Buried: Aroma Galau Birokrasi dari Dalam Peti Mati

buried_highlight

Dulu, banyak orang yang terkesima menonton Tape (2001) karya Richard Linklater, karena film itu berhasil memaksimalkan segalanya hanya dengan latar satu kamar motel, dengan tiga karakter di layar, tak pernah keluar dan begitu-begitu saja. Baru-baru ini, Buried melakukan percobaan yang lebih ekstrem, ia dimainkan hanya oleh satu karakter dalam sebuah peti mati, tempat yang bahkan tak bisa dipakai untuk berdiri. Selama sembilan puluh menit bujur, kita hanya melihat aksi Ryan Reynolds didalam peti mati itu, terkubur ditengah gurun dengan hanya ditemani beberapa barang kecil, yang paling berpengaruh diantaranya adalah ponsel dan korek api. Kedua barang tersebut digunakan dengan cergas sebagai plot device sekaligus sebagai mise-en-scene inti, terkadang juga sebagai sebagai pintu masuknya pengaruh karakter pembantu.

Keputusan untuk menggunakan peti mati sebagai satu-satunya latar membawa beberapa dampak, kamera menjadi halal untuk melawan logika angle, beberapa kali kita lihat, pemotongan gambar menjadi tidak sinkron satu sama lain apabila diperhatikan dari segi sudut pandang. Tetapi itu bukan masalah sebab tak akan mencederai ceritanya, semua penonton tetap tahu bahwa semuanya masih tetap dalam peti mati. Malahan, silang sengkalutnya pemilihan angle membuat penonton menjadi buta arah sehingga ikut merasakan sensasi tersesat bersama Jack Conroy, si karakter utama.

Terkuburnya Jack Conroy dalam peti mati itu tentunya tidak terjadi tanpa alasan. Jack Conroy adalah supir truk berkebangsaan Amerika Serikat yang sedang bertugas di Irak. Suatu hari ketika sedang bertugas, iring-iringan truk mereka dihadang oleh warga lokal, Conroy dibuat tak sadarkan diri. Bangun-bangun, ia sudah mendekam dalam peti mati itu, beberapa kaki di bawah selimut pasir gurun entah dimana rimbanya.

Beberapa kali, pihak penyandera menghubungi Conroy lewat telepon genggam, minta tebusan. Motif penyanderaan Conroy tentu sangat jelas yakni motif ekonomi. Buried menggelitik penonton dengan kisah sesak nafas antara dua pihak berlawanan namun sama-sama sipil. Yang menyandera bukan tentara, yang disandera pun bukan. Buried melukiskan kronikel hubungan people to people sebagai dampak keputusan yang diambil para pembuat keputusan di negara masing-masing; Jack dan Amerika Serikat, serta pihak penyandera dengan Irak. Setiap gestur negosiasi antara Jack dan penyandera selalu berusaha menusuk pertanyaan besar yang berlindung dibalik gelap dan ketegangan, “Kenapa Amerika Serikat datang ke Irak?”.

Dengan mengangkat isu ini, Buried punya posisi arbitrer sebab ia dibuat sebagai film Spanyol, semua kru adalah orang Spanyol sehingga filmnya tidak mengusung kesan propagandis. Ini seperti penghakiman kasus Amerika Serikat-Irak dilihat dari Spanyol, dalam kapasitas sebagai negara yang tidak terlibat. Jack Conroy disandera oleh warga lokal yang sedang butuh uang, bukan teroris dengan komitmen perlawanan. Naifnya, sang penyandera menganggap bahwa semua orang Amerika Serikat yang datang ke Irak itu tentara sehingga ia sembarang saja menyandera. Si penyandera tidak mau tahu, dari aspek implisit, penonton bisa memaklumi kalau penderitaan yang mendera si penyandera jauh lebih berat dari pada penderitaan karakter utama yang tersiksa di sepanjang film. Buried membedah kesalahpahaman yang menjadi benar akibat trauma sejarah yang terlalu parah.

Selanjutnya, Buried menusuk tajam ke jantung birokrasi, bagaimana birokrasi mati-matian menjaga muka sendiri ketimbang bergerak konkret di lapangan. Conroy yang awalnya begitu percaya pada pemerintahnya, menjadi terguncang akibat tiga sebab, sebab bahwa orang yang ditelponnya tak pernah benar-benar menggubris, menggubris tapi salah, dan akibat desakan waktu yang sudah begitu mencekik. Peti mati tidak hanya sulit untuk dipakai berdiri, ia bahkan hampir tak mungkin untuk bernafas. Tidak cukup dengan mencemooh birokrasi, Buried menuding langsung kepada faksi yang selama ini setia mengelap tempat duduk para birokrat: perusahaan kapitalistik. Hubungan triangular antara Jack, para birokrat, dan perusahaan kapital tempatnya bekerja tak pelak adalah hubungan yang sangat menyakitkan.

Buried adalah sebentuk perlawanan kecil terhadap baurnya kejadian politik dalam skala yang sangat besar. Meskipun meletakkan Jack sebagai pihak yang tersandera dan tersiksa, pihak yang didera dan diminta membayar untuk tebusannya, Buried tetap tidak mengesampingkan fakta bahwa penderitaan si penyandera jauh lebih panjang. Buried memaksa penonton untuk memihak: pada Jack Conroy ataukah pada penyandera? Jujur, saya lebih memihak pada penyandera. Bukan secara moral mentang-mentang saya muslim sama dengan orang-orang Irak, atau karena tradisi membela yang lemah dan kalah itu seksi, melainkan lewat semacam upaya pembacaan tekstual, bahwa si penyandera benar-benar tahu apa yang sedang ia lakukan sementara Jack Conroy tidak. Ia tak pernah bisa menjawab ketika di tanyai “Kenapa kalian datang kemari?” Ia menjawab namun dalam kapasitas membela diri sendiri. “Untuk mencari uang”, katanya. Conroy tak pernah bisa menjawabnya dalam level negara sebab ia bukan pihak pengambil keputusan. Disini saya kagum pada pihak penyandera, bahwa meskipun mereka bukan pihak pengambil keputusan, sekalipun mereka adalah pihak yang puluhan tahun tersakiti, mereka tetap memahami kenapa sebuah keputusan diambil dan kenapa keadaan tidak berlangsung sesuai dengan keputusan yang mereka pahami, sehingga mereka paham betul apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Pihak penyandera tidaklah sepenuhnya jahat, mereka hanya tak tahan terlalu lama menderita. Sementara Jack Conroy, menderita bukan oleh kreasi si penyandera, melainkan oleh kegalauan birokrasi negerinya sendiri.

Buried | 2010 | Sutradara: Rodrigo Cortés | Negara: Spanyol | Pemain: Ryan Reynolds, Stephen Tobolowsky, Samantha Mathis, José Luis García Pérez, Ivana Miño

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend