Breathless: Yang Muda Yang Bicara

 

breathless-muda_hlghFilm pertama Jean-Luc Godard masih terlihat inovatif meski sudah berumur 40 tahun lebih. Cerita Breathless sendiri tak lebih dari kisah pelarian buronan: Michael Poiccard membunuh seorang polisi, lalu mencoba kabur dengan seorang gadis Amerika, Patricia Franchini, ke Italia. Cerita yang standar, mirip film-film kriminal Hollywood. Lantas apa yang membuat Breathless begitu tersohor?

Jump cut, atau pemotongan gambar di tengah adegan secara tiba-tiba. Godard merupakan sutradara pertama yang menggunakan teknik tersebut secara eksesif. Namun, ironisnya, jump cut yang dipraktekkan Godard adalah produk dari keterpaksaan saat paska-produksi. Breathless sebenarnya merupakan pengembangan Godard dari ide cerita milik Francois Truffaut. Tak dinyana, improvisasi Godard malah menghasilkan film sepanjang dua jam. Pada saat itu di Perancis, untuk dianggap produk komersil, film tidak boleh lebih panjang dari 90 menit. Daripada memotong satu adegan atau sekuens secara utuh, Godard memilih untuk merampingkan adegan-adegan filmnya. Bagian-bagian yang dianggap membosankan atau tidak penting langsung dipotong. Adegan-adegan yang dianggap penting dipadatkan hingga ke intinya saja: adegan orang menyeberang jalan hanya akan menampilkan orang di satu sisi jalan lalu tiba-tiba muncul di sisi jalan lainnya. Konsekuensinya: Breathless terlihat sangat rapat dan padat, tidak ada jeda bagi penonton untuk ‘bernafas’.

Tekstur visual Breathless yang unik tersebut menjadi semacam penyegaran di industri film Prancis. Saat itu, di akhir 50an dan awal 60an, bioskop-bioskop Prancis didominasi oleh film-film narasi klasik, atau apa yang disebut François Truffaut “sinema orang tua” (cinéma de papa). Situasi yang logis, mengingat Prancis baru saja terlibat Perang Dunia II. Kondisi paska perang menempatkan generasi tua di puncak struktur sosial Prancis. Akibatnya, banyak tradisi lama masyarakat Prancis sebelum perang yang dilanjutkan lagi seusai perang, tidak terkecuali dalam produksi film.

Bagi generasi muda, film-film milik generasi tua itu terlalu literer, baik dalam pemilihan tema maupun penuturan cerita. Komplain generasi muda tersebut tidaklah salah. Ambil contoh tahun 1955, lima tahun sebelum Breathless dirilis, penjualan tiket bioskop di Prancis didominasi oleh Napoleon (Sacha Guitry), Les Diaboliques (Clouzot) dan The Red and The Black (Autant-Lara). Sedangkan untuk tahun 1956 ada The Grand Maneuver (René Clair), The Silent World (Malle dan Cousteau) dan Si Paris nous était conté (Guitry). Keenam film itu bila dipilah masuk dalam tiga kategori: rekreasi sejarah, drama kostum dan adaptasi literatur klasik. Belum lagi gaya narasi film-film tersebut semuanya serupa: linear dan sangat mendikte penonton.

Bagi Godard dan angkatan mudanya, tema dan teknik narasi seperti itu sudah sepantasnya diganti karena sangat tertinggal untuk jamannya. Alasannya sederhana, populasi Prancis saat itu banyak berkonsentrasi di kelompok umur 18 hingga 30 tahun. Saat itulah, menurut Françoise Giroud dalam artikel La Nouvelle Vague: portraits de la jeunesse (The New Wave: Portraits of Youth), adalah zaman di mana “generasi muda akan menguasai Prancis, dan para orang tua akan pensiun, dengan anak-anak muda mempercepat pensiun tersebut.”  Gaya dan elemen film klasik sudah sepantasnya dikubur bersama masa lalu. Generasi tua sudah lewat masanya, giliran yang muda yang bicara.

Lewat Breathless, Jean-Luc Godard turut membantu suksesi generasi tersebut. Tanda-tanda suksesi sudah terlihat dari pemilihan temanya: kriminal, sesuatu yang lebih dekat (atau lebih dimengerti) generasi muda. Dalam pembuatan Breathless, Godard juga menjadi ‘kriminal’, dalam arti ia bergerak di luar sistem klasik produksi film di Prancis. Dengan memproduksi filmnya secara independen, Godard berharap dapat menciptakan suatu bentuk seni yang murni. Godard banyak terinspirasi oleh Charlie Chaplin, Alfred Hitchcock, Orson Welles, Howard Hawks, John Ford dan puluhan sutradara film B, yang dimana film-film mereka seringkali secara estetis melawan standar film-film Hollywood.

Masalahnya, untuk menjalankan rencananya, Godard butuh produser yang berani ambil risiko dengan uangnya. Nasib pun mempertemukan Godard dengan Georges de Beauregard. Produser yang satu ini sebenarnya bisa dibilang tidak ideal untuk seniman seperti Godard. Katalog produksi de Beauregard di Prancis saat itu terdiri dari tiga film: Passe du diable (Devil’s Pass), Ramuntcho, dan Pêcheurs d’Islande (Iceland Fishermen). Ketiganya film narasi klasik, berwarna, dan diproses oleh Dyaliscope untuk ekshibisi layar lebar; sangat jauh dari gaya yang Godard coba kejar. Namun, entah bagaimana caranya, Godard berhasil meyakinkan de Beauregard untuk menyetujui ide cerita kriminal milik Truffaut. De Beauregard pun membiayai proyek Godard dengan bujet sebesar $80.000. Bila dibandingkan dengan rata-rata biaya produksi film di Prancis saat itu, tahun 1959, dana yang ditawarkan de Beauregard sangatlah kecil. Menurut catatan statistik, normalnya diperlukan sekitar $300.000 untuk membuat film di Prancis tahun 1959.

Bujet minim itulah yang membuat Breathless istimewa. Godard benar-benar harus kreatif dalam produksi filmnya agar tidak melebihi dana yang ditetapkan. Oleh karena itu, Godard memilih untuk kerja spartan selama empat minggu, dari 17 Agustus hingga 15 September 1959, demi menyelesaikan filmnya. Kamera yang digunakan adalah kamera genggam (handheld) dengan seluloid hitam putih. Alasannya sederhana: untuk mengurangi biaya operasional. Keterbatasan teknis seperti ketiadaan dolly (rel untuk menggerakkan kamera) diakali dengan menaruh kamera di trolli untuk menciptakan efek yang sama. Syuting pun dilakukan di luar ruangan untuk, lagi-lagi, mengurangi biaya.

Langkah paling ekstrem yang diambil Godard terjadi saat penggarapan naskah cerita, karena Godard tidak memiliki naskah yang tetap! Menurut catatan produksi Godard: “[Breathless] dimulai begini: saya menulis adegan pertama [Jean Seberg di Champs Elysees] dan untuk sisanya saya punya setumpuk catatan untuk setiap adegan. Saya bilang ke diri saya, ini buruk, dan saya pun berhenti menulis. Lalu saya pikir: dalam satu hari… orang seharusnya bisa menyelesaikan selusin adegan. Daripada merencanakan sejak awal, saya pikirkan nanti saja di menit terakhir!” (Milne, 1972: 172) Tindakan ini bukan untuk menghemat biaya, tapi demi tercapainya kemurnian artistik yang diharapkan Godard. Dengan improvisasi dan dialog spontan, karakter akan terlihat hidup ketimbang hanya menghafalkan dialog dari skrip .

Lalu bagaimana penerimaan dunia film terhadap Breathless? Statistik mencatat 259.046 tiket terjual di Paris dan 121.874 lainnya di kota-kota besar lainnya di Prancis. Para kritikus memuji film debutan tersebut setinggi langit, memastikan nama Godard tercetak tebal di catatan sejarah. Kesuksesan Godard membuka jalan bagi pembuat film lainnya untuk melakukan hal yang serupa: mencoba kemungkinan-kemungkinan baru dalam membuat film. Mungkin tidak akan ada lagi film yang mampu melanggar batas konvensi film seefektif dan sefonemenal Breathless.

Referensi

Milne, Tom (terj.), Godard on Godard. London: Secker and Warburg, 1972.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share
Send this to a friend