Last Train Home: Dokumenter Dramatis dari Kolong Industrialisasi

last-train-home_highlight

Kalau Indonesia punya tradisi mudik, maka Cina punya tradisi tahun baru Cina. Kedua tradisi ini punya gejala yang mirip, yakni  setiap orang ingin merayakannya bersama keluarga tercinta. Di Cina, sektiar 130 juta orang berebut angkutan untuk pulang kampung setiap tahun baru Cina tiba. Mereka adalah pekerja urban yang berasal dari desa. Sama persis seperti di Indonesia, hanya saja jumlah mereka jauh lebih mencekam. Last Train Home dibuka oleh pemandangan ratusan ribu orang  berdesakan di stasiun kereta api, mereka berebut tiket kereta untuk pulang sekedar sua keluarga selama beberapa hari. Orang-orang ini tak jarang menunggu di stasiun hingga sepekan lamanya demi agar mendapatkan tiket. Tidak pulang, tidak mandi, mendekam saja di stasiun.

Sutradara Last Train Home mengikuti suami istri Yang Zhang dan Suqin Chen dalam perjalanan mereka pulang kampung. Dirumah, telah menunggu dua anak yang mereka tinggalkan demi pekerjaan, Qin dan Changhua.  Pasangan Zhang adalah sedikit diantara ratusan juta orang yang pergi meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota. Tergiur oleh megahnya dentam industrialisasi, mereka rela dibayar kecil dengan jam kerja yang kerap tak manusiawi  demi membiayai orang-orang yang mereka cintai. Sementara di kampung, yang terisa hanya orang-orang tua yang tak lagi kuat turun ke sawah dan anak-anak yang terpaksa harus berhenti sekolah karena tak ada yang mengurusi sawah. Lewat kamera sutradara Lixin Fan, pasangan Zhang dan anak-anaknya berhasil digambarkan sebagai lingkaran setan kemiskinan dalam skala kecil, yang julur-menjulur menyulam benang kemiskinan kolosal, menjangkiti ratusan juta penduduk Cina. Pasangan Zhang adalah putaran roda kecil yang ikut menderukan industri negara raksasa itu.

Keberadaan Lixin Fan semakin melengkapi tradisi dokumenter baru Cina (The Chinese New Documentary Movement), gerakan yang mulai tumbuh pasca tragedi Tiananmen akhir dekade 80-an. Berbekal pengalaman sebagai jurnalis di CCTV (Central Chinese Television), Fan turun medan menjulang kameranya, menghabiskan bertahun waktu merekam dokumenter dramatis yang berlatar kalutnya formasi sosial pekerja di Cina ini. Dalam director statement-nya, Fan menjelaskan bahwa industrialisasi telah menjadi anugerah bagi Cina secara makro namun menjadi bencana bagi masyarakat sosialnya secara mikro. Dengan cara meneropong masyarakat mikro, Fan berusaha menerobos ke jantung problem kontemporer di negaranya. Orang-orang seperti pasangan Zhang, menurut kritikus Kristin Thompson, sangat dekat konotasinya dengan representasi realitas dalam narasi-narasi dokumenter baru. Lixin Fan paham betul teori itu.

Tradisi dokumenter Cina adalah hasil tarik-menarik antara gaya cinéma vérité dengan gaya direct cinema selama puluhan tahun lamanya. Di negara ini, pernah ada zaman dimana Jean Rouch (pelopor cinéma vérité) menjadi figur panutan. Sementara di era yang lain, orang berganti menganut ajaran Frederick Wiseman (pelopor direct cinema). Para pembuat dokumenter di Cina terlatih menjadi sangat sensitif sebab tumbuh dalam bingkai propaganda sosialis yang akut. Mereka trauma akan dogma partai yang begitu kental lewat film-film dokumenter negara sehingga mereka senantiasa berusaha menjauh, entah ke arah cinéma vérité ataupun direct cinema. Tarik menarik inilah yang membawa tradisi dokumenter Cina masuk ke dalam sebuah fase yang unik; fase yang dihuni oleh film-film macam Last Train Home.

Last Train Home adalah dunia subjektif yang puitis. Ia bertumpu pada memori dan pengalaman yang berhasil diterjemahkan secara fasih ke ambang tangkapan kamera. Fan dengan cerdas menjadikan stasiun sebagai pembangun mood cerita. Beberapa kali ia merekam lalu-lalang di stasiun dengan mood yang berbeda-beda, sesuai dengan peristiwa yang akan ia ceritakan berikutnya. Di awal, ia menangkap gambar stasiun yang sesak sebagai pengantar memasuki keluarga Zhang yang sesak. Seiring berjalannya, Fan terus menggunakan mood stasiun untuk menggambarkan kondisi psikis para karakternya, dan juga kondisi psikis filmnya.

Pasangan Zhang dipilih karena mereka dianggap mewakili memori dan pengalaman para pekerja migran kebanyakan. Meskipun yang diangkat adalah drama internal keluarga, bukan berarti Last Train Home luput dari “merekam-fenomena”. Fenomena (beserta refleksinya) justru tampak jelas disela-sela drama keluarga ini. Pasangan Zhang adalah hasil interaksi antara memori dan pengalaman, antara subjektifitas mikro dan objektifitas makro. Dan Lixin Fan berhasil merekam itu. Tak hanya di narasi permukaan, Last Train Home juga tetap tampil brilian pada level narasi sekundernya (second level of narrative). Hal itu ditunjukkan dengan lepasnya para subjek untuk diikuti serta bersedianya mereka untuk direkam sampai pada level yang tak terduga. Hubungan pembuat film dan subjeknya ini menjadi drama tersendiri yang tetap bisa dinikmati penonton meskipun tak tertangkap oleh kamera realis. Ia mewujud meskipun suara Lixin Fan tak pernah tertangkap perekam, ia menyelimuti sanubari penonton meskipun tak pernah diperlihatkan. Ini yang saya sebut sebagai dokumenter brilian.

Last Train Home | 2009 | Sutradara: Lixin Fan | Negara: Republik Rakyat Cina | Subjek:  Changhua Zhan,  Suqin Chen, Qin Zhang, Yang Zhang

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend