Pabrik Dodol: Antara Mesin dan Manusia

pabrik-dodol_highlight

Pabrik Dodol adalah film pendek dengan drama yang sederhana. Ada dua tokoh: Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia dan Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin. Kedua tokoh ini tidak pernah bertemu, walaupun keduanya, dari label yang tertera di kardus dodol pada salah satu adegan, sama-sama mengaku berada di Garut.

Drama terjadi melalui musik pengiring. Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk diiringi dengan musik yang gembira dan menyenangkan, seakan-akan kegiatan produksi dalam Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia adalah orkestra yang padu dan seru. Semua unit produksi bekerja bersama-sama, saling membantu, dengan senang hati. Sedangkan Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin diiringi musik yang menakutkan, dengan irama dan volume yang sedemikian rupa yang menggambarkan kedatangan sesuatu yang raksasa, kuat, dan galak. Kesannya mirip musik pengiring kemunculan hiu dalam film Jaws, atau kedatangan tokoh Rangda dalam wayang.

Kontras antara Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin dengan Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia pun terjadi secara visual. Pekerja-pekerja dalam Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin digambarkan menggunakan masker yang menutupi mulut, tidak bicara satu sama lain, keseragaman ekspresi muka yang datar, dan semuanya memakai seragam dengan logo perusahaan. Sedangkan pekerja-pekerja dalam Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia digambarkan hidup dengan mulut yang bebas, tidak ditutupi masker. Sebagian dari mereka saling bercanda dan tertawa-tawa, sebagian lainnya mendengarkan musik, sebagian lainnya membawa anak dan bercanda bersama anaknya sambil bekerja.

Melalui usahanya mengasosiasikan kedua produsen dengan nilai yang berbeda, Pabrik Dodol menjadi film yang politis. Jelas ia merayakan Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia, jelas pula ia menghujat Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin. Namun, ia tidak menggiring muatan politis ini sampai pada preferensi beli penonton. Ia tidak mengiklankan produk pabrik yang satu atau menghasut penonton untuk tidak membeli produk pabrik yang lain. Ia hanya membandingkan tenaga aduk kedua pabrik; juga kehadiran tawa dalam proses produksi kedua pabrik.

Pabrik Dodol adalah catatan antropologis tanpa angka. Ia mencatat ragam proses produksi dodol tanpa menampilkan capaian kemampuan produksi kedua proses produksi. Tidak juga berargumen bahwa salah satu di antara Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia dan Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin lebih produktif daripada yang lain.

Dalam pemutaran film yang output musiknya tidak beres, atau jika secara sengaja fungsi mute dinyalakan, drama yang terjadi dalam Pabrik Dodol tak akan berbeda. Keseraman dan ketidakhadiran tawa dalam proses produksi Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Mesin tidak akan jadi pusat perhatian. Masker dan kebersihan dapur yang akan jadi pembahasan: Pabrik Dodol Dengan Tenaga Mesin lebih bersih daripada Pabrik Dodol Dengan Tenaga Aduk Manusia. Pabrik Dodol Dengan Tenaga Mesin lebih berusaha menjaga kebersihan lewat penggunaan mesin dan peralatan yang bersih dalam produksi, pemakaian masker dan sarung tangan oleh semua pegawai yang bersentuhan langsung dengan produk, dan penggunaan mesin dalam pengemasan. Pabrik Dodol Dengan Tenaga Manusia, dengan penerangan yang remang-remang dan warna-warna adonan yang tidak seperti warna makanan juga dapur kerja yang tidak terlalu bersih akan dilihat sebagai sesuatu yang kotor, jorok, dan tidak berusaha menjaga higienitas produk.

Pabrik Dodol, sengaja atau tidak, adalah bukti signifikansi scoring: bagaimana musik pengiring adegan-adegan dalam film menjadi bagian dari pembentukan tokoh dan narasi cerita.

Pabrik Dodol | 2009 | Sutradara: Ari Rusyadi | Negara: Indonesia

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend