Submarine: Anakronisme Seorang Anak

submarine_highlight

Bila anda pernah membaca The Catcher In The Rye, Thus Spoke Zarathustra, King Lear, atau pernah punya keinginan bunuh diri karena gadis idaman, tontonlah film ini. Kebanyakan orang berpikir tentang dirinya sebagai individu, bahwa tak ada seorangpun di planet ini seperti dirinya. Pikiran ini mendorong mereka untuk turun dari tempat tidurnya, menyantap makanan, dan berkeliling seperti tak ada yang salah. Tindih suara (voice over) berisi paragraf di atas terdengar di sebuah kamar, sementara gambar bergerak berpusat ke seorang pemuda di tempat yang sama, di sebuah rumah, di Swansea. Kamera berhenti sejenak, jump cut, lalu si pemuda menyebutkan namanya: Oliver Tate. Pengenalan tokoh yang klise ini membuka Submarine, film perdana bikinan Richard Ayoade.

Bila anda menerka tokoh protagonis tadi seorang mahasiswa kutu buku yang menjadi objek olok-olok teman sebaya, Anda benar. Paling tidak separuhnya. Oliver Tate (Craig Roberts), sang protagonis, ialah anak berumur 15 tahun, tukang melamun, tak menghisap darah, dan sasaran bullying teman sekolahnya. Ibunya artis gagal karena lidahnya terlalu besar. Ayahnya peneliti biologi kelautan yang rutin menelan pil Doxepin—antidepresan. Lewat perspektif Oliver, bisa dibilang orang tuanya bukan sarang curahan hati yang tepat. Ibunya punya kecenderungan neurosis, dimungkinkan mengidap obsessive compulsive disorder, dan mengira anaknya menderita sindrom Cotard. Sedang Ayahnya tak bisa diajak mengobrol, kecuali oleh orang yang punya pengetahuan mendalam soal ikan.

Poin pembeda Submarine dengan film remaja lain terletak pada bahan bacaan anak ini. Shakespeare, Salinger, Nietzsche, dan Jung yang dibaca bocah 15 tahun ini, membuatnya memiliki kedewasaan pria berumur 20-sekian tahun. Dua ambisinya, kehilangan keperjakaan sebelum berumur 16 tahun dan memperbaiki hubungan percintaan orang tuanya, menjadi menjadi roda penggerak narasi Submarine.

Ambisi pertama memiliki target yang jelas ketika gadis idaman Oliver muncul. Jordana Bevan; gadis sebaya, tak terlampau populer, menggemari bullying dalam taraf sedang, dan pembenci hal berlabel romantis. Plus, pyromania (suka bermain api, dalam arti sebenarnya). Menurut pendapat Oliver, bisa saja Jordana juga seorang Fabian, anggota sebuah organisasi sosialis reformis Inggris. Berdasar asumsi itu, mengadopsi cara Fabian lantas menjadi modus operasi Oliver untuk menggaet Jordana, yakni mengubah prinsip etisnya, secara gradual beralih posisi dari korban menjadi kriminalis. Begitulah posisi Oliver menjadi setara dengan gadis pujaannya. Dalam konteks ini ucapan Alain Badiou mungkin benar, bahwa, “Pemikiran yang terilhami cinta merupakan pemikiran yang juga diciptakan untuk melawan semua perintah, melawan semua kuasa tertib hukum yang berlaku.”

Penggapaian ambisi kedua muncul dalam tingkat kesulitan yang berbeda. Seiring proses menggaet Jordana, Oliver harus memperbaiki hubungan antara ayah dan ibunya. Menguntit si Ibu, menginterogasi sang Ayah, hingga melontarkan pertanyaan klasik terkait relasi cinta-kasih, “Siapa yang kau selamatkan lebih dulu dalam sebuah kebakaran?” adalah cara Oliver. Situasi mulai rumit sejak Oliver menyangka ibunya terlibat perselingkuhan dengan seorang tetangga—seorang motivator yang juga cinta pertama ibunya. Seperti masalah duniawi lainnya, dua ambisi Oliver saling bersinggungan, salah satu harus dikorbankan pada titik tertentu, yang tak lain berujung pada pilihan.

Kelihaian Ayoade patut mendapat perhatian dalam film yang diadaptasi dari novel Joe Dunthorne ini. Ayoade menarik mundur latar cerita film cukup jauh, dari era Yahoo (dalam novel) ke zaman mesin ketik (dalam film). Bukan tanpa sebab, dengan logika ini Ayoade membuat alur Submarine melompat teratur berpatokan pada tindih suara dan catatan-catatan Oliver. Metode ini pun mampu menangkap kompleksitas karakter Oliver. Kecenderungan solipsisme Oliver yang hanya mempercayai pengetahuan yang ada dalam pikirannya pun tereksplorasi sepenuhnya. Ia menggemari objek-objek tekstual, satu ihwal pada diri Oliver yang menarik bagi Jordana. Tapi  kegemaran ini adalah sekaligus batu sandungannya: Olivier lebih mempercayai komunikasi via tulisan dibanding lisan. Di tangan Ayoade, semua kompleksitas ini mendapat porsi sepadan.

Berpatokan dari kecenderungan tadi, alur pikir Oliverlah yang menjadi jangkar Submarine. Dalam pikiran Oliver, sosok Ayah, Ibu dan Jordana mengorbit di lingkaran di luar dirinya sebagai pusat. Seperti pola “sasaran tembak”. Cara pandang ini membuat Oliver menjaga jarak antarlintasan, antara dia dan tiga yang lain, agar bisa memahami mereka. Ayodae menggarisbawahi problem sesat pikir Oliver sebagai konflik utama Submarine. Bisa dinalar bila resolusi muncul saat alur pikir Oliver berubah dari pola “sasaran tembak” ke skema “obat nyamuk”—sebuah titik tolak pendewasaannya. Saat ia berpikir bahwa lingkaran-lingkaran itu saling terkait. Tatkala ia sadar ketiga orang itu bergerak menuju dirinya dalam satu jalur; keterbukaan komunikasi. Pola ini menjadi basis narasi Submarine yang Ayoade tampilkan dalam dua babak plus prolog dan epilog.

Kesadaran atas lingkaran yang berpusat menuju dirinya menjadi penanda konklusi film ini. Dimulai dengan pembicaraan singkat antara Oliver dan orang tuanya. Bahwa segala pengalamannya tak akan terlalu signifikan bilamana dia berumur 38 tahun. Diikuti refleksi atas dirinya di pantai pada epilog. Tepat di saat dia merasa di dalam dirinya ada Oliver-kuno berukuran kecil (dengan timbunan pengalaman) yang menggerakkan Oliver sesungguhnya. Saat ia mengubur prekositasnya dalam-dalam dan kembali menjadi Oliver-15-tahun. Memupus semua anakronisme—penempatan kejadian yang tidak sesuai menurut waktunya. Kemudian meletakkan peristiwa kesejarahan dalam hidupnya ke kedudukan yang lebih tepat, sebagai seorang bocah.

Sebagai debut, Richard Ayoade berhasil membuat film komedi yang dari novelnya saja sudah lucu. Personil serial komedi situasi IT Crowds ini agaknya mafhum akan watak komedi. Guyonan teks naratif dalam novel, yang cenderung kering dan penuh subteks, diterjemahkannya dalam dua bentuk beriringan. Aksi plus narasi Oliver Tate. Di sinilah letak kelihaian translasi berlangsung. Nampaknya Ayoade sukses mengeksploitasi keunggulan ekspresi ‘mimik minimal efek optimal’ milik Craig Roberts. Kekonstanan penuturan dalam teks naratif pun bisa dipupus oleh metode pengambilan gambar juru kamera. Ayoade beruntung karena sang juru kamera, Erik Wilson, lihai mengakali hal ini. Bisa dilihat dalam beberapa adegan pengambilan gambar berkolaborasi dengan narator membentuk komedi satire. Format macam ini bisa dijumpai  dalam komedi-narasi-aksi Rowan Atkinson bersama Angus Deayton.

Film ini cukup unik untuk atmosfer seorang anak berumur 15 tahun. Namun selebihnya hanya kisah cinta yang lumrah: cowok bertemu cewek, cowok “jalan” dengan cewek, cowok berpisah dengan cewek—anda bisa tebak akhirnya. Tetapi tetap saja film debutan Ayoade ini pantas ditonton. Dalihnya klise: “Dalam tubuh setiap lelaki dewasa terdapat seorang bocah kanak-kanak yang terjebak dalam dirinya.”

Submarine | 2010 | Sutradara: Richard Ayoade | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Pemain: Noah Taylor, Paddy Considine, Craig Roberts, Yasmin Paige, Sally Hawkins, Darren Evans

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (14)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend