Rabbit Hole: Celah Kecil Penawar Kehilangan

Masih ingatkah pada Birth, film Nicole Kidman yang bertutur mengenai orang mati yang kembali dalam wujud lain, namun dengan perasaan dan pemikiran yang sama persis? Kali ini Nicole Kidman kembali bermain dalam film bertemakan kematian, tentang gema kehilangan yang panjang sebab seseorang yang dicinta pergi untuk selamanya. Suaranya tak memantul namun terdengar, wajahnya samar namun akrab. Nicole Kidman turut memproduseri sendiri film ini. Rabbit Hole judulnya.

Hubungan sebab-akibat dalam setiap kejadian adalah niscaya. Selalu ada penjelasan tentang mengapa sesuatu ada. Hal ini tak berlaku pada kematian. Ia bisa datang menjemput tanpa alasan; pada yang tua, pada yang muda, pada yang sekarat, pada yang sehat walafiat. Kematian tak bisa ditanya penyebabnya. Ia ada karena memang ditakdirkan ada.

Rabbit Hole menceritakan sepasang suami istri, Howie dan Becca, yang baru saja ditinggal wafat oleh anak lelakinya yang baru berusia empat tahun. Peristiwa kematian Danny –nama anaknya itu- tidak ditunjukkan. Hanya saja penonton mendapat inferensi bahwa anak yang malang itu tewas tertabrak ketika sedang berkejaran dengan anjing keluarga mereka, Tex. Si penabrak sendiri tentu tak sengaja, ia juga masih remaja, duduk di bangku sekolah menengah.

Rabbit Hole membuka filmnya dengan penggunaan ruang-ruang rumah yang ranap. Terutama pada pagi hari, ketika Howie sudah berangkat kerja dan Becca tinggal sendiri di ruang keluarga, terlecut-lecut oleh ingatan tentang anaknya itu.  Terdapat banyak shot yang memperlihatkan Becca berdiri sayu menghadap dinding, menatap kosong ke arah taman, dan duet sinematografer Frank G. DeMarco (Con Man, Hedwig and The Angry Inch) dengan penata artistik Ola Maslik (My Sassy Girl, The Oranges) berupaya menjawab kekosongan perasaan karakternya dengan pengambilan gambar yang kuyu, persis perasaan Becca.

Ada yang menarik dari Rabbit Hole. Howie dan Becca masing-masing menanggapi kehilangan dengan cara yang berbeda. Howie adalah laki-laki yang ingin bersegera buka lembaran baru. “Kenapa kita tidak bikin saja anak yang baru?”, begitu kira-kira gerak laku Howie bertutur. Meskipun sudah banyak kompromi dengan Becca dalam menyikapi kehilangan, Howie tetap tak bisa menyembunyikan keinginannya yang mendalam untuk segera beranjak dari kehilangan kosong yang memenjarakan.

Berbeda dengan Becca, wanita ini tak bisa menyambut lamaran Howie untuk “beranjak”. Pada dirinya masih terdapat trauma yang besar. Becca mengungsikan Tex ke rumah ibunya sebab memori tentang Danny selalu berkecamuk setiap anjing penjaga itu menampakkan diri. Becca tetap sibuk berpusing dengan kehilangan, seolah ada yang berharga dari kehilangan itu. Setiap pagi Becca betah saja menatap kosong ke taman, berdiri layu menghadap dinding. “Tak semudah itu menghilangkan kehilangan,” begitu kira-kira isi kepala perempuan ini.

Untuk menyembuhkan efek musibah mereka, Howie dan Becca bergabung ke dalam sebuah grup curhat. Grup curhat ini berisi pasangan-pasangan yang ditinggal mati buah hati mereka, umumnya berasal dari kelas menengah. Mereka duduk melingkar, saling bercerita dan menguatkan hati. Namun apalah artinya dikuatkan oleh orang yang pada dasarnya juga belum mampu menguatkan dirinya sendiri? Sejatinya, grup diskusi hanyalah rezim kesedihan yang dilestarikan. Buktinya, ada pasangan Gaby dan Kevin yang sudah delapan tahun ikut berbagi di grup curhat, tapi tak jua bisa menaklukkan kesedihan dan rasa kehilangan mereka. Hal ini disadari betul oleh Becca. Ia mulai ragu datang ke grup curhat, ia mulai ragu pada Tuhan sebab tak memberi jawaban mengapa kematian datang tak permisi, ia mulai ragu datang ke grup diskusi yang mengandalkan tuhan sebagai penawar kehilangan. Becca mencari cara lain.

Sementara itu, Howie terus datang ke grup curhat. Akibatnya, perbedaan pendapat dalam menanggapi kehilangan terus saja menggunung di rumah mereka. Dalam kepala Howie ada segunung rencana, dalam benak Becca ada segunung nostalgia. Tak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Pada akhirnya dua orang ini harus menemukan cara masing-masing agar mampu mengenyam  kehilangan. Rabbit Hole beroperasi di area aksis kebimbangan antara pergi dan tinggal (seperti dalam film Revolutionary Road (Sam Mendes, 2008) dan 35 Shots of Rum (Claire Denis, 2008), serta pada area pertemuan rasa bimbang antara memaafkan atau terus membenci sebagai bagian dari harga diri, seperti dalam film The Son (Dardenne Bersaudara, 2002) dan Still Walking (Hirokazu Koreeda, 2008).

Apapun yang diusahakan Howie, dan Becca, mereka tetaplah harus mengarah pada “berdamai dengan kehilangan” sebagai bagian dari penuntasan konflik. Di sinilah kurangnya Rabbit Hole, para karakternya hanya berdamai dengan simbol-simbol kehilangan dan bukan dengan kehilangan itu sendiri. Misalnya, Howie dan Becca hanya berdamai dengan Tex dan bukan dengan genangan memori yang terbawa dalam Tex. Dalam Rabbit Hole, terdapat banyak pergulatan serius yang akhirnya hanya dijawab dengan prosesi berdamai dengan simbol kehilangan. Dari segi ini, Rabbit Hole rasanya semu belaka.

Rabbit Hole sendiri adalah judul yang baik. Ia meneropong celah kecil bak lubang kelinci: antara hidup dan mati, yang pergi dan yang ditinggal, dan tentu saja celah kecil untuk saling memaafkan. Hanya saja, sendi film melemah dalam hal penamatan konflik. Konflik film ini rasanya tidak tandas saja. Padahal, Rabbit Hole bukan tipe film yang bertujuan mengambangkan cerita.

Rabbit Hole | 2010 | Sutradara: John Cameron Mitchell | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Aaron Eckhart, Nicole Kidman, Sandra Oh, Diane West, Tammy Blanchard, Giancarlo Esposito

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend