Muallaf: Mata Rantai Terlemah Boleh Jadi yang Paling Kuat

muallaf_highlight

Muallaf adalah antitesis terbaik terhadap apa yang disebut Koo Gak Cheng sebagai cinema of denial,  suatu representasi generik tentang kehidupan ideal (jika tidak mau menyebutnya polos) masyarakat Melayu tradisional. Cinema of denial juga merupakan satu kecenderungan sekaligus kebijakan yang diambil lembaga perfilman pemerintah untuk menghambat derasnya arus Islamisasi yang menyapu Malaysia sejak 1980-an. Pada akhirnya, tercerminkan bagaimana pemerintah Malaysia memilah-milah seperti apa “Islam” dan “Muslim” yang sesuai dengan bangunan politiknya.

Tentu tidak mungkin memperbincangkan isu-isu agama di Malaysia tanpa merujuk pada kebijakan rasialnya, yang mengidentikkan orang Melayu sebagai Muslim, Tionghoa sebagai Kristen, dan India sebagai Hindu. Dua perempuan protagonis, Rohani (Sharifah Amani) dan Rohana (Sharifah Aleysha), adalah orang Melayu (yang tentu saja Muslim). Di beberapa adegan awal, mereka digambarkan sebagai sepasang kakak-adik yang punya pengetahuan ensiklopedis dan ketertarikan pada agama-agama besar, yang membuat gusar banyak pihak. Di sekolahnya yang Katolik itu, Rohana selalu diomeli karena sering tanpa sebab mengutip ayat-ayat Alkitab, para santo dan orang-orang bijak lainnya. Mereka mempersoalkan iman secara serius, sementara orang-orang di sekitar mereka seakan beranggapan bahwa iman adalah perkara serius tapi tidak perlu lagi dipelajari dan dibandingkan dengan iman menurut agama lain. Agama dipahami sebagai sesuatu turun-temurun (berdasarkan ras atau perkawinan) dan sekadar ritual belaka. Sikap “tidak menseriusi iman” menemukan contohnya pada karakter resepsionis kampus, yang mengatakan pada Rohani bahwa belajar sosiologi agama itu tidak ada gunanya. Satu contoh karakter lainnya adalah ayah kedua kakak-adik itu, yang semestinya sebagai seorang datuk (gelar kehormatan Melayu) menampilkan kualitas moral dan keagamaan yang tinggi, namun nyatanya tidak. Dia digambarkan sebagai seseorang yang korup, alkoholik, dekaden dan kejam (dalam satu sekuens menampilkan bagaimana dia mencukur habis rambut Rohani).

Jelas sekali Muallaf menyasar kebijakan agama pemerintah Malaysia, yang mengistimewakan Muslim tapi sekaligus menciptakan ketidakpedulian antar warganya. Pada poin ini, “menseriusi iman”, mempelajari agama-agama selain dari yang diyakini, ironisnya mengancam ideologi pernguasa, terutama ketika sikap seperti itu mampu menjebol sekat-sekat rasial. Maka, sikap “serius dan selalu ingin tahu” Rohana dan Rohani pun mengawali persahabatan mereka dengan Brian, seorang guru Cina-Kristen pemalu yang juga memiliki kesamaan minat dan sejarah keluarga yang traumatis. Dalam jalinan persahabatan itu, mereka bertiga sama-sama berjuang menghadapi masa lalu yang kelam. Pesannya sederhana (dan mungkin Yasmin Ahmad terlalu optimistis di sini): perjumpaan (atau, istilah politically-correct-nya, “dialog”) memungkinkan terciptanya ruang di mana kesalingpahaman antar warga negara dapat dicapai, tak peduli apapun latar belakang rasnya.

Maka sejak awal Muallaf sungguh-sungguh mende-esensialisasi hubungan-hubungan ras dan  agama, dengan mengobrak-abrik pola representasi yang telah banyak diterima atas kategori-kategori yang dinilai tetap (Melayu = Muslim; India = Hindu; Tionghoa = Kristen). Identitas personal dan kolektif menjadi sebuah kontinjensi semata. Lagi-lagi sejak awal sang adik belajar di sekolah Katolik dengan seorang kepala sekolah India, Rohana dan kakaknya lari dari ayah Melayu mereka yang dekaden, dan akhirnya keseluruhan cerita disusun dengan latar masyarakat urban beserta aneka-ragam permasalahannya. Sekali lagi: sebuah oposisi terhadap cinema of denial dengan segala penggambaran idealistiknya tentang  masyarakat Melayu/Malaysia yang tinggal di area pedesaan nan asri, dengan cara hidup tradisional lama yang tak berubah sejak dahulu kala.

Tapi tidaklah cukup bila hanya bermain-main dengan ambiguitas, kontinjensi, atau bahkan membaca film ini dengan cara yang biasa dilakukan para partisan liberal (misalnya dengan menunjukkan polarisasi keblinger antara visi “keragaman global” vs. “keseragaman nasional” yang picik). Yang berbahaya di mata penguasa mungkin bukan hanya bagaimana Muallaf menampilkan masalah keseharian dengan sudut pandang yang sangat terpolitisasi (dimana agama hanya menjadi salah satu situs, yang kebetulan penting, di antara situs-situs antagonistik lainnya), tetapi juga bagaimana ia membayangkan, katakanlah, satu model agensi politik kolektif baru. Klaim ini mungkin terdengar pretensius, namun pada kenyataannya, bukankah itu yang dilakukan Muallaf: menunjukkan sekelompok anak muda bermasalah yang berusaha membangun narasi dan cara berpolitik mereka sendiri supaya bisa memutus warisan traumatis generasi tua yang reaksioner dan tidak becus itu? Mendiang Yasmin Ahmad sendiri punya sikap yang jelas terkait persoalan tua-muda ini.

Dalam sebuah wawancara yang dimuat Rumahfilm.org, Yasmin Ahmad menyatakan “Anak muda sekarang dianggap buruk oleh orang tua. Saya malah sebaliknya, mengapresiasi generasi sekarang. Anak muda sekarang dituduh tidak menghargai perjuangan 1957, saya pikir ini bagus. Cukuplah generasi tua saja yang merasakan kesengsaraan masa itu. Mengapa generasi muda dipaksa merasakannya juga? Itu bukan tujuan kemerdekaan. Kalau anak muda melupakan perjuangan [1957], itu bagus.” Pernyataan itu seperti mengulang salah satu eksegesis dalam Bibel: bahwa penderitaan yang tak ada artinya (dalam hal ini yang diwariskan generasi tua) tidak usah dijalani. Ahmad menyasar anak muda sebagai penonton film-filmnya, menyuarakan masalah-masalah mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh generasi baru sineas Malaysia melalui tema dan gaya berbeda yang seringkali kontroversial. Generasi tua memandang anak muda dengan kecurigaan, menganggap mereka sebagai mata rantai terlemah dalam tradisi. Muallaf justru dibuat dengan kesadaran bahwa mata rantai terlemah boleh jadi adalah yang paling kuat, terutama ketika tradisi mesti digempur.

Muallaf (The Convert) | 2008 | Sutradara: Yasmin Ahmad | Negara: Malaysia | Pemain: Sharifah Aleysha, Sharifah Amani, Ning Baizura, Rahim Razali, Brian Yap, Yann Yann Yeo

Artikel ini aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, diterjemahkan oleh Damar N. Sosodoro.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend