Magnolia: Manusia dan Melankolia

magnolia_highlight

Benarkah manusia modern tak lagi terhubung oleh kata dan tatap muka, tapi hanya oleh melankolia? Melalui drama kompleks antara delapan tokoh di suatu hari berhujan di San Fernando Valley, Magnolia dengan keras mengajukan pertanyaan tersebut pada setiap penontonnya. Dirilis tahun 1999, film karya Paul Thomas Anderson ini menjadi bahan pembicaraan karena beberapa hal: mulai dari jumlah aktornya yang gigantis, durasi filmnya yang sampai tiga jam, hingga resolusi ceritanya yang seakan-akan disadur dari Alkitab. Apa yang Anderson capai di Magnolia sebenarnya sudah terlihat di filmnya sebelumnya, Boogie Nights. Kedua film tersebut sama-sama bicara tentang penderitaan manusia di hadapan struktur sosial yang merepresi kegelisahan terdalam mereka. Bedanya: kalau Boogie Nights membahasakannya lewat industri pornografi dalam rentang dua dekade, Magnolia menuturkannya lewat industri televisi yang menggerogoti orang-orang di dalam dan sekitarnya.

Pertanyaan Magnolia tentang manusia dan melankolia sudah kentara sejak menit pertama. Penonton langsung disuguhkan dengan tiga cerita yang saling tidak berhubungan: pembunuhan di Greenberry Hill, penyelam yang ditemukan mati di atas pohon, dan seorang anak yang ingin bunuh diri, tapi malah tertembak orang tuanya sendiri. Ketiga cerita tersebut, sama dengan apa yang akan terjadi di plot utama Magnolia, terjadi antara banyak tokoh dan penuh dengan kebetulan. Ketiga cerita itu juga memberi peringatan bagi penonton, supaya tidak langsung menganggap suatu kebetulan sebagai kebetulan semata. Tindakan tersebut hanya akan membuat kita melupakan, bahwa dalam kebetulan sekalipun ada manusia-manusia yang berperan aktif di dalamnnya, dan dalam manusia-manusia tersebut ada melankolia yang saling menghubungkan mereka.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Magnolia menggunakan industri televisi sebagai pijakan penuturannya. Hal tersebut tidak hanya terasa pada tokoh-tokohnya, yang memang dalam satu dan lain hal terhubung ke industri televisi, tapi juga di nyaris seluruh aspek filmnya. Plot Magnolia berjalan selayaknya opera sabun: penuh kebetulan, penuh letupan emosi tokohnya, dan penuh komplikasi cerita yang seakan-akan tidak ada habisnya. Seperti opera sabun juga, wajah menjadi sesuatu yang sangat dikultuskan di Magnolia. Kamera selalu bergerak ke arah wajah setiap tokoh dan membingkainya dalam close-up. Hingga kira-kira pertengahan film, kamera baru bergerak menjauh dari wajah dan menunjukkan relasi antara tokoh-tokoh tersebut. Pada titik ini, terlihat bahwa dunia Magnolia dihuni oleh orang-orang yang punya penderitaannya sendiri-sendiri, tapi sama depresinya. Semuanya terhubung oleh semacam melankolia, tapi tidak berani membuka diri untuk mengakuinya. Alhasil, komunikasi sulit sekali dilakukan.

Di tengah lanskapnya yang suram, plot Magnolia perlahan-lahan menyingkap piramida relasi tokoh-tokohnya. Puncaknya dihuni oleh Earl Partridge, seorang produser acara televisi, yang sepanjang film terbaring lemas karena kanker. Di sampingnya, ada Phil, seorang perawat baik hati yang rela melakukan apa saja untuk Earl: mulai dari memesankan majalah porno hingga melacak keberadaan anaknya lewat telepon. Dua orang yang seharusnya berada di tempat Phil adalah Linda dan Frank. Linda adalah istri kedua Earl, yang menikah murni atas alasan finansial semata. Melihat suaminya berada di ujung hayat, Linda mulai simpatik dengan Earl dan merasa bersalah karenanya. Ia pun memilih menyingkirkan diri dari samping Earl, dan mengkonsumsi narkotika di suatu lahan parkir. Sementara Frank adalah anak Earl dari istrinya yang pertama. Ia membenci cara ayahnya memperlakukan ibunya, dan memilih untuk kabur dari rumah lalu mengganti namanya. Ia pun memperoleh ketenaran lewat Seduce and Destroy, semacam program motivasi untuk laki-laki yang kesulitan menggaet perempuan.

Sebagai produser acara televisi, Earl punya acara andalan, yakni kuis What Do Kids Know? Acara tersebut kemudian menjadi titik fokal untuk beberapa tokoh lainnya di Magnolia. Kuis tersebut dikenal telah mempopulerkan dua jenius: Stanley, anak SD yang ketenarannya dieksploitasi bapaknya sendiri, dan Donnie, mantan juara kuis yang sekarang hidup luntang-lantung tanpa arah. Pemandu acara kuis tersebut adalah Jimmy Gator, yang juga sakit-sakitan seperti Earl. Ia dituduh telah melakukan pelecehan seksual oleh Claudia, putrinya satu-satunya. Tidak percaya diri dan merasa tidak suci, Claudia pun mengurung diri di apartemen dan mengkonsumsi kokain. Rutinitas Claudia tersebut nyaris saja ketahuan oleh Jim, seorang opsir polisi yang taat beragama. Tak dinyana, Jim jatuh cinta dengan Claudia dan mengajaknya makan malam. Demi keamanannya, Claudia pun mengiyakannya.

Layaknya suatu piramida, relasi semua tokoh sangatlah hierarkis. Relasi kesemuanya terjadi dalam lingkungan industri televisi, suatu bisnis yang sangat mengkultuskan pencitraan. Alhasil, mereka tidak saja saling menekan satu sama lain, tapi juga memasang wajah ideal di hadapan orang banyak untuk menutupi kelemahan mereka. Wajah ideal inilah yang kemudian menjadi topeng yang menghalangi semua relasi manusia dalam Magnolia. Frank, contohnya, terlihat agresif di hadapan setiap perempuan, bahkan nyaris misoginis. Karakteristik tersebut yang membuat Frank bisa sukses lewat Search and Destroy. Namun, tersingkap dalam beberapa adegan, sikap Frank semacam itu sebenarnya adalah usahanya membalas ayahnya. Kecewa dengan ayahnya, yang absen waktu ibunya sakit dan malah menikah dengan perempuan lain, Frank memilih untuk hidup egois juga. Jalan yang ia tempuh sama dengan cara bapaknya, yakni dengan memperlakukan setiap perempuan layaknya properti yang bisa ditinggal setelah dipakai. Akibatnya, Frank tidak pernah punya relasi yang tulus dengan perempuan, dan semakin sulit pula memaafkan bapaknya. Bagi Frank, memaafkan bapaknya sama dengan mengakui segala yang bobrok dalam dirinya.

Kesulitan berelasi karena topeng personalitas terjadi juga antara Jim dan Claudia. Sebagai seorang polisi, Jim harus selalu memasang wajah yang tegas dan tidak mudah goyah sebagai tanda otoritas. Sayangnya, Jim aslinya hanyalah pria kebapakan yang cenderung mengayomi, suatu sikap yang berseberangan dengan standar maskulintas seorang polisi. Jadilah, ia terperangkap antara dua identitas tersebut, dan konsekuensinya: ia selalu kesulitan mengontrol situasi saat bekerja. Ia tidak dapat meyakinkan seorang tersangka untuk duduk tenang, dan gagal membuka diri ketika seorang anak kecil berniat memberi petunjuk untuk salah satu kasus yang ia tangani. Puncaknya ada saat Jim kehilangan pistolnya. Jim jadi sangat tidak percaya diri dan semakin takut berelasi, karena seorang polisi tanpa senjata api sama saja dengan dikebiri. Pertemuannya dengan Claudia seharusnya mengubah itu semua, karena hanya di depan Claudia ia bisa melepas segala atribut polisinya. Namun, Claudia juga memasang topeng sebagai perempuan yang kesepian, sementara aslinya ia merasa kotor karena pernah dilecehkan oleh bapaknya. Ia simpatik dengan pendekatan Jim, namun ia tidak berani mengijinkan Jim masuk lebih dalam. Ia yakin kalau Jim mengetahui kehidupannya lebih jauh, ia hanya akan ditinggalkan. Di suatu kencan, ia pun memilih untuk lari dari Jim.

Semua tokoh dalam Magnolia berelasi dengan pola relasi Frank dan bapaknya, atau dengan pola Jim dan Claudia. Semua relasi dimediasi oleh semacam topeng yang menutupi melankolia partisipannya, dan akibatnya malah tidak saling ketemu. Pada titik klimaks Magnolia, di mana semua tokoh buntu dalam usahanya berkomunikasi, terjadilah intervensi surgawi dalam wujud hujan kodok. Hujan kodok tersebut menjadi sangat krusial, karena ia merepresentasikan satu tokoh yang ada sejak awal cerita namun tak terlihat: Tuhan, atau semacan entitas yang Maha Ada dan Maha Kuasa. Meski pernah terjadi di kehidupan nyata, hujan kodok tidak dijelaskan secara ilmiah dalam Magnolia. Sepanjang film, tidak ada adegan yang merujuk pada hal-hal yang memungkinkan hujan kodok tersebut terjadi. Hujan kodok pun menjadi kenyataan yang hanya bisa diterima dengan loncatan iman, baik bagi penonton maupun tokoh-tokoh dalam film. Peristiwa tersebut tidaklah berakar pada kenyataan sehari-hari, tapi kenyataan teologis.

Dalam konteks naratif, hujan kodok adalah trik yang cerdas dari si sutradara untuk mengakhiri Magnolia. Hujan kodok menjadi kejadian yang menyatukan semua tokoh galau tersebut. Berpikir dunia akan segera berakhir, mereka membuka diri terhadap satu sama lain. Melankolia yang tadinya terpendam jadi muncul ke permukaan, dan berkembang jadi keinginan untuk saling memaafkan. Beberapa kritikus beranggapan bahwa hujan kodok dapat diganti oleh kejadian apokaliptik lainnya, dan Magnolia akan tetap berakhir sama. Tanggapan saya berbeda. Pasalnya, hujan kodok adalah kejadian luar biasa yang dapat mendorong semua tokoh tersebut melakukan introspeksi, sekaligus memberikan kesempatan mereka hidup. Di antara gelimangan mayat kodok, mereka semua bisa bersyukur karena masih boleh melanjutkan hidup, yang artinya juga kesempatan untuk memulai lagi semuanya dari nol. Bila kodok disubstitusi dengan rudal atau meteor, Magnolia jelas tidak akan berakhir dengan senyum Claudia.

Magnolia | 1999 | Sutradara: Paul Thomas Anderson | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Jeremy Blackman, Tom Cruise, Philip Baker Hall, Philip Seymour Hoffman, William H Macy, Julianne Moore, John C Reilly, Jason Robards, Melora Walters

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (7)
  • Boleh juga (3)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend