Norwegian Wood: Antara yang Verbal dan yang Visual

norwegian-wood_hlgh

“I once had a girl, or should I say, she once had me. Isn’t it good, Norwegian wood?” Begitulah bunyi salah satu balada The Beatles, yang juga menjadi judul dari novel terlaris Haruki Murakami. Sama seperti lagu yang menginspirasinya, novel Norwegian Wood bercerita tentang ambiguitas suatu relasi antara laki-laki dan perempuan. Latar ceritanya adalah Jepang tahun 1960an, ketika suara paling lantang terdengar adalah tuntutan perubahan. Protagonis ceritanya adalah Toru Watanabe, seorang laki-laki pasif yang mengklaim dirinya biasa saja, dan berharap segalanya akan tetap sama. Seperti protagonis novel Murakami lainnya, Toru memilih untuk mengabaikan lingkungan sekitarnya, dan menyelami semesta sentimentilnya yang dihuni dua perempuan kesayangannya: Naoko dan Midori. Dalam 300an halaman, Murakami secara puitis mengkronologikan kisah Toru terombang-ambing antara dua perempuan tersebut, yang berujung pada sekumpulan ingatan dan sebuah lagu untuk membangkitkan ingatan-ingatan tersebut.

Ketika diberitakan akan mengadaptasi Norwegian Wood ke layar lebar, Tran Anh Hung menyatakan bahwa tugas terbesarnya adalah menegosiasikan yang verbal dengan yang visual. Tugas tersebut ia mulai dengan menulis naskahnya sendiri, yang disupervisi langsung oleh Murakami. Hung menerjemahkan setiap baris prosa Murakami menjadi sekumpulan catatan berbahasa Prancis, yang kemudian ia olah kembali menjadi rangkaian dialog berbahasa Inggris. Dialog-dialog tersebut kemudian Hung serahkan ke tim kerjanya untuk diterjemahkan ke bahasa Jepang. Ia minta setiap dialog bahasa Jepang untuk diucapkan langsung, supaya ia bisa memastikan dialog-dialog tersebut terdengar puitis, dan sesuai dengan emosi yang disiratkan oleh pola visual yang ia rencanakan. Berdasarkan cara pembuatannya, dapat dikatakan film Norwegian Wood merupakan tafsir pribadi Hung tentang novel Murakami.

Dalam novel, Murakami menyusun ceritanya dalam sebuah siklus pertemuan. Murakami secara bergantian mempertemukan Toru dengan Naoko dan Midori, di mana setiap pertemuan memiliki metafornya sendiri-sendiri. Metafor-metafor tersebut yang pada perkembangannya mendefinisikan masing-masing perempuan. Metafor Naoko adalah perjalanan kakinya dengan Toru, yang memposisikan Toru sebagai pendengar segala keluh kesah eksistensial Naoko. Metafor Midori adalah perubahan penampilannya, yang nantinya berkaitan dengan cerita-cerita kecil perihal pribadinya yang impulsif. Perubahan penampilan Midori mendorong Toru untuk memahami segala perubahan keinginan Midori. Kedua metafor tersebut pada perkembangannya membingkai Toru dalam suatu tugas moral, yakni sebagai pengamat dari kedua perempuan di hadapannya. Naoko dan Midori adalah dua entitas feminin yang terlihat eksotis di mata Toru, dan oleh karenanya harus dijaga dan dipertahankan. Tugas moral tersebut yang pada perkembangannya memberi makna pada setiap kehilangan yang Toru alami di Norwegian Wood.

Dalam adaptasi filmnya, Hung hanya mempertahankan metafor Naoko. Hung menjadikan perjalanan kaki dengan Toru sebagai modus utama pembentukan semua karakter yang berkaitan dengan semesta sentimentil protagonis. Naoko dan Midori selalu menyingkap informasi tentang dirinya ketika mereka sedang berjalan kaki bersama Toru. Begitu juga dengan Reiko, teman perempuan Naoko yang nantinya terlibat dalam hubungan Toru. Perjalanan kaki dengan Toru adalah satu-satunya ruang yang Hung buka sepanjang film untuk mengembangkan karakternya. Dalam ruang tersebut, Hung menjelaskan diri karakter-karakter yang terkait dengan sejarah sentimentil Toru, yang menjadi plot utama film. Selebihnya, Hung menyerahkan filmnya pada montase lanskap dan detail objek, yang dibingkai dalam motif warna yang progresif. Warna cerah menyeruak ke layar di setiap permulaan suatu fase dalam hubungan Toru, lalu memudar ketika fase tersebut mendekati puncaknya.

Kombinasi metafor dan motif warna yang Hung terapkan secara efektif mensubstitusi prosa Murakami dalam novel. Pada kombinasi keduanya, Hung menyandarkan kekuatan puitis filmnya, yang dalam novel terwujud lewat prosa Murakami yang menyelam masuk ke dalam pikiran Toru. Secara naratif, permainan warna Hung sukses mengkronologikan perkembangan tugas moral yang Toru emban sepanjang film, dan memberi makna pada setiap kehilangan yang Toru alami. Harapan adalah warna cerah yang hanya terjadi di setiap awal suatu fase hubungan. Warna cerah tersebut yang kemudian hilang dari layar, seiring dengan makin intimnya fase hubungan yang Toru jalani. Warna-warna cerah tersebut pun jadi terlihat kontras di antara dominasi warna-warna suram di mata penonton, dan secara puitis menjadi simbol dari kebahagiaan yang tidak akan pernah ia dapatkan dari hubungan-hubungannya.

Permasalahan dari interpretasi Hung adalah ia terlalu berkonsentrasi pada kualitas puitis, tapi melupakan pembangunan karakternya. Konsekuensinya: apa yang terlihat puitis di layar tidak diimbangi dengan apa yang terasa logis dalam rantai sebab-akibat ceritanya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Hung hanya membentuk karakternya dari adegan perjalanan kaki. Masalahnya, porsi adegan jalan kaki hanya menempati sekitar 20% sampai 25% dari keseluruhan film. Sisanya adalah eksplorasi perasaan dan harapan Toru.

Penyamarataan metafor yang Hung terapkan pada Naoko dan Midori membuat masing-masing perempuan tidak terlihat eksotis. Kedua perempuan tersebut malah jadi terlihat sama saja: sama rapuhnya dan mungkin sama egoisnya, karena keduanya tanpa alasan tertentu mengharapkan keberadaan Toru, sementara mereka sendiri terlihat bebas melakukan apa saja. Toru juga terlihat sama dangkalnya, karena sepanjang film ia terlihat seperti laki-laki yang berusaha cari keintiman belaka. Tidak ada penjelasan perihal keunikan apa yang ada dalam diri Naoko dan Midori yang menyentuh Toru sebegitu jauhnya. Tugas moral yang Toru emban pun menjadi terasa kosong, tidak beralasan, dan taken for granted. Kesannya: Toru menjaga Naoko dan Midori karena memang dari novelnya sudah begitu, bukan karena ada alasan tertentu yang mendasari relasi afektif mereka.

Di satu sisi, pertanyaan soal keterbatasan interpretasi Hung dapat dialamatkan pada medium yang ia gunakan. Dalam novel, Murakami punya kesempatan sebanyak 300 halaman lebih untuk tidak saja melukiskan gambaran besar dari cinta segitiga protagonisnya, tapi juga menggali lebih dalam ke dalam interior masing-masing karakter. Hung hanya punya waktu dua jam untuk mengkronologikan relasi Toru dengan dua perempuan kesayangannya, yang masing-masing punya keruwetan eksistensialnya sendiri.

Di sisi lain, Hung memang terlalu ekstrem dalam menyederhanakan karakter-karakter Norwegian Wood, dan seperti tidak melihat kemungkinan lain dalam membangun karakternya. Dia tidak berusaha untuk setidaknya memisahkan Naoko dan Midori berdasarkan keunikannya masing-masing. Padahal, pada dasarnya, metafor-metafor yang mendefinisikan masing-masing perempuan bisa diterjemahkan dalam medium audiovisual. Kenapa metafor milik Naoko akhirnya menjadi definisi bagi semua perempuan yang Toru hadapi? Keputusan Hung mungkin terlihat sepele, namun secara signifikan mempengaruhi keseluruhan film. Film Norwegian Wood jadinya hanya menangkap setengah dari esensi novelnya, yakni sebagai karya puitis, tapi tidak sebagai sebuah cerita.

Norwegian Wood | 2010 | Sutradara: Tran Anh Hung | Negara: Jepang | Pemain: Rinko Kikuchi, Kenichi Matsuyama, Kiko Mizuhara, Tetsuji Tamayama

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend