Young Törless: Suramnya Batas Baik dan Buruk

young-torless_highlight

Dalam sejarah sinema baru Jerman (New German Cinema), Werner Herzog, Rainer Fassbinder, dan Volker Schlöndorff adalah tiga nama yang paling sering disebut. Namun dibandingkan dengan Herzog dan Fassbinder, nama Schlöndorff seringkali tergeletak di urutan paling bawah. Padahal ia pernah meraih penghargaan di Academy Awards untuk film The Tin Drum (1979), adaptasi dari karya novelis kondang Günter Grass.

Lebih dari itu, Schlöndorff-lah sebenarnya yang memulai tradisi sinema baru Jerman. Sebuah gerakan yang mendobrak kekosongan kultural sinema Jerman pasca era gemilang F.W. Murnau dan G.W Pabst. Gerakan yang dipandu Schlöndorff membasahi keringnya layar bioskop yang bosan oleh keberulangan tiga jenis tayangan: film tentang sisa Perang Dunia II, heimatfilm (jenis film yang berlatar pedesaan dan bercerita tentang cinta eskapistik), serta film Hollywood. Young Törless adalah film pertama Schlöndorff yang diperhitungkan, film ini menandai dimulainya gerakan sinema baru, persembahan besar Jerman untuk dunia sinema -termasuk kita.

Baik Lawan Buruk

Kekerasaan itu tak hanya ihwal fisik, tapi juga psikis dan emosif. Secara badaniah tentulah kasat mata. Namun sewenang-wenangnya, seperti yang ditampilkan dalam Young Törless, kekerasan sejatinya melibatkan dua perwujudan: baik lawan buruk. Lantas bagaimana menentukannya?

Austria abad 20. Thomas Törless (Mathieu Carrière), pemuda cerdas namun naif, yang baru saja tiba di sebuah sekolah asrama lelaki di pedalaman. Laiknya pemuda rumahan perdana di rantauan, ia dihantui guncangan psikologis yang biasa disebut homesick. Ia berteman dengan seorang senior, Beineberg (Bernd Tischer), yang kemudian bersamanya menyambangi kediaman Bozena si lacur lokal (Barbara Steele). Di sini, ia dihadapkan pada dilema antara naluri remaja dan tuntutan pendewasaan; antara ibundanya yang bertatakrama dengan Bozena si sundal yang binal dan bengal. Bukannya bernafsu, Törless malah begitu naif menempatkan si sundal secara banal.

Kelak di sekolahnya, Törless dihadapkan pada dilema moral serupa. Bermula dari Basini (Marian Seidowsky) si penumpuk hutang yang kedapatan mencuri uang oleh Reiting (Fred Dietz). Basini tak diadukan tetapi menyumpah menjadi budak Reiting, setiap pada segala ritual-ritual sadistis-homoerotis yang dilakukan. Bersama Beineberg, di loteng rahasia, Törless turut ambil bagian dalam upacara-upacara penyiksaan tersebut.

Sejatinya si muda Törless tak pernah benar-benar turut melakukan penyiksaan. Ia hanya menelisik kekerasaan yang terjadi di depan matanya tanpa benar-benar turut campur. Ketertarikannya pada fenomena itu mulanya hanya semata-mata persoalan intelektual. Ibarat bilangan imajiner, i, yang merupakan hasil dari akar negatif, yang tak mungkin ada pada praktik nyata. Törless bersikukuh mengejawantahkan bilangan imajiner secara intelektual. Bilangan imajiner jelas sekali tak bisa dipergunakan untuk membuat jembatan, atau mendirikan bangunan. Namun guru matematikanya, yang tak mampu memberikan pemuasan logika yang lebih dalam, malah mengejawantahkan bilangan imajiner sebagai polah emosional dari ilmu pengetahuan. Bahwasannya ada bagian-bagian yang tak logis, namun dimunculkan demi pemenuhan emosional. Maka moral pun tak hanya sebatas yang kasat mata. Tak sepatutnya moral hanya dibatasi oleh hakikat hitam kontra putih. Seperti Bozena yang sudah terlanjur dicap sundal. Keterlibatan Törless pada tiap penyiksaan Basini hanya sebatas pemenuhan intelektual, tanpa ada campur tangan sisi emosional. Sebab itulah mulanya ia tak berniat mengadukan kejahanaman di depan mata. Ia hanya tertarik pada pencarian kesimpulan di baliknya.

Törless mulanya beranggapan bahwa persoalan tersebut hanya sebatas urusan etis belaka. Ada yang bersalah, ada yang menghakimi. Ada pelaku, ada korban. Törless melakukan suatu usaha agar Basini mengakui perbuatan mencurinya di depan Reiting dan Beineberg. Reiting dan Beineberg memonopoli pengadilan. Sedang Basini patut laiknya kriminal yang patut didisiplinkan. Namun, bukannya selesai, semakin lama, penyiksaan yang ditunjukkan tak lagi berwujud hukuman, lebih ke pada wujud pemuasaan dan pengakuan. Obsesi superioritas. Pun gairah tak manusiawi pada siksaan yang dihujamkan. Pula Basini tak lagi menerima penyiksaan itu sebagai hukuman, melainkan sebagai pemuasaan emosional. Penyiksaan menjadi sebuah kebutuhan. Semua itu, tentunya, urusan emosional yang tak lazim bagi logika Törless. Manakala nilai etik dan nilai subjektif jadi bertentangan, maka batasan antara good dan evil pun semakin suram.

Der junge Törless (The Young Törless) | 1966 | Sutradara: Volker Schlöndorff | Negara: Jerman Barat | Pemain: Mathieu Carrière, Marian Seidowsky, Bernd Tischer, Fred Dietz, Lotte Ledl, Jean Launay, Barbara Steele

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend