To The Sea: Semacam Advokasi yang Berlibur, Ke Rumah Kakek di Tengah Laut

to-the-sea_highlight

Ramai beredar anggapan, bahwa yang realis itu biasanya jauh dari eksotisme. Dulu sudah lama sekali, André Bazin mencela gerakan ekspresionisme menyusul era baru film bersuara, tengadah Bazin mengarah pada realisme baru (baca: neorealisme), Rosselini menjadi idola anyarnya. Pergeseran ‘idola’ dari ekspresionisme ke realisme baru tentu ikut juga menggeser banyak sekali hal. Dalam mazhab realis, yang eksotis menjadi makruh. Kewajiban utama justru terletak pada perekaman dunia apa adanya. Di mana ‘apa-adanya’ dunia, dalam kamus istilah neorealisme, terlalu sering menyakitkan. Maklum, waktu itu barak-barak Perang Dunia baru saja dikosongkan.

Apakah tak ada secuil kemungkinan untuk menyatukan kedua kubu itu? Apakah tak mungkin ada realisme yang ekspresionis atau ekspresionisme yang realistis? Saya tentu tidak tahu. Siapalah saya hingga punya wewenang ilmiah menjawab kepelikan itu. Bagi anda yang penasaran dengan persoalan tua ini, mungkin baik untuk menonton film To The Sea arahan Pedro González-Rubio. Film ‘wisata’ yang membawa kita ke menyelam ke tengah Banco Chincorro, situs terumbu karang terbesar kedua di dunia, di cekungan laut Meksiko sana.

To The Sea tampak seperti film advokasi dalam topeng fiksi untuk mengajak orang mendukung pelestarian terumbu karang, untuk ikut mendukung program penobatan Banco Chincorro sebagai salah satu Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) yang dilindungi. Karakter utamanya hanya empat: tiga orang lelaki kakek-anak-cucu suku Maya, dan seekor burung ibis. Karakter ini tentu saja hanya pintu masuk ke keadaan alam yang menjadi tujuan utama, pembuat film bahkan tak mau ‘ribet’ memberi nama karakter mereka. Semua karakter bermain dengan nama sebenarnya.

Mata penonton didominasi oleh sudut pandang Natan, sang cucu, yang tengah berlibur bersama ayahnya ke rumah kakek mereka di tengah laut dekat Banco Chincorro. Kakek Natan, Matraca, tinggal di semacam jermal dan bekerja sebagai nelayan. To The Sea sama sekali tidak setengah-setengah dalam memperlakukan alam, ‘terlanjur basah’ sebagai film (dalam rupa) advokasi, ia memperlakukan alam dengan begitu sopan, alamlah yang menjadi komponen ekspresionisme di tengah mentahnya realitas yang terekam.

Perlakuan ekspresionis yang biasanya mewujud dalam seni peran yang (sengaja dibuat) artifisial, seperti dalam film-film Terry Gilliam dan Tim Burton, digeser oleh To The Sea menjadi alam yang tanpa diarahkan pun sudah bisa tampil luar biasa ekspresionis. Meskipun secara naratif, perjalanan Natan dan ayahnya diikuti dengan gaya yang sangat realis. Itulah mengapa saya singgung masalah realisme-ekspresionisme di depan tadi. Saya rasa, sedikit banyak, To The Sea bergerak kesitu tanpa kacak pinggang banyak bicara.

Tidak hanya alam yang direkam dalam wujud yang menyenangkan, melainkan juga koreografi binatang yang saya nilai begitu teliti. Kelakuan binatang itu kemudian mempengaruhi dialog panjang berikutnya antar para karakter (yang memperkuat dugaan bahwa film ini dibuat tanpa skrip). To The Sea beberapa kali bermain dengan keganasan buaya dan kejinakan burung ibis serta burung pergat. Kawan tentu masih ingat koreografi sapi dalam long-take pembuka film Satantango (1994), dimana segerombolan sapi bisa bekerja sama dengan kamera dalam durasi yang relatif lama. Perlakuan terhadap binatang dalam To The Sea mengingatkan saya pada adegan semacam itu. Kawanan burung pergat bisa bekerja sama dengan manusia, mengatur barisan sesuai arah kamera, mereka bahkan bisa turut off-screen ketika kamera menghendaki. Demikian juga dengan burung ibis yang notabene adalah binatang liar, ia bermain bersama manusia dalam keceriaan ruang keluarga. Bukan sekedar kerumitan teknis, ada penyatuan visi yang holistic dengan garis besar ‘perjuangan’ film ini sendiri, yakni pelestarian alam. Tidak sekedar menceramahi, To The Sea menunjukkan bahwa kamera saja bisa memperlakukan alam sedemikian sopannya, apalagi kita manusia.

Tak perlu waktu lama untuk membumikan sebuah pernyataan, lihat saja To The Sea dengan durasi singkat tujuh puluh tiga menitnya. Pernyataan sosialnya dapat, kumpulan momen emas sinematisnya juga dapat. To The Sea adalah ‘apa-adanya’ yang sangat eksotis.

To The Sea | 2009 | Sutradara: Pedro González-Rubio | Negara: Meksiko | Pemain: Jorge Machado, Natan Machado Palombini, Nestór Marín ‘Matraca’.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend