Coffee, Cake, and Crematorium: Menikmati Kopi, Menanti Mati

coffee-cake-and-crematorium_highlight

Kaffeefarht adalah tur wisata murah ke suatu daerah dengan menggunakan bus. Di akhir tur disajikan jamuan makanan ringan dan kopi hangat. Umumnya, Kaffeefarht dilakukan sebagai ajang promosi perusahaan untuk menjaring konsumen potensial mereka. Karl Schumacher, direktur sebuah perusahaan penyedia layanan pemakaman di Jerman, adalah salah seorang yang menggelar tur ini. Obyek wisata andalannya: sebuah krematorium di Venlo, Belanda. Mereka yang ikut seta dalam tur adalah para lansia, yang sudah bersiap-siap menyambut kematian.

Pertemuan antara pebisnis kematian dan penyambut kematian inilah yang menjadi bahasan utama dokumenter Coffe, Cake, and Crematorium karya Sergej Kreso. Dengan pergerakan kamera yang minim, Kreso mengajak penonton bergabung sebagai salah satu peserta tur Kaffeefarht menuju Venlo, bersama para orang tua paruh baya dan lansia. Kita juga digiring ke kantor Karl Schumacher yang kecil, mengikuti ritme kerjanya mulai dari mengundang para calon konsumennya lewat internet hingga mempersiapkan berbagai upacara kematian. Di antara tur dan kesibukan-kesibukan inilah, Kreso kemudian mencoba menggali bagaimana masing-masing pihak yang terlibat memberi makna atas kematian.

Ada nilai-nilai terait kematian yang berbenturan dalam judul  Coffee, Cake, and Crematorium. Di satu sisi, kematian adalah ironi kehilangan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh baris “ashes to ashes” di dinding crematorium tersebut. Di sisi lain, kematian itu sendiri bisa menjadi bahan obrolan ringan, yang mengalir bersama pretzel dan kopi hangat. Ini adalah sebuah premis menarik. Umumnya, tema kematian selalu hadir dalam kemuraman, kesedihan, dan kesengsaraan, serta seringkali dikait-kaitkan dengan konflik, tragedi, dan berbagai istilah lain yang bikin muka kusut.

Kreso mewawancarai satu per satu peserta tur. Ada seorang janda yang ingin dikremasi karena pemakaman terlalu merepotkan untuk diurus anaknya yang cuma satu. Ada pula peserta lain yang pecinta binatang dan alam, yang kerjanya selalu berdebat dengan istrinya soal apakah keluarga mereka nanti akan dikremasi atau dikuburkan. Sang suami berkeras bahwa kematian itu berarti bersatu dengan alam, sedangkan sang istri menganggap kematian itu soal komemorasi, ingatan dan kenangan. Ada pula seorang janda yang ditinggal anak dan suaminya, yang selalu memimpikan prosesi kematian bernuansa angkatan laut, persis seperti anak dan suaminya. Dari sinilah dapat dilihat bahwa para peserta tur punya impian kematiannya sendiri-sendiri, yang dekat dengan kehidupan mereka masing-masing.

Kreso pun menemukan persamaan menarik manakala menyorot para peserta tur di rumah mereka. Kebanyakan para lansia dan paruh baya ini umumnya tinggal sendiri, hidup dalam rumah-rumah yang senyap. Nyaris tak ada gairah di sana. Seringkali kamera menangkap keheningan yang terpantul dari muramnya ruang tamu, para peserta tur yang duduk sendiri dan termenung ketika diwawancara, serta hiasan-hiasan kitsch yang menggelantung sepi, mengamati wawancara ini dengan bosan. Shot-shot dingin ini nyaris selalu menemani sesi kunjungan Kreso, terkecuali pada sekuens-sekuens suami istri pecinta alam yang sibuk berdebatan.

Ada pertanyaan eksistensial di sini: beginikah wujud dan rupa manusia-manusia yang menanti ajal? Salah seorang peserta, ketika ditanya mengenai mimpi yang ingin diraih dalam hidupnya, hanya menjawab ketus, “untuk apa bermimpi? Saya tak ingin panjang umur, ajal saya sudah dekat’. Minim gairah dan antusiasme, setidaknya itulah yang Kreso gambarkan dalam kunjungannya tersebut. Mungkin, satu-satunya antusiasme mereka adalah ketika menanyai para petugas Kaffefarht mengenai hukum dan peraturan pabean di Belanda yang mengurusi pemindahan dan pengiriman mayat dan abu jenasah.

Di sisi lain, para pekerja bisnis kematian giat bekerja demi meraup konsumen potensial. Dalam tur menuju Krematorium Venlo, para petugas Kaffefarht antusias membagikan selebaran-selebaran bertajuk “Funeral Tips” sembari bercerita tentang ritual kremasi yang katanya adalah sebuah tren aristokrat pada era Romawi. Tidak hanya itu, Karl Schumacher, sang pemilik perusahaan juga memasang situs untuk menggapai konsumennya. Dengan bangga Karl memperlihatkan situs tersebut, yang berisi video informatif yang dibawakan oleh Karl Magnus, anaknya. Perusahaan pemakaman Karl adalah usaha turun-temurun, yang menurutnya berkembang pesat pada masa kepemimpinannya. Tiap tahun, perusahaan ini melayani 3.500 kematian.

Kedua sisi ini memang kemudian menciptakan benturan, terutama karena kedua sisi ini dijukstaposisikan, berganti-ganti dengan cepat. Ada jarak yang besar antara keriuhan kerja Karl yang terengah-engah dan para peserta tur yang tidak bergeming di ruang tamu mereka yang suram. Benturan lainnya yang ditampilkan adalah berbagai pandangan naif para penanti ajal tersebut. Ada yang berpikir bahwa dengan disebar jadi abu, mereka maka akan bersatu dengan alam. Yang lain memandang tidak nyaman konsep membakar mayat dalam kremasi. Banyak pula yang berpandangan bahwa dikubur hanya akan membuat mereka digerogoti cacing. “Nonsense!” cibir Karl, tak ada cacing di kedalaman dua meter.

Komentar-komentar dingin dari Karl ini kemudian menghabisi satu-persatu idealisme para peserta tur. Karl sendiri kemudian berkembang menjadi karakter yang menarik karena Kreso selalu menampakkan Karl sebagai karakter justru apatis pada kematian itu sendiri, berbeda dengan para peserta turnya. Ini satu ironi lagi yang dimunculkan Kreso dalam Coffee, Cake, and Crematorium. Pertanyaannya kemudian, apakah film ini lantas menjadi sekedar ekshibisi berbagai ironi dalam bingkai kematian?

Kabar-kabar tentang Kaffefarhten sendiri sebetulnya cukup fenomenal–jika tidak bisa dibilang kontroversial–di Jerman. Saya sendiri menemukan fakta bahwa Kaffeefarhten umumnya digunakan sebagai ajang promosi produk bagi para calon konsumen, di mana tur dan makan siang gratis menjadi umpan yang menarik. Di sisi lain, Kaffeefahrt bisa menjadi parasit; karena tur itu gratis, para peserta terkadang diminta membelanjakan uangnya hingga jumlah tertentu supaya bisa makan siang gratis. Dari sini sebenarnya dapat dilihat betapa rumit dan tricky-nya tur ini. Mereka biasanya memilih target peserta spesifik: lansia dan paruh baya golongan menengah ke atas. Di satu sisi, lansia-lansia ini sudah pensiun sehingga memiliki waktu luang. Sebagian besar dari mereka juga sudah mapan. Yang paling penting, para lansia ini begitu polos sehingga mudah dipengaruhi untuk mengkonsumsi produk yang ditawarkan.

Namun, sayangnya, fakta ini tidak dibahas dalam Coffee, Cake, and Crematorium. Ketika Kreso berusaha menjelaskan bahwa ada mekanisme yang luar biasa rumit di balik permintaan-permintaan konyol para peserta tur, dan bahwa di balik kematian setiap manusia ada penghidupan bagi manusia yang lain, fenomena Kaffeefarhten sejatinya bisa menjadi motivasi yang menarik untuk menghadirkan sebuah gambaran utuh tentang hasrat predator manusia untuk mengeksploitasi industri kematian. Homo homini lupus. Namun rupanya Kreso memilih untuk tenggelam dalam ranah personal masing-masing pihak yang berusaha meromantisir makna kematian mereka.

Demikian, penggambaran fenomena sosial masyarakat Jerman yang menua beserta pembenturan nilai-nilai yang dihadirkan dalam Coffee, Cake, and Crematorium baru sampai pada tingkatan personal. Kritik sosialnya minim, sekalipun ada banyak ironi yang diperlihatkannya. Film seperti memento mori, mungkin juga surat wasiat yang ditinggalkan masing-masing peserta tur, yang alih-alih meninggalkan warisan bernilai jutaan malah menuliskan romantisme naif mereka akan kematian. Karl kemudian mencibir romantisme tersebut: “Tak ada seorangpun yang bisa menjelaskan kematian. Yang bisa manusia lakukan hanyalah menghidupkan hidupmu, menikmati segala hal selagi kamu bisa!”

Kaffeefarhten Ins Krematorium (Coffee, Cake, and Crematorium) | 2011 | Sutradara: Sergej Kreso | Negara: Belanda

Film ini diputar di Festival Film Dokumenter 2012, Taman Budaya Yogyakarta, 10-15 Desember. Jadwal pemutaran selengkapnya dapat dilihat di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend