Pieta: Dualisme Perih Seorang Juru Tagih

pieta_highlight

“Kekerasan adalah brand Kim Ki-duk, dia menggunakan kekerasan atas nama kekerasan itu sendiri,” desah beberapa penonton sembari meninggalkan ruang bioskop. Tahun ini di Korea, Kim Ki-duk mendadak lebih terkenal dari sebelumnya. Pasalnya, penghargaan Singa Emas dari Festival Film Venezia baru saja disematkan atas film terbarunya, Pieta: film Korea pertama yang memenangkan penghargaan tertinggi di festival film di Eropa.  Publik senang dan resah pada saat yang bersamaan. Senang karena film Korea sudah terbukti mendapatkan pengakuan tertinggi, sedih karena film pertama yang mendapatkan pengakuan tertinggi itu justru adalah film yang memamerkan kekerasan yang seolah menasbihkan Korea sebagai wilayah yang akrab dengan kekerasan.

Berbeda dengan di Indonesia, di mana nama Kim Ki-duk adalah simbol film-seni yang gemar dengan intensifikasi kekerasan yang sarat akan ekspresi protes terhadap kungkungan sosial lokal yang begitu ketat. Begitu pula dalam Pieta, Kim kembali dengan film berbujet rendah, menelusuri lorong-lorong sempit di Seoul, menyambangi tempat tinggal para pelaku industri rumahan yang memproduksi piranti kecil yang kemudian dijual ke pabrik-pabrik besar. Sang pengunjung adalah seorang juru tagih berperangai dingin yang sangat percaya pada kekerasan sebagai cara mengancam para pengutang agar segera melunasi hutang mereka. Suatu hari, sang juru tagih kedatangan perempuan misterius. “Aku ibumu, maafkan karena aku telah mencampakkanmu sewaktu kecil,” ujar si perempuan.  Sang juru tagih terguncang, metode kekerasan yang selama ini ia terapkan menjadi pintu masuk konseptual yang paling relevan bagi penonton manapun.

Agen ganda

Kim Ki-duk bukanlah pembuat film sekolahan, ia tidak pernah mengecap bangku sekolah film seperti layaknya mayoritas pekerja film di Korea. Namun observasinya terhadap sejarah dan bagaimana ia mengemasnya dalam Pieta sungguhlah sebuah pendekatan yang intelek. Industri rumahan yang menjadi markas para pengutang adalah implikasi dari sejarah panjang otoritarianisme Korea dibawah pelatuk senjata rejim Park Chung-hee di era 1960-an. Chung-hee adalah pencetus otoritarianisme yang ia adonkan dengan konfusianisme (yang juga terdapat dalam kontur politik negara-negara lain di Asia Timur). Bagi Chung-hee, negara adalah ayah dan rakyat adalah ibu, sehingga sebagaimana dalam konfusianisme, ibu haruslah patuh (nyaris) tanpa syarat pada ayah.

Pernikahan ayah dan ibu ini melahirkan anak laki-laki yang kemudian mengendalikan 60 persen ekonomi korea: konglomerasi (di Korea dikenal dengan sebutan Chaebol, Samsung dan Hyundai adalah dua yang paling besar). Di sisi lain, mereka juga punya anak perempuan, yaitu buruh. Kewajiban yang harus dipenuhi anak adalah patuh terhadap orang tua, dan kondisi asal yang harus diterima perempuan adalah subordinasi terhadap pria. Maka buruh di Korea tak pernah punya suara, sebab mereka dikontrol oleh mekanisme politik yang militeristik dari sang ayah, dan nilai-nilai konfusianisme ideal yang sudah melekat sejak era pra-negara-bangsa yang memaksanya untuk selalu menjadi nomor dua setelah Chaebol si anak lelaki.

Dalam Pieta, sang juruh tagih menjelma menjadi agen ganda. Ia adalah buruh, seorang proletar yang harus menghadapi wajah proletar lain setiap hari, menagih utang, bermimikri menjadi kelas atas yang memunguti bayaran para buruh. Pijakan etis kemudian dicabut Kim dari sosok karakter utamanya. Yang terlihat dari sang juru tagih adalah perempatan sejarah dimana anak laki-laki konfusianisme memperkosa saudara perempuannya sendiri. Dalam film, pemerkosaan itu dilakukan dengan cara menjepit tangan si anak perempuan dengan mesin pemipih besi, memotong tangan dengan mesin pemotong kertas, atau menyediakan kondisi sedimikian rupa sehingga si anak perempuan harus bunuh diri menggunakan peralatan-peralatan pabrik. Tapi apakah si juru tagih melakukan itu demi keinginannya sendiri? Ia dikontrol oleh kekuatan modal yang lebih besar untuk mengebiri saudara-saudara dari golongan kelasnya sendiri. Buruh dibunuh oleh alat produksi mereka sendiri.

Obsesi yang benar pada objek yang salah

Sejak kedatangan sang ibu, kehidupan domestik sang juru tagih menjadi penuh gelora. Mimpi-mimpi basahnya sekarang menemui objek yang bisa diindera. Gairah seksualnya menjadi bisa teralamatkan, terlebih ia tak punya sosok ayah sehingga ia bisa menguasai ibu untuk dirinya sendiri, bahkan tanpa harus memastikan apakah sang ibu yang datang adalah ibunya yang sebenarnya.

Pada puncak obsesi pada sosok ibu itulah, Kim mengalamatkan puncak konfliknya dengan membalik fase perkembangan anak yang seharusnya terjadi sebelum puber dan meletakkannya pada fase umur si juru tagih. Dengan kata lain, hasrat pra-puber si anak terhadap ibu yang tidak terpenuhi tidak kemudian hilang hanya karena ia kehilangan sosok ibu di masa kecil, akan tetapi sekedar tertunda dan kembali  sebagai semacam trauma, lewat mimpi dan hasrat sadar ketika ia dewasa. Kim kemudian memperkenalkan motif balas dendam berlatar belakang konflik kelas yang di-zoom menjadi konflik psikologis berbasis hasrat pada sang ibu.

Dalam salah satu adegan, sang ibu mendatangi bos si juru tagih dan membiarkan dirinya ditampar bertubi-tubi. Si anak yang mengetahui kejadiaan sontak panik. Posisi tunggalnya sebagai pemilik ibu menjadi terancam. Sekurang-kurangnya ada tiga adegan dalam film di mana si ibu menyakiti dirinya sendiri untuk merangsang obsesi si anak terhadap dirinya. Ketiga adegan ini, bagi saya, adalah ekspresi cerdas Kim dalam melancarkan serangan ganda terhadap tradisi filial piety yang sudah diterima tanpa syarat oleh masyarakat Korea, dan terhadap subordinasi anak perempuan konfusianisme-militeristik yang meskipun zamannya sudah lewat puluhan tahun, tapi bekasnya tetap terasa hingga hari ini. Terhadap objek yang kedua ini, sedihnya, Kim seolah menyimpulkan bahwa segalanya sudah terlanjur basah, tidak akan pernah ada mobilisasi sosial maupun psikologis. Konflik antar kelas tidak akan pernah mewakili siapapun. Sehingga alih-alih menawarkan penyelesaian struktural, Kim mengembalikan para karakternya pada kondisi inorganis: perwujudan death drive menjadi shot terakhir yang menutup film.

Pieta | 2012 | Sutradara: Kim Ki-duk | Negara: Korea Selatan | Pemain: Jo Min-soo, Kang Eun-jin, Lee Jung-jin, Jin Yong-ok, Kim Jae-rok.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend