Konspirasi Hening: Hukum, Rumah Sakit, Dan Persekongkolan Antara Keduanya

konspirasi-hening_highlight

Konspirasi Hening adalah dokumenter tentang balaunya pelayanan medis di Indonesia. Kebalauan ini memuncak pada maraknya malpraktik yang dilakukan oleh para penyedia jasa kesehatan. Sebelum menonton, tentu kita sudah mengantisipasi sinopsis dan siapa saja pihak-pihak yang ada di balik pembuatan film ini. Garis besar filmnya sendiri sebenarnya berkisar pada pernyataan bahwa sehat adalah hak setiap orang, ketika kesehatan raykat tak diindahkan, maka rakyat mustilah menuntut.

Belum jelas apakah fokus filmnya akan hinggap pada kalutnya soal pelayanan medis, betapa mengerikannya malpraktik, atau justru pada sengkalut birokrasi kesehatan. Adalah Kalyana Shira yang menjadi rumah produksi, yang biasanya membuat kita bersiap menghadapi isu seputar gender. Tentulah penasaran kita semua, bagaimana masalah kesehatan bisa dirangkulkan dengan isu gender?

Film dibuka dengan cutting rancak bernuansa thriller, menyayat pandangan pemirsa dengan statistik tindak malpraktik yang terjadi di Indonesia dan mata pisau hukum yang terlalu tumpul untuk membedahnya. Kamera mendatangi dan bicara langsung dengan para subjek, menggali apa yang mereka rasakan, dan penonton terkejut bukan main dengan teriakan seorang wanita dalam layar “Harusnya presidennya dong yang dateng ke sini! Lihat sendiri keadaannya!”. Penonton terhenyak, judul besar “KONSPIRASI HENING” menyemburat di layar, penonton riuh rendah.

Dimulailah Konspirasi Hening, dokumenter yang mengikuti tiga subjek dalam perjuangan mereka menyelesaikan masalah dengan hukum, terkait insiden malpraktik yang konon mereka terima. Subjek pertama, Siti Chomsatun yang merasa dicampakkan dokter ketika nyawanya sudah hampir melayang. “Waktu itu tak ada dokter jaga, rekam medis saya dipalsukan, yang tertulis dalam rekam medis sama sekali bukan yang saya alami”, kenang Chomsatun. Dibantu oleh Leila anaknya, Chomsatun bertekad mencari kebenaran.

Subjek kedua adalah Juliana, yang mengaku anak kembarnya menjadi korban salah servis di rumah sakit. Akibatnya fatal, kedua anaknya menderita cacat pada mata mereka. Jared dan Jayden, satunya menderita silindiris dua setengah, satunya lagi buta sama sekali. Juliana tegakkan badan mencari fakta apapun taruhannya. Lain lagi dengan nasib Agus, penderita TBC yang tak kunjung bisa berobat karena tak punya kartu identitas penduduk (KTP), begitu memasuki rumah sakit, ia akan ditendang keluar sebab tak ada surat-surat.

Setelah Konspirasi Hening memasuki fase “menguntit subjek”, saya justru merasakan kehadiran pihak ketiga antara pembuat film dengan subjeknya. Pihak ketiga ini bergonta-ganti. Dalam kasus Siti Chomsatun, pihak ketiga itu adalah LBHI (Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Dalam kasus Juliana, kita merasakan peran pemberitaan media massa dalam menentukan tindakan Juliana. Meskipun pengaruhnya kecil, tapi media massa selalu ada di antara pembuat film dengan Juliana. Dalam kasus Agus, lelaki tirus yang tak dapat berobat, adalah Wisnu, seorang aktivis gereja dari Cawang yang membantunya menemukan tempat pengobatan gratis. Pihak ketiga ini berperan sebagai semacam ‘panduan’ bagi penonton. Seolah-olah, ada instruksi tak langsung, bahwa sewaktu-waktu bila keadaan serupa terjadi, jangan pernah lupakan peran LBH, media massa, dan aktivis sosial. Konspirasi Hening menggunakan peran lembaga sosial ini sebagai piranti didaktis bagi penontonnya dan itu mudah sekali untuk dicerna.

Apakah film ini khusus bicara mengenai ribetnya birokrasi hukum terkait malpraktik? Apakah ia fokus pada runyamnya pelayanan berobat bagi rakyat kecil? Atau sekedar sampai pada pernyataan awalnya yang normatif, yakni bahwa sehat itu adalah hak? Sebab, bila kita berpegang pada konspirasi malpraktik sebagai benang merah, maka segmen ketiga (Agus dan Wisnu) menjadi tak tepat konteks. Dalam segmen itu sama sekali tak dibicarakan mengenai malpraktik dan antek-anteknya. Apabila Konspirasi Hening ingin bicara tentang repotnya berobat khusus orang miskin, maka dua segmen pertama menjadi bisu, sebab terbukti mereka bisa berobat. Walhasil, saya memilih untuk melihat Konspirasi Hening sebagai film dengan konsentrasi yang semakin lama semakin melebar. Ia berangkat dari isu-isu spesifik: malpraktik, repotnya berurusan dengan hukum, rumah sakit, dan persekongkolan antara keduanya, dan lain sebagainya. Lalu ia melebar dan berujung pada pernyataan bahwa sehat itu adalah hak setiap orang. Bahwa setiap sisi pelayanan kesehatan yang tidak berpihak pada rakyat haruslah ditindak dan dilawan.

Konspirasi Hening tentulah sah bila kita anggap sebagai sebuah advokasi yang terlalu rajin. Ada dua usaha pembuat film yang saya nilai terlalu rajin. Pertama, usaha untuk merekam dampak sosial dari malpraktik yang justru akan membawa penonton pada perasaan terjebak dalam masalah yang sudah larut sempurna. Kegalauan malpraktik dengan dampak sosial (Singapura dan Dukun) membuat masalah terlihat seperti sudah selesai dan tak ada yang perlu disesali. Malpraktik ramai, akibatnya orang kaya ke Singapura dan orang miskin ke dukun. Sudah begitu saja. Konspirasi Hening mengajukan pertanyaan yang dijawabnya sendiri. Kedua, pembuat film terlalu rajin dengan mewawancarai pihak MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia). Dalam wawancara itu, pernyataan pihak MKDKI justru melemahkan statement yang sudah digalang oleh film sedari awal sekali. Lewat usahanya untuk tampil arbitrer, atau (sebaliknya) untuk menampilkan kekonyolan MKDKI, Konspirasi Hening tanpa sadar menumpulkan gerigi senjata sendiri. Sebab apa? Tentu saja MKDKI akan melakukan pembelaan mengenai kecurigaan malpraktik, dan celakanya, pembelaan MKDKI sangat masuk akal! Pada titik ini, kualitas pernyataan Konspirasi Hening melemah dengan sendirinya.

Disengaja atau tidak oleh pembuatnya, tapi saya tetap menangkap gelagat misi gender disini. Bahwa di sepanjang film, subjek laki-laki selalu ditempatkan sebagai beban bagi subjek perempuan, atau bila tidak, subjek laki-laki ditiadakan sekalian. Dalam kasus Chomsatun-Lela, tak ada peran laki-laki. Dalam kasus Juliana, kita tak pernah melihat suaminya muncul ke layar, anaknya yang menjadi korban (atau beban) dua-duanya adalah laki-laki. Dalam kasus Agus, tentu saja Agus, yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, justru terbaring lemah sebagai tanggungan istrinya yang mencarikan nafkah, yang mengurusi dirinya sehari-hari. Dalam Konspirasi Hening, perempuanlah yang selalu tampil ke ruang publik, menggantikan laki-laki yang secara tradisionil selalu mengemban tugas ini.

Terlepas dari itu, Konspirasi Hening harus diakui adalah film bersisi banyak, film ini akan menjadi meja diskusi yang alot antara penyedia dan pengguna layanan kesehatan di Indonesia. Saya berani menjamin itu.

Konspirasi Hening | 2011 | Sutradara: Ucu Agustin | Negara: Indonesia | Subjek:  Siti Chomsatun, Leila Zenastri, Juliana, Agus, Yani, Wisnu.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend