Enter the Void: Moralitas, dalam 24 Frame per Detik

enter-the-void_highlight

Ingat videoklip Smack My Bitch Up karya Prodigy? Video tersebut mengajak penonton mengambil sudut pandang orang pertama seseorang yang kita tidak kenal. Sejak adegan pertama, penonton disuguhkan adegan sehari-hari karakter tak bernama tersebut: gosok gigi, cukur bulu, buang air besar, ganti pakaian, dan menghisap marijuana. Adegan-adegan tersebut langsung mengajukan dua pertanyaan ke penonton: siapa orang ini, dan apa yang akan terjadi padanya. Adegan-adegan berikutnya adalah sekuens surreal, yang mengisahkan kehidupan malam karakter tersebut. Terlihat dia masuk ke sebuah klab malam, menenggak minuman, menghisap marijuana (lagi), membuat onar, dan menganggu perempuan sana-sini. Pada akhirnya, dia sukses menggaet satu perempuan dan membawanya pulang ke rumah. Mereka bercinta, lalu si perempuan pergi. Karakter kita yang tak bernama itu kemudian menghadap ke sebuah cermin. Pada titik ini, penonton baru tahu bahwa semua adegan tadi dilihat dari sudut pandang seorang perempuan.

Menonton Enter the Void sama sensasinya dengan menonton Smack My Bitch Up. Film terbaru Gaspar Noe tersebut juga berwujud perjalanan subyektif suatu karakter, dan memposisikan penonton sebagai pengintip dari sebuah dunia yang tak diketahui. Hasilnya juga sama: perjalanan lintas dimensi dengan bius sinematik. Dunia yang penonton intip adalah kehidupan malam Jepang, di mana seolah-olah setiap laki-laki adalah pemakai narkotika, dan setiap perempuan adalah penari telanjang. Lubang intip yang penonton pakai adalah mata Oscar, seorang pemuda Amerika yang sayang betul dengan adik perempuannya, Linda. Sejak awal film, penonton diposisikan dalam diri Oscar. Penonton melihat apa yang Oscar lihat, lengkap dengan kedipan mata dan halusinasinya saat mengkonsumsi narkotika. Dalam sebuah transaksi narkotika, Oscar ditembak mati polisi. Ia menjadi arwah penasaran dan melayang-layang di langit kota Tokyo. Dalam kondisi nonmaterial tersebut, Oscar menembus sekat ruang dan waktu untuk mengawasi adik kesayangannya, mulai dari kehidupan mereka bersama sejak kecil, hingga kehidupan si adik paska kematian kakaknya. Dengan sudut pandang orang pertama yang Noe terapkan, perjalanan Oscar jadi tidak sekadar perjalanan sebuah hantu menembus batas dimensi, tapi juga petualangan pandangan mata yang hanya bisa dimungkinkan oleh kamera film.

Perjalanan pandangan mata Oscar membawa penonton berpetualang dalam dua level. Level pertama adalah romansa, di mana konteks yang berlaku adalah atraksi antara laki-laki dan perempuan. Tentu saja, atraksi tersebut terjadi dalam lingkup keluarga, di mana ikatan darah dan tragedi bersama menjadi faktor perekatnya. Kematian Oscar membawanya kembali mengunjungi momen-momen kehidupannya. Pada sekuens ini, penonton baru mengetahui bahwa Oscar dan Linda sangat akrab sebagai kakak adik. Keduanya berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain, dan mengikat perjanjian tersebut dengan darah. Kemudian, terjadilah kecelakaan mobil. Orang tua mereka meninggal, dan keduanya terpisah akibat pengaturan hak asuh dari pengadilan. Mereka baru bertemu lagi di Tokyo, ketika Oscar mampu mengumpulkan cukup uang untuk membelikan Linda tiket pesawat. Sayangnya, usaha Oscar untuk mengumpulkan uang, yakni dengan menjual narkotika, malah menjadi sebab kematian Oscar, yang kali ini memisahkan kakak adik tersebut selamanya. Berdasarkan informasi latar belakang mereka, pandangan mata Oscar mengawasi Linda terlihat menjadi kegiatan yang sangat afektif. Oscar tidak tega meninggalkan adiknya sendiri. Walau sudah jadi arwah, dia tetap mendekatkan dirinya pada Linda, hanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja, dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.

Level berikutnya adalah pornografi. Pada level ini, relasi Oscar dan Linda menjadi lebih dari sekadar kakak-adik, dan terlihat seperti incest. Seperti yang sudah dijelaskan, sejak menjadi arwah, Oscar dapat menembus ruang dan waktu. Oscar dapat mengunjungi kembali momen-momen dalam sejarah hidupnya, dan mengintip momen-momen yang sedang terjadi dalam sejarah hidup orang lain. Kemampuan ini Oscar gunakan untuk menembus batas-batas pribadi kehidupan Linda, dan melakukan apa yang selama ini dilarang oleh status mereka sebagai kakak-adik. Oscar dapat melihat Linda buka baju dan telanjang di kamarnya sendiri. Oscar dapat melihat Linda berhubungan intim dengan bosnya di tempat kerjanya. Puncaknya, Oscar dapat masuk ke tubuh seorang laki-laki, dan merasakan dirinya berhubungan intim dengan adiknya sendiri.

Isu yang ingin digarisbawahi oleh penjabaran di atas adalah moralitas. Namun, moralitas yang dimaksud tidak berhubungan dengan moralitas kehidupan malam yang tampil di layar. Bukan juga moralitas hubungan intim antara kakak adik. Moralitas yang dimaksud adalah moralitas dalam kegiatan menonton film, yang dianalogikan dalam Enter the Void dengan kegiatan mengintip. Menonton film pada dasarnya sejajar dengan mengintip. Melalui layar persegi panjang, penonton melihat sebagian kecil dari suatu dunia imajiner di balik layar. Penonton melakukan ini tanpa sepengetahuan orang-orang dalam dunia tersebut, persis sepeti arwah Oscar yang mengintip Linda berhubungan intim. Melalui gerakan dan posisi pengambilan kamera yang tak terbatas, penonton dapat melihat obyek intipannya dari berbagai sudut dan mendapat kepuasan darinya. Lagi-lagi persis seperti Oscar, terutama saat dia menyetubuhi adiknya sendiri. Faktor yang mendasari kegiatan mengintip melalui sinema adalah atraksi, antara penonton dan tontonannya. Pada perkembangannya, atraksi tersebut menjadi langkah pertama penonton dalam melanggar moralitas kehidupannya sehari-hari. Tanpa disadari dirinya sendiri, setiap penonton film adalah pengintip yang ulung. Penonton tidak menyadarinya, karena mereka sudah keburu terbius dalam tontonannya. Sama seperti Oscar, yang terlalu sayang dengan objek intipannya.

Berdasarkan penjabaran di atas, prestasi terbesar Gaspar Noe dalam Enter the Void bukanlah pencapaian teknisnya. Cara Noe bercerita melalui mata Oscar memang patut diacungi jempol. Koreografi kamera yang kompleks secara efektif menaruh penonton di posisi Oscar, terutama saat kamera mulai naik ke udara dan menyorot segala kejadian dari atas. Sekuens adegan yang Noe susun juga mengundang decak kagum. Nyaris tanpa putus Noe menyusun perpindahan arwah Oscar dari ruang ke ruang dan waktu ke waktu. Sensasinya memang seperti sedang menjadi hantu yang bebas ke sana ke mari. Namun, di atas semua pencapaian teknis tersebut, Noe sukses membedah filosofi dari kegiatan menonton film, dan menjadikan penonton bagian dari pengalaman tersebut. Bukan itu memang tujuan Noe di Enter the Void. Tujuan aslinya adalah menggambarkan kehidupan pasca kematian, yang Noe sadur dari Tibetan Book of the Dead, melalui medium film. Namun, siapa sangka, film Noe malah sukses mendedah sebuah konsep dalam film, yang kerap sulit terjelaskan dalam ceramah panjang sekalipun. Noe tidak perlu ceramah panjang soal teori dan filsafat film. Dia cukup mengundang penonton masuk ke kepala Oscar, dan membius penonton dalam sebuah cerita melodrama psikedelik.

Enter the Void | 2010 | Sutradara: Gaspar Noe | Negara: Prancis | Pemain: Nathaniel Brown, Paz de la Huerta, Cyril Roy

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend