Yours Truly: Ketika Ekspresi Mendahului Eksistensi

yours-truly_highlight

Pada tanggal 28 Februari 2011, sebuah film pendek berjudul Yours Truly dirilis online. Film tersebut adalah debut penyutradaraan Ian Salim dan Elvira Kusno, sepasang suami istri yang sehari-harinya bekerja sebagai wedding videographer.

Yours Truly berkisah tentang seorang lelaki kikuk bernama Todi. Dia begitu pemalu sehingga dia lebih sering bicara sendiri ke perekam suara, ketimbang dengan sesama manusia. Pekerjaannya sehari-hari adalah mengantarkan bunga. Namun, Todi bukanlah pengantar bunga biasa. Dia juga mengantarkan pesan yang dititipkan kliennya, baik dalam bentuk nyanyian, tarian, maupun rayuan verbal. Profesinya tersebut membawa Todi keliling dari apartemen ke apartemen, menyampaikan bunga dan pesan untuk seorang perempuan ke perempuan lainnya. Pada titik ini, kita bisa berasumsi kalau semua klien Todi adalah laki-laki, yang sepanjang film tidak satu pun terlihat di layar. Mungkin mereka juga sama pemalunya dengan Todi.

Dari sejumlah perempuan yang ia temui, Todi tertarik dengan Kayla. Todi cukup sering bertemu dengannya, mengingat Kayla sering dikirimi bunga dan pesan. Pada suatu hari, mereka akhirnya berkenalan. Jabatan tangan kemudian berlanjut ke jalinan persahabatan. Mereka beberapa kali jalan bersama, dan menghabiskan waktu berdua. Sayangnya, menurut Todi, hubungan mereka tidaklah impas. Kayla bisa mengoceh berjam-jam, tanpa memberi kesempatan sedetikpun bagi Todi untuk bicara. Todi jadi tidak punya kesempatan untuk menuturkan perasaan yang tak lagi dapat ditahan, dan ia terlalu pemalu untuk sekedar menyela Kayla. Jadilah, niat berkata-kata ia wujudkan via medium favoritnya: perekam suara. Kayla pun merespon. Masalahnya, respons Kayla jauh di luar dugaan Todi. Ternyata ia bukan perempuan baik-baik seperti yang Todi bayangkan.

Satu hal yang mencolok dari Yours Truly adalah relasi karakter di dalamnya. Setiap karakter begitu terkungkung dalam dirinya sendiri, sehingga hubungan yang seimbang hampir tak mungkin terjadi. Kecuali Kayla, tidak ada yang benar-benar berkomunikasi langsung. Tidak ada juga komunikasi dua arah. Segala bentuk komunikasi selalu terjadi via suatu media, yang tidak mengijinkan adanya timbal balik. Konsekuensinya: semua karakter seperti tidak punya tujuan apa-apa, kecuali mengekspresikan dirinya sendiri. Dalam Yours Truly, ekspresi sejatinya mendahului eksistensi. Selama kamu bisa bicara, kamu akan tetap dianggap ada, bagaimanapun caranya.

Dunia yang Yours Truly tampilkan kian memenjarakan para kerakternya dalam dirinya sendiri. Melalui rangkaian visualnya, Yours Truly mengimajinasikan sebuah dunia yang steril. Setiap adegan dalam film membingkai maksimal dua karakter. Alhasil, adegan-adegan dalam film dapat dikelompokkan berdasarkan empat kategori: adegan Todi sendiri, adegan Todi bersama perempuan sasaran kliennya, adegan Todi bersama Kayla, dan adegan Kayla sendiri. Satu-satunya adegan yang tidak termasuk dalam keempat kategori tersebut, yakni adegan Todi dengan teman kantornya, juga hanya membingkai dua orang. Bahkan ketika berada di luar ruangan, kamera hanya menyorot protagonis, sendirian mengendarai motor di siang yang terik.

Berdasarkan apa yang disajikan, Yours Truly sesungguhnya merupakan karya yang punya kedalaman. Di permukaan, ada kisah sederhana tentang seorang laki-laki yang kesulitan berkomunikasi, dan sebagai konsekuensinya kesulitan menuturkan perasaannya ke perempuan idamannya. Di balik permukaan tersebut, tersirat sebuah dunia di mana hampir semua manusia tak perlu lagi tatap muka untuk bicara dengan sesamanya. Setiap orang bisa memakai semacam identitas palsu untuk menyampaikan keinginannya. Lihat saja bagaimana perasaan para laki-laki disampaikan via seorang pengantar bunga, atau Todi yang hanya bisa mengutarakan pendapatnya via perekam suara. Di jaman Internet, di mana seseorang bisa menjalani sejumlah identitas berbeda via jejaring sosial, bukankah kita juga melakukan apa yang dilakukan para karakter dalam Yours Truly?

Permasalahan Yours Truly ada pada teknik penuturannya. Dari pertengahan hingga klimaks cerita, film terlalu disetir oleh narasi suara protagonis. Narasi suara tersebut memang masih konsisten dalam konteks karakter Todi, tapi bertabrakan dengan visual film yang sejatinya sudah bercerita. Kita sudah bisa paham akan kecanggungan Todi dari apa yang kita lihat. Selama narasi suara Todi berkumandang, ada rangkaian gambar yang menunjukkan Todi duduk berhadap-hadapan dengan Kayla, kaki Todi gemetaran, dan Todi bicara sendiri ke perekam suara. Rangkaian gambar tersebut sudah cukup menjelaskan kalau Todi sedang jatuh cinta, namun kesulitan mengutarakan perasaannya. Topik yang sama diceritakan oleh narasi suara protagonis. Akibatnya, dalam beberapa bagian, Yours Truly jadi terlalu cerewet dan tidak efektif. Film tersebut seharusnya bisa lebih ramping lagi.

Penggunaan kilas balik di akhir film juga mengganggu. Dalam kerangka cerita film, kilas balik tersebut seperti punya dua tujuan, yakni untuk memberi dimensi tambahan ke karakter Kayla, dan untuk menjelaskan motivasi di balik respons Kayla ke Todi. Menjadi mengganggu karena kilas balik tersebut melabrak benang merah yang sejak awal menyatukan film: perspektif Todi. Sejak adegan pertama, apa yang penonton lihat adalah apa yang Todi lihat. Kilas balik di akhir film tiba-tiba lepas dari perspektif Todi, dan berpindah ke perspektif Kayla. Dalam kerangka cerita dengan perspektif orang ketiga, kilas balik tersebut akan terasa logis. Masalahnya, kerangka cerita Yours Truly begitu ketat pada perspektif protagonis. Kilas balik dalam perspektif karakter lain jadi terasa seperti jalan pintas yang ditempuh pembuat film untuk menyelesaikan cerita.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Yours Truly tetaplah film yang menarik untuk disimak. Untuk sebuah film debut, Yours Truly menampilkan kematangan eksekusi tersendiri. Menarik untuk melihat kiprah Ian Salim dan Elvira Kusno ke depannya.

Yours Truly | 2011 | Durasi: 16 menit | Sutradara: Ian Salim, Elvira Kusno | Produksi: Cine et Cetera Negara: Indonesia | Pemeran: Todi Pandapotan, Kyla Pisita White, Cecep Reza, Nonie Alexandra Eve

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend