Teman Tapi Menikah: Romantis Tanpa Bikin Diabetes

Ayu (Vanesha Prescilla) dan Ditto (Adipati Dolken) bersahabat sejak SMP. Ayu adalah artis sinetron, Ditto penggemarnya sedari kecil. Ditto diam-diam suka, tapi namanya juga diam-diam, perasaan itu tak pernah benar-benar ia ungkapkan. Melalui sudut pandang Ditto, Teman Tapi Menikah bercerita bagaimana ia sedari dulu berupaya menjadi pribadi yang pantas untuk Ayu.

Tak ada masalah yang berarti sepanjang film. Ayu beberapa kali berpacaran dengan orang lain, yang lantas mebuat Ditto cemburu. Namun, cemburu Ditto bukan yang bikin dia mellow atau memutuskan untuk mengajak ribut pacar Ayu. Ditto cuek saja, sambil tetap menemani Ayu setiap saat ia membutuhkan.

Walaupun cuek, Ditto seingin itu menyaingi Darma (Rendi Jhon), pacar Ayu, sampai-sampai ia mau ikut-ikutan beli mobil. Dengan hasil tabungannya sebagai pemain perkusi, Ditto akhirnya berhasil membeli kendaraan pribadi. Film dengan seksama memperlihatkan bagaimana walaupun Ditto baru bisa membeli vespa, ia memastikan dirinya tidak kalah saing dengan membeli warna yang sama: merah mentereng.

Melalui plotnya yang adem ayem saja, Teman Tapi Menikah justru jadi menonjol. Film tak memaksakan kehendak untuk berkutat pada konflik-konflik besar, tetapi memfokuskan dirinya untuk menajamkan hal-hal kecil.

Pendewasaan karakter

Berbeda dengan film-film roman remaja lainnya, Teman Tapi Menikah percaya pada proses. Pendewasaan tokoh-tokoh cerita tidak berlangsung secara serta-merta. Ada kesadaran tersendiri dari pembuat film terhadap proses hidup yang membentuk tokoh-tokoh cerita, khususnya pergulatan finansial yang harus dilalui protagonis untuk sekadar menjadi romantis.

Interior rumah dan gaya berpakaian Ditto dan Ayu yang fancy menunjukkan bahwa keduanya dilahirkan dari keluarga yang berada. Maka dari itu, menarik bagaimana orang tua Ditto menyikapi permintaan Ditto untuk memiliki mobil pribadi: “Kayaknya akan lebih efisien kalau kamu beli sendiri deh,” ujar ayah Ditto. Ayu pun mendukung ide tersebut dan menganjurkan Ditto untuk mencari uang dengan melakukan hal yang ia sukai: main perkusi. Film sesungguhnya belum lepas dari kenaifannya memercayai bahwa setiap jenis hobi bisa dimanfaatkan menjadi sumber penghasilan. Namun, setidaknya ia tidak menutup mata pada kenyataan bahwa uang tidak muncul begitu saja.

Melalui adegan ini, Ditto diberi pemahaman bahwa menjadi romantis pun butuh usaha dan modal. Film menampilkan sesuatu yang jarang diperlihatkan oleh film-film romantis lainnya: pergulatan ekonomi untuk membuat senang pasangan. Berbeda, misalnya, dengan film Eiffel I’m in Love 2, ketika Adit menghias kamar Tita dengan ratusan boneka hewan. Sifat hedonistik itu tidak dibarengi dengan memperlihatkan usaha Adit membeli boneka-boneka itu. Lagipula, Adit yang katanya mau menabung untuk beli apartemen kok malah menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tersier?

Tak hanya itu, ketika akhirnya Ditto berhasil membeli mobil dengan penghasilannya sendiri, alih-alih kagum pada aset baru Ditto, Ayu malah lebih kagum pada proses Ditto menjadi pribadi yang mandiri. Ayu nyatanya bangga terhadap kemajuan Ditto, bukan karena ia menerima sesuatu darinya.

Proses pendewasaan Ayu dan Ditto juga tidak terbatas pada bagaimana mereka mengelola diri sendiri, tetapi juga bagaimana mereka memperlakukan karakter lainnya. Selama masa SMA, Ayu punya satu pacar yang bernama Darma. Sementara Ditto punya pengalaman dua kali pacaran, yaitu dengan Mili (Beby Tsabina) dan Aca (Diandra Agatha). Masing-masing hubungan tidak berjalan dengan baik. Ayu diselingkuhi pacarnya, Ditto terlalu cuek dan lebih menaruh perhatian terhadap Ayu. Ketika berkuliah, Ayu punya pacar bernama Rifnu (Refal Hady), sementara Ditto berpacaran dengan Dila (Denira Wiraguna). Menariknya, hubungan mereka dengan masing-masing pasangan selama masa perkuliahan juga menjadi lebih dewasa.

Teman Tapi Menikah memerhatikan bagaimana semakin bertambah umur, maka perilaku karakter pun juga ikut berproses. Wajah Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla bisa jadi tidak bertambah tua, tetapi lain hal dengan pribadinya. Jika saat SMA Ditto berpacaran hanya untuk membuat Ayu cemburu dan tidak benar-benar peduli dengan pacarnya, berbeda halnya ketika Ditto berpacaran dengan Dila—pacarnya saat kuliah. Ditto punya perhatian khusus terhadap Dila. Ia tak lagi memperlakukan pacarnya sebagai medium untuk cari perhatian ke Ayu. Ia mendengarkan apa yang Dila ucapkan dengan tulus, memperhatikan tingkah lakunya, dan menghibur dirinya yang bete makan batagor di pinggir jalan.

Menariknya, tokoh-tokoh sampingan film juga punya proses pendewasaannya tersendiri. Jika saat SMA Ayu mendapat pacar gemar selingkuh, pada masa kuliah Ayu mendapatkan pacar yang begitu dewasa dan sabar. Rifnu paham benar seberapa dekat Ayu dan Ditto, hingga merasa bahwa ia selama ini bukan cuma pacaran dengan Ayu, tapi juga dengan Ditto. Walaupun begitu, Rifnu tak langsung cemburu dan marah pada Ayu. Rifnu malah memilih untuk sabar, bahkan siap jika mereka harus membicarakan Ditto sampai tua.

Transisi ini lagi-lagi menunjukkan kepekaan pembuat film dalam membangun semesta cerita Teman Tapi Menikah. Sederhananya, watak anak SMA dan anak yang sudah berkuliah tidak bisa disamakan begitu saja. Gaya berpacaran pun bisa jadi sangat berbeda. Jika anak SMA berpacaran secara santai tanpa ada pikiran serius untuk naik ke jenjang pernikahan, maka ketika kuliah visi itu bisa berubah. Pacar bisa jadi adalah kandidat pasangan hidup, sehingga perlakuan pun juga jadi lebih serius.

Maka dari itu, jika dibandingkan dengan Eiffel I’m in Love 2, Teman Tapi Menikah malah terlihat lebih bijak dalam memperlakukan karakter-karakternya. Selain masalah finansial, Eiffel I’m in Love 2 juga bermasalah karena sifat tokoh-tokohnya tak banyak beranjak dari film pertama: cemburuan, gampang ngambek, ditambah suara Tita yang masih dibikin kekanak-kanakkan. Masalahnya, jarak umur mereka antara film pertama dan kedua adalah dua belas tahun. Mempertahankan sikap kekanak-kanakkan tanpa ditambah dengan aspek-aspek pendewasaan diri bukan membuat penonton bernostalgia, tetapi malah membuat film terlihat konyol.

Bercanda sampai jatuh cinta

Salah satu senjata pamungkas film adalah gurauan-gurauannya. Gurauan satu bisa jadi berhubungan dengan gurauan lainnya, dan fungsinya bukan sekadar membuat penonton ngakak: ia mengindikasikan level kedekatan Ayu dan Ditto, dua pribadi yang sebegitu nyambungnya hingga hanya bisa tertawa keras ketika ada satu sama lain.

Contohnya adalah dialog tentang Pak Mamat. Pada double date pertama antara Ayu-Darma dan Ditto-Aca, diperlihatkan tingkah laku Ayu dan Ditto yang heboh sendiri membicarakan sosok Pak Mamat: penjual makanan gerobak di depan sekolah yang soto ayamnya enak banget, hingga membuat pacar masing-masing merasa terkucilkan. Ketika double date kedua berlangsung—kini antara Ayu-Rifnu dan Ditto-Dila—dan nama Pak Mamat disebut-sebut lagi, film dengan cerdiknya tidak mengulang informasi mengenai siapa itu Pak Mamat, walau Rifnu minta diberi tahu. Pada akhirnya penonton jadi paham, walau berada dalam semesta guyonan internal Ayu dan Ditto, Rifnu dan Dila sama sekali tidak berperan di dalamnya.

Gurauan-gurauan lain seperti jempol kaki yang mesti dibedakin dan ketenaran seorang artis juga hanya bisa ditertawakan oleh Ayu dan Ditto, yang memang sudah paham konteksnya sedari awal. Akhirnya, kecocokan antara keduanya bukan dibangun oleh momen-momen mendadak seperti tidak sengaja bertemu di peron kereta, atau tidak sengaja menumpahkan kopi ke baju salah satu orang. Teman Tapi Menikah sudah membangun bagaimana kedua protagonis klop sedari awal, sehingga tak aneh ketika nantinya wacana hubungan-yang-lebih-serius digulirkan dalam cerita.

Tidak hanya itu, keromantisan antara mereka berdua tidak terasa kaku. Teman Tapi Menikah seperti sadar diri dengan tingkah laku romantis yang dibuat-buat khas remaja dan ikut menertawakannya—seperti ketika Ayu mengeluh ke Ditto karena Darma menyatakan perasaan dengan cara super cheesy: menyanyikan lagu romantis sambil bermain gitar. Teman Tapi Menikah tampak sengaja membuat cacat momen-momen romantisnya, seperti ketika Ditto menyatakan perasaannya yang selama ini terpendam kepada Ayu—yang ternyata ia kutip dari dialog sinetron yang Ayu perankan. Atau Ditto yang saking gugupnya melamar Ayu hingga kotak cincinnya terbalik, dan kemudian ogah berciuman karena geli berkontak fisik dengan sahabat sendiri.

Romantis akhirnya bukan sekadar candlelight dinner atau dilamar di depan Menara Eiffel sambil mengucap kata-kata manis. Romantis bagi Ayu dan Ditto adalah gurauan-gurauan konyol yang menghiasi percakapan mereka selagi duduk di pinggir jalan raya menikmati gemerlapnya Jakarta di malam hari, selagi Ditto menunggu Ayu selesai syuting, atau sekadar selagi Ayu dan Ditto mengerjakan tugas sekolah bersama.

Teman Tapi Menikah seperti mengingatkan kembali definisi dari kata romantis, yang bukan jadi manis karena hal-hal artifisial, tetapi karena momen-momen sederhana namun intim yang dialami keduanya. Ia memperlakukan cerita secara layak dengan memerhatikan salah satu aspek paling krusial di dalamnya: keutuhan narasi.

Teman Tapi Menikah | 2018 | Sutradara: Rako Prijanto | Penulis: Johanna Wattimena, Upi, Ayudia Bing Slamet, Muhammad Pradana Budiarto | Produksi: Falcon Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Adipati Dolken, Vanesha Prescilla, Cut Beby Tshabina, Denira Wiraguna, Diandra Agatha, Rendi John, Shara Virrisya, Sari Nila, Sarah Sechan, Iqbaal Ramadhan

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (15)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend