Home: Road Movie dalam Rumah

home_highlight

Nama Ursula Meier pertama kali saya dengar dari tulisan Marcy Goldberg, kritikus yang berbasis di Zurich. Awalnya saya tak terlalu memperhatikan, namun namanya melambung juga ketika film debutnya, Home (2008) berhasil mewakili Swiss di ajang Academy Awards sesi film berbahasa asing. Meier memulai debut film-feature diusia 37 tahun, usianya yang tak lagi hijau ini dimanfaatkan untuk bermitra dengan para perempuan brilian dalam membikin sebuah film bersuara perempuan.

Meier menggaet Agnes Godard sebagai pengarah fotografi, skenario dikerjakannya bersama Alice Winocour, dan menunjuk Elodie Van Beuren sebagai penulis skrip. Agnes Godard adalah sinematografer senior yang sudah pernah bekerja dengan sutradara senior Peter Greenaway, Wim Wenders, dan terutama Claire Denis.  Godard adalah murid sinematografer senior Henri Alekan (Roman Holiday, Wings of Desire). Keberadaan Godard sangat membantu Meier dalam melahirkan karya sebaik Home.

Home menjadi penting karena ia tampil menantang tradisi road movie. Orang tidak lagi melakukan perjalanan untuk “berjalan” melainkan berpetualang dirumah dan berubah dari komedia keluarga menjadi tragedi klaustrofobia.

Sebuah rumah berdiri sepi ditepi jalan tol yang belum selesai dibangun. Jalan yang hening menjadi tempat favorit anggota keluarga untuk bermain. Keluarga ini sakinah mawaddah warahmah belaka. Sampai suatu hari, pembangunan jalan usai dan kendaraan mulai mempergunakannya.  Kebisingan menginvasi rumah dan stabilitas keluarga mulai terganggu. Pindah rumah menjadi sulit karena sang ibu, Marthe,  hanya merasa tentram jika tinggal ditempat itu.

Keluarga ini terdiri dari lima orang: Michel, Marthe, dan ketiga anak mereka, Judith, Marion, dan Julien. Demi karakter Michel, Olivier Gourmet menanggalkan image tua-bangka-matre yang selalu dibawa dalam persekutuan manisnya dengan Dardenne Bersaudara (La Promesse, Le Fils). Isabelle Huppert tetap galau. Judith, gadis remaja berpenampilan depresi dan berorientasi heavy-metal. Marion adalah gadis berpembawaan ganjil bak lukisan kondang Monalisa. Julien, anak kecil tak-bisa-diam yang sangat enerjik.

Tekanan keluarga mulai memasuki fase klaustrofobik ketika volume kendaraan semakin meningkat, jalan tol kerap tersendat, sehingga Michel mulai menutupi rumah. Suatu hari, Judith menghilang dan keluarga Michel mulai kehilangan konsentrasinya. Disini Home unjuk ajian, Home meninjau perubahan publik dari jendela keluarga dimana yang meraja adalah perempuan, dominasi Marthe sebagai sosok yang bertanggung jawab dibalik jendela tersebut diperkuat oleh tak mampunya Michel mengendalikan ranah domestik sebaik Marthe. Judith yang (mungkin) frustasi dengan wilayah domestik yang repetitif, akhirnya melarikan diri ke ruang publik (kehidupan jalanan). Judith punya alasan untuk mencari ‘sesuatu’ diluar sana: sesuatu yang diantisipasi oleh Michel tapi tak pernah dilarangnya secara terbuka. Peristiwa Judith adalah akibat ketidak mampuan “rumah” untuk memenuhi kebutuhan seseorang.

Hal sebaliknya terjadi pada anggota keluarga yang lain, mereka yang dijajah oleh perubahan publik, melarikan diri kedalam rumah. Michel menutup semua lubang nafas dengan batako. Memasang peredam dan rela hidup tanpa cahaya alami.

Beberapa orang melarikan diri dari keluarga dengan pergi dari rumah. Dan sebagian lain melarikan diri dari dunia masuk kedalam rumah. Kegemaran Meier mengumbar kegelisahan semakin Nampak ketika suatu hari Judith pulang dan mendapati rumahnya sudah tak berpintu tak berjendela. Dan didalam, para anggota keluarga berusaha keluar. Rumah dan Jalan sama-sama tidak cukup, baik itu sebagai tempat tinggal maupun sebagai tempat melarikan diri. Tsai Ming Liang pernah berujar “When we are in an extreme tragic situation, there is no more escape, we are trapped. And that’s when we manage to set free, that’s when we find the strength to react”. Ingat, hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah “bereaksi”. Tak ada janji bahwa seseorang akan menemukan penyelesaian akhir.

Agnes Godard memberi sumbangan besar dalam menyambut ambisi Meier: menggunakan aktor professional (Gourmet, Huppert, Leroux), set satu rumah penuh, mobil, jalan tol, binatang, dan anak-anak. Sesuatu yang biasa dihindari pembuat film debutan. Sebuah shot diakhir film menunjukkan betapa piawainya Godard memertalkan nubuat Meier untuk Home sebagai ‘road-movie-in-reverse’.

Menyaksikan Home mengingatkan saya pada The Seventh Continent (Michael Haneke, 1989). Dalam film itu, sebuah keluarga tiba-tiba bunuh diri tanpa diketahui sebabnya. Bila Haneke membuat prekuel, kemungkinan besar The Seventh Continent keadaannya akan seperti Home (minus unsur komedi keluarga tentunya). Adegan lainnya melayangkan saya jauh pada Weekend (Jean-Luc Godard, 1967), ketika jalan dipenuhi dengan mobil-mobil yang berhenti lalu karakter bermain sesuai porsi. Hanya saja panning kamera dalam Weekend sungguh jenius keterlaluan. Referensi yang menantang semakin meyakinkan pengamat bahwa Home adalah proyek yang sungguh ambisius.

Dalam sebuah wawancara, Meier menyatakan mengambil referensi desain rumah dari The Birds (Alfred Hitchcock, 1963) dan lalu dipengaruhi oleh Jean-Francois Stevenin, Patricia Mazuy, John Cassavetes, Maurice Pialat serta Claire Denis. Pengaruh Stevenin dan Mazuy terlihat pada besarnya peran atribut fisik (suara, gambar, tubuh) dalam film tersebut.

Home | 2008 | Sutradara : Ursula Meier | Negara: Swiss | Pemain: Olivier Gourmet, Isabelle Huppert, Adélaïde Leroux, Madeleine Budd, Kacey Mottet Klein

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend