Heartbreaker: Di Mana Ada Peraturan, Di Situ Tak Ada Perasaan

Dalam banyak roman percintaan, sering kita menemukan cerita dimana para tokoh kabur dari rumah karena cekcok dengan sang kekasih, pergi berlibur, bertemu dengan orang baru, lalu jatuh cinta. Tidak sekedar kabur dari kampung halaman, tokoh semacam ini juga kabur dari kesetiaan. Impresi itu yang kita dapatkan ketika Hearbreaker (L’Arnacoeur) baru saja mulai. Nun di Maroko, seorang wanita tak bernama jatuh cinta tiba-tiba pada lelaki yang memberinya tumpangan ke sebuah gurun di pinggir kota. Sang wanita takluk pada pengakuan si lelaki, bahwa wanita ini telah membangunkannya lewat ciuman yang baru saja mereka lakukan. Usut punya usut, lelaki yang bernama Alex Lippi ini sebenarnya tengah melakukan pekerjaannya. Pekerjaan Alex adalah merusak hubungan orang lain untuk pihak-pihak tertentu yang berkepentingan. Ditemani oleh saudara dan kakak iparnya, Alex merusak setiap pasangan kekasih dengan satu metode andalan: menggoda si perempuan.

Sudut pandang yang digunakan pada permulaan film adalah sudut pandang para perempuan yang menjadi ‘korban’ Alex. Betapa dahsyatnya ia dalam mempengaruhi perempuan untuk jatuh cinta dalam waktu singkat. Lewat dialog yang selalu sama, yakni ‘kau baru saja membangunkanku’, para wanita selalu jatuh lemas di pelukan Alex. Dari sudut pandang yang sama, Alex tak ubahnya tokoh Ryan Bingham dalam film Up in the Air (2010), ia datang merusak kebahagiaan yang seharusnya dinikmati orang, lalu kemudian pergi sebelum segala imbas membuntuti. Bedanya, Bingham datang dalam identitas yang sama yakni sebagai tukang pecat keliling, sementara Alex Lippi datang dalam wajah yang selalu berbeda. Bagi seorang ‘korban’ aktivis gereja, Alex datang dalam wajah penyanyi gospel. Untuk seorang sekretaris kantoran, Alex datang sebagai tukang reparasi kaca kantor. Intinya, Alex dituntut untuk lihai memainkan segala peran, dan ia selalu berhasil, sampai suatu hari kasus ganjil menghampiri dan Alex tak bisa lari.

Memasuki fase konflik, sudut pandang cerita bergeser dari kacamata para ‘korban’ ke kacamata Alex sendiri. Pergeseran sudut pandang ini sangat berguna baik dalam dimensi cerita maupun dalam hal mempengaruhi keberpihakan penonton. Lewat sudut pandang Alex, Heartbreaker berhasil mengajak penonton melihat dunia dari kacamatanya. Memang terdengar tengik punya pekerjaan merusak kehidupan orang, tapi apakah akan sama jadinya bila anda melihat dari kacamata Alex? Memang tengik menjadi tukang copet bis kota, tapi apakah akan sama bila anda melihat dari sudut pandang si tukang copet? Kira-kira begitu. Dampaknya, penonton yang semula mengutuk Alex mulai tergerak untuk bersimpati padanya. Simpati penonton atas karakter adalah salah satu kunci suksesnya sebuah film komedi romantis, dan Heartbreaker berhasil meraih simpati ini lewat permainan sudut pandang yang begitu terperinci.

Segera setelah sudut pandang berganti, nasib Alex pun terguncang. Inilah kenapa saya katakan bahwa sudut pandang bisa mempengaruhi tekstur cerita dari mata si pengamat. Mungkin nasib Alex memang sudah terguncang dari dulu, hanya saja kita tidak melihat dari sudut pandang yang bersangkutan sehingga guncangan itu tak terasa. Alex ditugaskan untuk menggagalkan hubungan Juliette Van der Beck dengan kekasihnya Jonathan Alcott. Alex punya masalah serius sebab pernikahan mereka tinggal lima hari.

Alex kesulitan. Itu sudah bisa ditebak. Tapi kenapa ia kesulitan? Apa yang membedakan kasus Juliette Van der Beck dengan puluhan kasus yang sudah ia tangani? Saya berpikir keras sebab hal ini tak dijelaskan dalam cerita. Alex kesulitan sebab ia tidak hanya harus membiaskan hati, melainkan juga harus mengganggu tatanan perkawinan. Dalam hal ini, perkawinan tak lagi arif dilihat sebagai perwujudan cinta dan kasih. Perkawinan dalam kasus Juliette dan Alex telah berubah menjadi semacam institusi. Ia menjadi deadline sekaligus batu-batu terjal karir Alex untuk membiaskan perasaan Juliette pada Jonathan.  Hati mungkin bisa berubah dalam hitungan menit, tapi perkawinan yang sudah menjadi institusi dan konsekuensi sosial tak semudah itu untuk diubah.

Kesulitan Alex berikutnya juga tak mungkin dirasakan penonton apabila tidak memakai perspektif Alex. Setelah penonton merasakan perkawinan sebagai sebuah institusi, penonton juga akan merasakan bahwa harga diri Alex pelan-pelan tercederai oleh sesuatu yang tak kasat mata. Pelan-pelan penonton mencurigai bahwa ada satu lapisan dasar dari hati Alex yang mulai dipermainkan oleh sesuatu. Perwujudan disorder memasuki level yang selangkah lebih kronis. Meskipun motivasi yang dilakoninya adalah profesionalisme pekerjaan, namun perjuangan Alex untuk membelokkan hati Juliette membutuhkan pengorbanan yang nyaris setara dengan apa yang dibutuhkan oleh seorang pria untuk mendapatkan hati gadis impiannya.

Tentu tak semudah itu kita bisa menyimpulan bahwa Alex telah jatuh hati pada Juliette. Sebab meskipun sudut pandang para karakter telah diguncang turbulensi kesana kemari, namun sudut pandang si pembuat film haruslah tetap konsisten. Dan deretan penulis naskah Laurent Zeitoun, Jeremy Doner, serta sutradara Pascal Chaumeil berpijak pada prinsip yang begitu konsisten dari awal sampai penghabisan, bahwa dimana ada peraturan, disitu tak ada perasaan, berlaku sebaliknya. Selama peraturan (baik itu pernikahan Juliette maupun pekerjaan Alex) masih ada, maka mustahil ada perasaan baik romantis maupun antipati diantara mereka. Namun apakah semudah itu mengesampingkan peraturan demi segumpal perasaan romantis yang egoistik? Yang bukan saja merusak motif cerita tapi juga meruntuhkan keseluruhan konsep si pembuat film? Anda tentu perlu menonton sendiri untuk menjawab dan membuktikan hal-hal ini.

L’Arnacoeur (Heartbreaker) | 2010 | Sutradara: Pascal Chaumeil | Negara: Perancis | Pemain: Romain Duris, Vanessa Paradis, Julie Ferrier, François Damiens, Héléna Noguerra.

Tulisan ini merupakan resensi salah satu film yang akan diputar selama Festival Sinema Perancis 2011. Jadwal selengkapnya bisa diakses di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend