We Need to Talk About Kevin: Silangsunting Seorang Pribadi

we-need-to-talk-about-kevin_highlight

Dalam film laga, kita begitu akrab dengan pemandangan kejar mengejar antara dua karakter (atau lebih) sembari kamera mengambil gambar kedua karakter secara bergantian. Karakter pertama dikejar seseorang, karakter kedua mengejar karakter pertama. Entah mengapa, cara tutur seperti ini (apalagi ditimpali dentum rancak musik pengiring) hampir selalu berhasil membuat keram tengkuk penonton.

We Need to Talk About Kevin dibuka dengan konstruksi yang demikian meskipun sangat jelas bahwa film ini bukan film laga. Konstruksinya unik, bila biasanya silangsunting bekerja karena terdapat lebih dari satu ruang sementara waktu sudah sangat menjepit, maka Lynn Ramsay membalik motivasi silangsunting dalam film drama-psikologisnya ini: silangsunting justru bekerja karena ruang yang begitu sesak sementara waktu ruah begitu banyak. Dua ruang yang disilangkan ke hadapan kamera kemudian adalah trauma pribadi Eva, karakter utama, beserta  pemandangan material yang ada di sekitarnya.

Konstruksi yang demikian tentu saja bukan cuma gaya-gayaan. Eva mengalami kejadian teruk yang hingga kini masih mengguncang batinnya. Dari silangsunting antara ilusi personal dan pemandangan material yang berada di luar diri Eva, penonton kemudian digiring menuju kekaburan batas antara keduanya, orang-orang yang tadinya berada di luar ilusi Eva mulai bertingkah aneh. Seluruh dunia tiba-tiba mengawasinya. Kemanapun ia berjalan, tatapan selalu tertumbuk di jidatnya. Dalam kepala Eva, tatapan itu berbaur dengan ilusi yang tak pernah bisa ia sentuh apalagi gusur. Penonton dibuat tak bisa mengenali, mana yang ilusi, mana yang kenyataan, dan mana yang berada di antaranya. Ketika film mencapai durasi setengah jam, maka masing-masing penonton telah menjadi Eva yang tak bisa percaya dengan apa yang ia pandang. We Need to Talk About Kevin memasuki relung penonton dengan cara yang sangat licik, namun juga menarik.

Dalam sebuah adegan, orang-orang di sekitar Eva tiba-tiba memakai topeng dan menggedor pintu rumah Eva dengan brutal, lampu mati, bayangan gelap bergerak ke sana kemari. Dalam satu sudut pandang, kita bisa mengenali ini sebagai salah satu perwujudan trauma perempuan ini. Namun dalam sudut pandang yang lain, bagaimana jika malam itu adalah malam Helloween dan penyatron bertopeng ini hanyalah anak kecil yang mengemis kudapan? Belum kelar panik penonton, tembang rancak Everyday dari Buddy Holly tumpah menyeruaki ruangan. Ramsay bahkan menggunakan suara untuk memcampur-kaburkan onar yang baru saja ia perbuat. Sangat asyik meskipun Ramsay bukanlah orang pertama yang melakukannya. Harmony Korine pernah menggunakan lagu Everyday untuk menyempilkan ironi serupa dalam Gummo (1997), lagu riang ini mengumandang ketika kedua tokoh utama tengah menggorok kucing di perumahan mereka.

Cara penuturan yang demikian menjadi penting sebab Film panjang ketiga Lynn Ramsay ini berangkat dari titik awal yang berbeda dengan film-filmnya yang terdahulu. Dalam Ratcatcher (1999), misalnya, film dimulai pada dunia yang adem-ayem sampai suatu ketika si karakter utama menemukan masalah yang harus ia selesaikan di sepanjang film. Kurang lebih juga terjadi pada Morvern Callar (2002), film Ramsay yang kedua. Dalam We Need to Talk About Kevin, titik mulai peristiwa tidak menjadi awal film. Film tiba-tiba sudah berada di tengah kegalauan dan persilangan kosagambar memelantingkan asumsi penonton dengan buas .

Satu-satunya momen menenangkan dalam film adalah ketika frame tiba-tiba menjadi datar dan Eva terpojok dengan latar dinding berwarna cerah. Pembingkaian ini terjadi berulang-kali di sepanjang film dengan warna latar yang berbeda-beda. Seperti berusaha mengambil nafas ketika tenggelam, shot ini kadang dicukur dengan jump-cut dan kemudian memunculkan kembali gambar-gambar yang mengesankan ketertekanan.

Tak seperti Ratcatcher atau Morvern Callar, dalam We Need to Talk About Kevin, Ramsay justru “kembali” pada strategi bercerita yang ia pakai dalam film-film pendek pertmanya, seperti Kill the Day (1996) dan Small Death (1996). Dalam Small Death yang berdurasi kurang dari 20 menit, kita diperkenalkan pada tiga karakter perempuan yang berhadapan dengan kematian-kematian “kecil” di sekitarnya. Konflik terjalin lewat silangsunting ketat yang diperagakan antar semesta dan asumsi para karakter.

Lantas, apa/siapa sebenarnya Kevin? Lewat karakter Kevin, Lynn membalik hirarki hubungan antara anak dan orang tua sekaligus menebar ancaman pada “kasih-tak-bersyarat” seorang ibu pada anaknya.  Dengan memberi kucuran kasih tak terbatas, Eva ternyata tidak secara otomatis mendapat respon yang ia inginkan. Hirarki harmonis antara ibu dan anak kemudian goyah, dalam banyak perstiwa, terbolak-balik. Film ini adalah semacam serangan telak pada unsur yang selama ini disangka paling feminine-friendly: anak.

Meskipun tak diletakkan di awal seperti Ramsay meletakkan titik mula konflik dalam Ratcatcher dan Morvern Callar, hubungan korslet inilah yang sebenarnya menjadi titik berangkat semua peristiwa. Oleh karena itulah, menonton We Need to Talk About Kevin butuh kesabaran terutama di tiga puluh menit pertama, sebab yang kita lihat melulu hanya silang sunting padat mengenai sesuatu yang tampak sama sama sekali tak berhubungan, mengganggu, dan sedikit banyak psikadelik. Namun ketika satu demi satu tirai diangkat, satu demi satu tangga dinaiki, maka film ini menjelma menjadi film yang sangat mengasyikkan.

.

We Need to Talk About Kevin | 2011 | Sutradara: Lynn Ramsay | Negara: Amerika Serikat/Inggris | Pemain: Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller, Rock Duer, Jasper Newell,  Ashley Gerasimovich.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend