Vertigo: Maaf Tuan, Nyonya Berhalangan Hadir dalam Hidup Anda

vertigo-hitchcock_hlgh

Alfred Hitchcock dikenal punya selera humor yang nyeleneh. Tentu saja, dalam kasus Hitchcock, humor yang dimaksud ironis dan sedikit menyerempet saru. Contoh yang bagus ada di North by Northwest. Setelah ratusan adegan kejar-kejaran yang dilakoni Cary Grant dan Eva Marie Saint, film tersebut berakhir dengan adegan sebuah kereta melaju kencang ke dalam sebuah terowongan. Kesannya: seluruh petualangan dari awal hingga akhir film hanyalah foreplay untuk seks yang pasti dilakukan antara protagonis laki-laki dan perempuan. Contoh lainnya, Psycho. Hotel milik Norman Bates tersusun atas tiga lantai: bawah tanah, lantai dasar, dan lantai atas. Menurut Slavoj Zizek, struktur bangunan tersebut mirip dengan struktur kepribadian manusia versi psikoanalisis: id, ego, dan superego. Di lantai dasar, tokoh antagonis kita bertingkah selayaknya manusia normal, sementara di lantai atas dia tunduk pada otoritas tertinggi hidupnya: ibunya. Ruang bawah tanah menjadi altar suci tempat dia memuja idolanya: mayat ibunya. Pada pembacaan ini, Norman Bates, salah satu antagonis terkeji dalam sejarah sinema, tak ubahnya seperti anak mami yang hobi onani dengan seonggok daging mati. Sigmund Freud pasti tertawa keras dalam liang kuburnya.

Vertigo, mahakarya Hitchcock lainnya, sama saja nyelenehnya. Bahan lawakan Hitchcock kali ini adalah seorang detektif bernama Scottie. Hitchcock meletakkannya dalam sebuah plot absurd, di mana dia terombang-ambing dengan dua kekuatan: kematian dan perempuan. Keduanya menjadi kutub yang menjadikan hidup Scottie tak tentu dan sia-sia. Kematian menjadi tamu tak diundang yang mengacak-acak kehidupan pribadi Scottie. Setiap kali dia hampir membuktikan sesuatu dalam investigasinya, kematian datang dan mengacaukan segala usahanya. Perempuan menjadi satu-satunya pegangan bagi Scottie dalam kehidupannya yang penuh kelok. Dia hanya bisa fokus setiap kali dia jatuh cinta. Perempuan menjadi pukulan ke ego maskulinnya untuk terus berinisiatif dan membuktikan sesuatu. Sialnya, dalam Vertigo, kematian dan perempuan hadir sebagai sebuah siklus. Setelah kematian, perempuan. Setelah perempuan, kematian. Tidak pernah ada hari baik bagi protagonis kita.

Materi dasar cerita Vertigo berasal dari sebuah novel Prancis berjudul D’entre les morts. Novel karangan Pierre Boileau dan Thomas Narcejac tersebut mengisahkan petualangan Flavieres, seorang detektif yang takut ketinggian. Dalam petualangannya, dia bertemu dan terobsesi dengan dua perempuan. Perempuan pertama adalah istri teman lamanya, yang konon kerasukan arwah antah berantah. Dia sering tiba-tiba diam, dan kemudian berbicara seakan-akan bangsawan dari masa lampau. Flavieres jadi penasaran dan lama-lama terobsesi untuk mendekati perempuan tersebut. Ketika perempuan tersebut jatuh dari sebuah menara, Flavieres tidak bisa berbuat apa-apa. Ketakutannya akan ketinggian membuatnya tidak berdaya. Ia pun hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Selang beberapa waktu setelah tragedi tersebut, Flavieres bertemu dengan perempuan kedua. Anehnya, perempuan ini secara fisik mirip dengan perempuan yang pertama. Obsesi yang dulu sudah selesai akhirnya bangkit lagi. Flavieres mendekati perempuan itu dan jatuh cinta dengannya. Namun, apa daya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Flavieres lagi-lagi hanya bisa diam ketika perempuan yang dicintainya jatuh dari menara.

Dalam adaptasinya ke layar lebar, plot dasar D’entre les morts tidak banyak diubah oleh Hitchcock. Petualangan yang dialami detektif dalam novel sama dengan yang ia alami di Vertigo. Bedanya, lokasi ceritanya. Petualangan Flavieres terjadi di Prancis yang porak poranda oleh perang, sementara Vertigo menampilkan Scottie di Amerika pada masa kejayaannya. Walau nampaknya sepele, perbedaan tersebut mempengaruhi karakteristik petualangan masing-masing protagonis. Petualangan Flavieres adalah sebuah pengejaran romantis. Kondisi jaman perang membuat Flavieres tidak punya banyak harapan. Selama masih terdengar dentuman meriam, Flavieres tidak bisa memastikan apakah dirinya besok bakal masih hidup atau tidak. Konsekuensinya: setiap kegiatan yang ia lakukan jadi sangat mendesak. Hanya ada dua pilihan yang tersedia bagi Flavieres: sekarang atau tidak sama sekali. Pekerjaannya mengikuti istri temannya menjadi usahanya untuk menafkahi dirinya sendiri. Pertemuannya dengan perempuan-perempuan yang ia cintai menjadi kesempatan akan romansa yang sangat langka di jaman perang. Tak banyak harapan dan tanpa kejelasan masa depan, obsesi yang ada dalam dirinya mau tak mau harus segera Flavieres laksanakan.

Berbeda dengan Flavieres, Scottie hidup di lingkungan yang bisa dibilang minim ancaman. Tidak ada keharusannya untuk waspada dua puluh empat jam sehari, dan tidak ada tembakan senapan yang tiba-tiba bisa merenggut nyawanya. Dalam lingkungan yang aman tersebut, Scottie tinggal dengan berbagai macam fasilitas. Ia punya kantor dan kendaraan pribadi. Di sekitarnya, ada seorang sekretaris yang siap menemaninya kapan saja ia mau. Kecuali ketakutannya akan ketinggian, Scottie juga tidak punya kesulitan berarti untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Singkatnya, ia kelas menengah, dan oleh karenanya ia selalu punya banyak pilihan. Pekerjaannya mengikuti istri temannya hanyalah satu dari sekian banyak pekerjaan yang ia bisa pilih. Tanpa pekerjaan tersebut, ia masih bisa hidup berkecukupan. Keputusan Scottie untuk mendalami perasaannya terhadap perempuan yang ia cintai menjadi tantangannya terhadap takdir. Dia yang memanggil bahaya masuk ke dalam hidupnya. Masih banyak pilihan lain yang lebih aman. Berdasarkan pembacaan ini, petualangan Scottie adalah obsesi seksual yang tak kesampaian.

Petualangan Flavieres sejak awal sudah terlihat seperti tragedi. Sebaliknya, petualangan Scottie adalah komedi yang Hitchcock kemas sebagai sebuah tragedi. Berkali-kali Hitchcock menunjukkan bahwa karakternya punya kebebasan untuk memilih, namun karakternya tetap memilih melakukan yang sama dan mendapat konsekuensi yang sama pula. Awalnya Scottie menyikapi pertemuannya dengan perempuan yang kedua secara ragu-ragu. Dia bimbang apakah perasaan yang ia alami ini nyata atau tidak? Apa benar dia cinta dengan perempuan tersebut? Atau mungkin dia hanya tertarik dengan penampilan si perempuan, yang kebetulan mirip dengan perempuan pertama? Scottie memutuskan untuk mendekati perempuan tersebut. Pada titik klimaks cerita, keputusan Scottie menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ternyata perempuan kedua dan perempuan pertama adalah orang yang sama. Perempuan yang pertama mati sebenarnya adalah orang lain yang kebetulan mirip. Scottie baru tahu bahwa ada konspirasi besar-besaran, yang baru terungkap di klimaks cerita, yang membuatnya tidak sadar kalau dua perempuan yang ia cintai sebenarnya adalah orang yang sama. Perempuan yang tadinya ia idealkan dalam pikirannya kini secara badaniah ada di hadapannya.

Scottie pun dihadapkan dengan sebuah dilema: tetap percaya pada ilusinya yang nyatanya sudah terbukti salah, atau menerima kenyataan pahit yang ada dengan lapang dada. Dilema Scottie tersebut Hitchcock tabrakkan dengan kemungkinan bahwa perempuan yang Scottie cintai juga punya perasaan yang sama. Pasalnya, perempuan tersebut merespons segala pendekatan Scottie padanya. Pada kemungkinan ini, selera humor Hitchcock yang nyeleneh terwujud. Kemungkinan tersebut menjawab dua hal yang Scottie perjuangkan semenjak “kematian” cintanya yang pertama: fantasinya akan perempuan yang ia cintai, dan hasrat terpendamnya untuk mewujudkan fantasi tersebut jadi kenyataan. Singkatnya, kemungkinan tersebut adalah jawaban bagi obsesi seksual Scottie, yang setelah secara menyakitkan diputus begitu saja dengan “kematian” perempuan yang pertama.

Apa daya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sama dengan yang pertama, perempuan yang kedua juga jatuh dari menara. Sialnya, kali ini tak ada konspirasi yang menyelimuti kematian tersebut. Si perempuan jatuh karena kaget melihat seorang suster yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Scottie hanya bisa diam melihat cintanya pupus untuk kedua kalinya. Perempuan ideal hanya bisa eksis sebagai sebuah imaji di kepala Scottie, tak pernah bisa hadir secara fisik dalam hidupnya. Memang, dalam Vertigo, tak pernah ada hari baik bagi protagonis kita.

Vertigo | 1958 | Durasi: 128 menit | Sutradara: Alfred Hitchcock | Produksi: Alfred J Hitchcock Productions | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: James Stewart, Kim Novak, Barbara Bel Geddes, Tom Helmore, Henry Jones, Raymond Bailey

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend