagi ke Woodsboro, tepat setelah lima belas tahun setelah kejadian di Scream, di mana sejumlah temannya mati ditikam Ghostface. Sidney baru saja merilis sebuah buku, tentang pembantaian yang ia saksikan sepanjang serial film Scream, dan akan mempromosikannya di kampung halamannya. Sialnya, di waktu yang sama, Ghostface beraksi lagi. Kemunculan kembali Ghostface turut memunculkan dua teman lamanya Sidney, yakni Dewey (David Arquette) dan Gale Riley (Courteney Cox). Bertiga mereka berusaha memecahkan siapa yang kali ini berada di balik topeng Ghostface, dan apa motivasinya.

Di samping para veteran Scream, turut diperkenalkan sejumlah karakter baru, yang mayoritas adalah anak muda dan masih SMA. Satu yang paling menonjol adalah Jill Roberts (Emma Roberts), sepupunya Sidney. Beberapa teman sepantaran Jill adalah Kirby Reed (Hayden Panettiere), Olivia Morris (Marielle Jaffe), Charlie Walker (Rory Culkin), Robbie Mercer (Erik Knudsen), dan Trevor Sheldon (Nico Tortorella). Mereka adalah target yang diincar Ghostface di awal hingga pertengahan film. Sembari berinteraksi dengan satu sama lain via smartphone dan koneksi internet, satu per satu dari mereka diteror dan dibunuh Ghostface. Seiring berjalannya waktu, dan meningkatnya jumlah korban, perlahan mulai terungkap bahwa target Ghostface sejatinya adalah Sidney. Sama seperti film-film pendahulunya, Scream 4 menjadi permainan kejam bagi Sidney, di mana dia harus bertahan hidup dari seorang pembunuh bertopeng, yang gemar melontarkan trivia-trivia film horor sebelum beraksi.

Perbedaan Scream 4 dengan film-film Scream sebelumnya adalah konteks waktu. Ada jeda sebelas tahun antara Scream 4 dengan film Scream yang sebelumnya. Apabila bandingannya dengan Scream, jedanya naik jadi lima belas tahun. Sepanjang jeda belasan tahun tersebut, jelas banyak yang terjadi, baik dalam genre film horror maupun dalam peradaban manusia. Hal tersebut yang ingin dikontraskan oleh Wes Craven dan Kevin Williamson, penulis naskah Scream pertama dan kedua. Dengan meletakkan veteran serial Scream dan sejumlah anak muda dalam satu jalan cerita, Craven dan Williamson jadi punya kesempatan untuk mengomentari perkembangan peradaban dan film horror kontemporer. Sepanjang film, Jill dan teman-teman sejawatnya begitu fasih bicara soal Facebook, Twitter, blog, streaming video online, dan sejumlah judul film slasher tahun 2000-an. Sementara itu, ketiga veteran Scream seperti mengalami gegar budaya menghadapi Ghostface di abad millenium. Dalam satu adegan, Gale sampai mengajak dua temannya Jill untuk membantu proses investigasi.

Trik serupa sebenarnya sudah diterapkan dalam Scream. Craven dan Williamson turut mendefinisikan generasi anak muda waktu itu melalui media yang mereka pakai. Menurut konstruksi karakter yang mereka terapkan, anak muda tahun 90-an adalah suatu generasi yang kian terasing di tengah jaringan telepon. Hal tersebut kentara di sekuens adegan pembuka Scream. Casey, karakter yang diperankan Drew Barrymore, menjawab panggilan telepon dari seorang tak dikenal, yang sebenarnya adalah Ghostface. Film lalu pindah ke sebuah shot eksternal, yang menunjukkan rumah Casey yang terisolasi di pojok kota. Perpindahan tersebut menyiratkan telepon sebagai satu-satunya koneksi Casey ke dunia luar. Sebagai sebuah jalur komunikasi, telepon hanya melibatkan suara dan tidak terjadi secara tatap muka. Komunikasi antar manusia tak lagi terbatas ruang. Konsekuensinya: hubungan antar manusia kesannya bisa diputuskan begitu saja ketika telepon ditutup.

Dalam konteks Casey, dan keseluruhan film Scream, telepon menawarkan ilusi kedekatan sekaligus keamanan. Ilusi-ilusi tersebut yang buyar ketika Ghostface beraksi dan menikam para karakter cerita satu per satu. Ancaman ternyata masih bisa datang lewat ruang di sekitar para karakter, yang disamarkan oleh jaringan telepon. Scream tidak saja sukses memaknai telepon sebagai elemen kehidupan sehari-hari pada jamannya, tapi juga sebagai elemen yang vital dalam cerita. Dalam Scream 4, telepon hanyalah satu dari sekian banyak opsi komunikasi. Ada media baru, yakni internet dan segala situs jejaring sosialnya, yang secara gamblang dirujuk di adegan pembuka film. Ilusi kedekatan dan keamanan pun kian besar. Hubungan manusia semakin mudah diputuskan, yakni lewat tombol block di Twitter dan Facebook. Tombol block itulah yang dimanfaatkan oleh salah satu perempuan di adegan pembuka Scream 4. Sialnya, Ghostface tidak bisa dihentikan oleh tombol block semata. Seperti yang sudah dijelaskan, pembunuh bertopeng tersebut menerobos masuk rumah dan membunuh kedua perempuan.

Masalahnya, Scream 4 mengangkat media baru menjadi sebatas rujukan saja. Twitter dan Facebook hanya muncul di adegan pembuka film, namun tidak menjadi bagian dari narasi film. Scream 4 malah mengulangi motif dalam Scream, yakni telepon dan pisau, tanpa mengembangkannya lebih lagi. Pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dalam Scream 4 mayoritas dimediasi via telepon. Ketika tidak ditunjang oleh telepon, momen-momen mencekam dalam film dihasilkan lewat permainan audiovisual, yang banyak ditemukan dalam film-film horror lainnya. Kamera tiba-tiba menyempit ke close up atau medium shot, sementara film mendadak sunyi. Baru ketika Ghostface tiba-tiba muncul atau karakter membentur suatu benda, langsung terdengar suara kencang yang mungkin diharapkan mengagetkan penonton. Scream 4 pun melintas begitu saja, dari satu pembunuhan ke pembunuhan lainnya, hingga klimaks cerita. Twitter, Facebook, dan jejaring sosial lainnya hanya menjadi hiasan dialog, tapi tidak berpengaruh apa-apa ke cerita.

Perlakuan Scream 4 pada konteks jamannya turut menular ke hal-hal lain dalam film. Paling terasa pada sejumlah komentar tentang film horror kontemporer, yang keluar dari mulut Ghostface dan beberapa karakter. Komentar-komentar tersebut juga menjadi tempelan, tanpa punya pengaruh apa-apa ke cerita. Salah satu dari komentar tersebut adalah, “The unexpected is the new cliche.” Komentar tersebut merujuk pada bagaimana film horror sekarang, lebih spesifiknya film slasher, hanya beputar di situ-situ saja. Kemasannya serupa, penuturannya serupa, pembantaiannya saja yang dibuat makin rumit. Saat menulis baris dialog tersebut, Craven dan Williamson boleh jadi sedang berusaha terdengar ironis. Masalahnya, Scream 4 juga mengalami hal yang sama: kemasan dan penuturannya serupa dengan film-film Scream sebelumnya, walau generasi muda dan media yang menunjang mereka sudah semakin rumit.

Scream 4 | 2011 | Sutradara: Wes Craven | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Emma Roberts, Neve Campbell, Courteney Cox, David Arquette, Hayden Pannetierre, Marielle Jaffe

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend