Oh Boy: Tragedi dan Humor Hidup

german-cinema_oh-boy_01

Siapa sangka karya kelulusan Jan Ole Gerster dapat membawa hantaman emosional yang begitu kuat kepada para audiens pasif yang hampir secara otomatis mengantisipasi sebuah sajian komedi aman? Siapa sangka karya kelulusan Jan Ole Gerster pantas disandingkan dengan pencapaian-pencapaian sinematis luar biasa yang mempersoalkan subyek masalah sejenis? Siapa yang sangka karya kelulusan Jan Ole Gerster mampu memiliki kesan superlatif yang membuat saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan retoris ini?

Oh Boy adalah karya kelulusan Jan Ole Gerster, namun hal yang dicapai olehnya mampu mengubah persepsi saya mengenai sebuah ‘karya kelulusan’. Tentu saja, kehebatan Oh Boy tidak berhenti sampai di situ. Oh Boy menyajikan sebuah potret kehidupan seorang Jerman bernama Niko Fischer. Fischer adalah seseorang yang sedang berjuang untuk mengetahui apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk mencapai tahap yang secara universal disebut ‘kehidupan layak’. Tidak punya pekerjaan, drop out dari sekolah hukum dan suka mabuk, Fischer berusaha untuk melarikan diri dari kekakuan hidup, namun di waktu yang sama terus diseret kembali ke dalam  kehidupannya tersebut oleh orang-orang yang hinggap di sekelilingnya. Potret kehidupan seorang Niko Fischer seperti yang diperlihatkan oleh Jan Ole Gerster melalui Oh Boy adalah sebuah campuran kimia yang mana reaksi finalnya mampu memanifestasikan sebuah sudut pandang baru mengenai kehidupan dan keputusuan-keputusan yang membentuk kehidupan itu sendiri.

Estetika hitam-putih Oh Boy yang pada awalnya terkesan gimmicky dan pretensius (lengkap dengan lanskap visual a la Manhattan) ternyata terbukti menjadi sebuah bagian integral dari film tersebut. Selain manusia-manusia yang mengelilingi keseharian Fischer, kota Berlin tempat tinggal Fischer sendiri memiliki peran penting di dalam scope Oh Boy. Berkat estetika dan sinematografi Oh Boy, kota Berlin terlihat kaku, hambar, namun tetap bernuansa klasik dan memiliki kesan estetis yang begitu khas. Jan Ole Gerster menjadikan kota Berlin sebuah representasi dunia yang kita hadapi sehari-hari dengan Niko Fischer sebagai avatar bagi para penonton.

Tom Schilling memerankan Niko Fischer dengan pembawaan alami yang tidak mengumbar kesan overzealous dalam menjiwai mentalitas karakter yang diperankannya. Layaknya seorang biasa yang menghadapi rangkaian tantangan hidup di dalam kesehariannya, Schilling tidak membuat karakter Niko Fischer sebagai seseorang yang langsung menuai simpati audiens. Kejeniusan Schilling dalam memerankan karakter Fischer terletak pada pengertiannya mengenai konsep nondescript. Melalui kesan everyman, Niko Fischer menjadi konduit bagi audiens saat memasuki portal ke dalam dunianya yang sebenarnya adalah refleksi dunia audiens itu sendiri. Terdapat satu adegan cerdas di mana Jan Ole Gerster membuat suatu gestur penghormatan terhadap mahakarya Martin Scorsese, Taxi Driver. Seperti Taxi DriverOh Boy adalah sebuah studi tokoh yang juga memaksa audiens untuk menilik sisi lain kehidupan sebuah masyarakat yang sering dianggap maju. Seperti Taxi DriverOh Boy membongkar persepsi penonton mengenai kehidupan urban. Dalam hal ini, baik Taxi Driver maupun Oh Boy meneruskan sentimen yang diperlihatkan oleh sinema bisu yang bersikap sinis terhadap tipe kehidupan tersebut. Oh Boy bisa saja menjadi parodi Taxi Driver—dan dalam beberapa aspek, Oh Boy memang parodi Taxi Driver. Namun Jan Ole Gerster secara cerdas menjadikan karyanya ini sebagai antitesis dari magnum opus Scorsese itu. Walaupun pada awalnya terkesan sinis dan snarky, toh esensi Oh Boy ternyata tetap redemptive dan teramat optimis. Pendekatan Jan Ole Gerster terhadap tema sentral Oh Boy terasa ringan berkat sentuhan-sentuhan humoris nan ironis yang disajikan dalam porsi sesuai. Tragedi dan humor hidup serasi di alam ciptaan Jan Ole Gerster.

Oh Boy adalah pernyataan personal Jan Ole Gerster. Adegan-adegan terakhirnya seolah bersepupu dengan adegan terakhir No Country for Old Men yang berisi monolog puitis Tommy Lee Jones. Namun kemiripan tersebut bukanlah sekedar sebuah gestur tribut lainnya. Melalui adegan-adegan terakhir Oh Boy, Jan Ole Gerster membawakan sebuah punchline yang memiliki resonansi istimewa. Dan hal tersebut brilian. Oh Boy adalah sebuah karya brilian.

Oh Boy | 2013 | Durasi: 83 menit | Sutradara: Jan Ole Gerster | Negara: Jerman | Pemain: Tom Schilling, Katharina Schüttler, Justus von Dohnány

Tulisan ini merupakan Juara 2 dari Kompetisi Penulisan Resensi Film yang diselenggarakan Goethe-Institut dan Cinema Poetica, bagian dari German Cinema 2014, 23-31 Agustus. Dewan juri terdiri dari Lanny Tanulihardja (Goethe) dan Makbul Mubarak (Cinema Poetica).

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend