Feminisme Lady Bird

Tulisan ini saya buat sebagai tanda ketidaksetujuan. Menurut saya, Lady Bird adalah film feminis hardcore alias garis keras, tidak seperti yang ditulis oleh Aulia Adam di Tirto.id pada 2 Januari 2018:

“Satu hal lain yang mengejutkan adalah Lady Bird sama sekali tak tampil politis, sebagaimana tren film Hollywood saat ini. Saat Greta [Gerwig] mengumumkan akan bekerja sama dengan Studio A24 untuk merilis Lady Bird, filmnya diprediksi akan jadi produk feminis karena ia adalah satu dari sedikit sekali perempuan di Hollywood yang bisa menempati posisi sutradara. Nyatanya, tidak juga. Greta justru kentara fokus pada kejujurannya menyampaikan cerita.”

Ada beberapa alasan kenapa saya sebut ini film feminis garis keras, dan saya akan mansplaining soal ini. Jadi sebelumnya saya mohon maaf karena belum sembuh dari penyakit ini walau sudah menelan berbagai kelas feminis dan buku-buku feminisme. Bergaul dengan beberapa feminis membuat saya jadi feminine (baca: pendiam) di antara para feminis, namun tambah mansplainer pada yang awam.

Pertama, film ini disutradarai perempuan di Hollywood. Gerakan perempuan semakin menjadi-jadi semenjak Presiden Trump yang misoginis itu naik tahta. Di Hollywood sendiri aktor/produser/sutradara perempuan sedang bersemi beberapa tahun terakhir. Dari Rashida Jones, Reese Witherspoon, Patty Jenkins, dan masih banyak lagi. Lalu muncul pula penuntutan kepada predator seksual: dari penyelenggara pemerintahan seperti Donald Trump, selebritis ternama seperti Louis CK dan Kevin Spacey, hingga dedengkot Hollywood seperti Harvey Weinstein.

Kedua, plot dan karakter perempuan keras. Christine (Saoirse Ronan), si “Lady Bird”, dan Marion (Laurie Metcalf), ibunya, saling mencerminkan satu sama lain: sama-sama keras, sama-sama kuat. Keduanya juga sama-sama berperan dominan dalam lingkar sosialnya masing-masing. Marion menjadi breadwinner (kepala keluarga) untuk keluarganya ketika sang suami sudah tidak bekerja dan depresi. Sementara itu Lady Bird mencuat dalam hubungan cinta, dan selalu membuat pendekatan pertama kepada pada para lelaki yang ia sukai. Hubungan si protagonis dengan pacar-pacarnya menjadi pergumulan kekuasaan yang rumit. Lady Bird marah ketika mendapati Kyle, pacar keduanya, bukan perjaka. “Sorry, I was confused,” ujarnya, beberapa saat setelah Kyle ‘keluar’ dengan cepat saat berhubugan intim—Lady Bird berada di ‘atas’ pacarnya. Posisi seks perempuan di atas dan lelaki di bawah juga adalah posisi dominasi, yang sedikit banyak mengingatkan saya pada film Juno (2007) karya Jason Reitman, dengan penyikapan serupa terkait dominasi perempuan. Juno dan Lady Bird berniat mengakhiri keperawanan mereka secara aktif.

Ketiga, kritik terhadap kritisisme kaum muda. Banyak sekali jargon aktivisme yang dipermainkan dalam film ini. Kakak Lady Bird, Miguel (Jordan Rodrigues), dan pacarnya, Shelly (Marielle Scott), digambarkan sebagai dua orang vegan yang banyak gaya, namun sulit secara ekonomi dan masih menumpang di rumah orang tua Miguel. Kyle sering bicara soal teori konspirasi, pelanggaran privasi oleh pemerintah, pemikir-pemikir kiri, namun melakoni gaya hidup hedonis. Lady Bird sendiri tidak luput dari olok-olokan. Pemberontakan Lady Bird kepada guru yang memberikan ceramah soal aborsi, tidak memiliki argumen yang ruwet. Baris dialog “Just because it looks ugly does not make it morally wrong” adalah pernyataan kuat tentang hak atas tubuh perempuan. Seorang gadis yang secara frontal bicara “…foto vagina saya berdarah-darah ketika mens, tidak membuat itu “salah secara moral” adalah pernyataan yang sangat hardcore dalam konteks sekolah Katolik. Pernyataan ini bahkan bisa menjadi pernyataan yang (secara tidak langsung) membebaskan perempuan-perempuan lain di kelas itu, yang menganggap vagina dan bagian tubuh intim perempuan sebagai suatu hal yang tabu. Di saat yang sama, argumen Lady Bird tidak logis secara faktual. Ia memang tidak berniat argumen, hanya berniat melawan dan membuat kesal.

Mumblecore

Lady Bird bukanlah film besar. Bujet produksinya kurang lebih sepuluh juta dollar, yang mana terhitung rendah untuk ukuran Hollywood. Isi filmnya menampilkan orang-orang mengobrol dengan akting senatural mungkin—ini hal yang harus dipuji ketika mempekerjakan seorang aktor Irlandia (Saoirse Ronan) sebagai orang Amerika di Sacramento, karena tidak ada aksen Irlandia yang tertinggal dalam aktingnya. Di Amerika Serikat sana, Lady Bird banyak dilekatkan dengan label mumblecore, sebuah istilah untuk merujuk film berbujet rendah yang banyak dialog. Terlebih lagi Greta Gerwig, sutradara Lady Bird, merupakan salah seorang sineas yang banyak terlibat dalam film-film mumblecore, sebagai pemain maupun sutradara.

Film-film mumblecore akrab dengan tokoh-tokoh perempuan, yang dalam kacamata patriarki, dianggap cerewet. Pakem penokohan perempuan cerewet ini umumnya dipadupadankan dengan tokoh-tokoh lelaki lemah, yang dalam prosesnya banyak menyindir dan mengolok stereotip gender.

Lady Bird tidak terkecuali. Dalam film kita melihat sosok Lady Bird sebagai feminis muda yang berisik dan pemberontak; Julianne (Beanie Feldstein) yang punya masalah body image; dan Marion yang control freak. Ini adalah stereotipe perempuan nakal, perempuan jelek, dan perempuan gila. Sementara kesemua tokoh lelaki di sekitar mereka terkebiri secara sosial dalam rupa stigma homoseksualitas (Danny), ejakulasi dini (Kyle), dan depresi (Larry McPherson, bapak Christine, yang diperankan Tracy Letts).

Menariknya, dalam Lady Bird, stereotip-stereotip gender tersebut tidak sekadar ditampilkan untuk kemudian diolok-olok semata. Lady Bird mengelaborasi stereotip-stereotip tersebut dalam jalinan kisah yang tidak berujung pada suatu penghakiman atau penyimpulan yang dangkal. Semua tokoh berada di wilayah abu-abu (atau warna-warni) dan menjadi paradoks bagi diri mereka masing-masing. Tidak ada penyekatan antagonis-protagonis.

Female Gaze

Ungkapan politis Lady Bird tidak terbatas pada bentuk penokohan saja, tidak juga terbatas pada isu perempuan. Pada titik ini, kita juga perlu mengamati bagaimana Greta Gerwig dan kawan-kawan secara cerdik menghadirkan female gaze dalam momen-momen krusial film. Female gaze, atau pandangan perempuan, adalah sebuah istilah yang mulai trend beberapa dekade belakangan ini, sebagai sebuah reaksi untuk memperkuat kritik Laura Mulvey terhadap kebudayaan dominan patriarki pada 1975. Mulvey menggunakan istilah male gaze untuk membongkar moda produksi kebudayaan dan media pada masa itu .

Male gaze ada di mana-mana. Di film-film, di iklan-iklan, di sinetron, di berita-berita media cetak dan elektronik, di buku pelajaran, di kitab suci, di ceramah agama, di bahasa, bahkan di arsitektur. Semua perangkat ideologis tersebut diproduksi dengan cara pandang lelaki, terlepas dari pembuatnya lelaki atau perempuan. Cara pandang yang mengobjektifikasi perempuan, yang melihat perempuan sebagai oposisi biner yang simplisistis: istri vs pelacur, perempuan-yang-ingin-dinikahi vs perempuan-yang-ingin-disetubuhi alias bispak, perempuan baik vs perempuan jalang. Male gaze adalah sebuah perspektif kolot yang menomorduakan dan merendahkan perempuan atau yang feminin.

Female gaze sendiri tidak sesederhana cara perempuan memandang tubuh laki-laki. Ketika Gal Gadot memandang tubuh six pack Chris Pine sehabis mandi, itu bukan female gaze. Dalam adegan itu, sutradara Patty Jenkins masih menggunakan kerangka male gaze untuk mengobjektifikasi pria—maklum, industrinya masih cukup patriarkal dan Wonder Woman bukanlah film yang memberi banyak kontrol kreatif terhadap kreatornya. Female gaze juga bukan berarti pornografi lelaki tampan atau seksi. Female gaze lebih berkaitan dengan bagaimana sebuah narasi menyampaikan ‘perasaan’ atau dimensi kemanusiaan dan bukan cuma birahi kesetubuhan.

Jill Soloway, komedian dan sineas asal Amerika Serikat, dalam suatu kuliah umum di Toronto International Film Festival 2016 menyebutkan tiga syarat dari female gaze. Yang pertama adalah mengambil kembali fungsi tubuh—bukan untuk diobjektifikasi, tapi untuk mengkomunikasikan perasaan. Perkara ini tidak sebatas siapa yang dilihat kamera, tapi juga bagaimana kamera menyorot dan membingkai objeknya. Kita bisa melihat perwujudannya dalam hampir setiap gambar Lady Bird. Bidikan-bidikan close up memperlihatkan raut wajah dan emosi karakter. Bidikan-bidikan medium dan wide angle memperlihatkan kesepian, keterasingan, atau gestur tubuh yang bosan, marah, sedih atau senang. Tidak ada ketelanjangan penuh dalam adegan seks, dan posisi dominan ada pada tokoh perempuan. Tubuh perempuan menjadi penguasa, onscreen maupun offscreen.

Kedua, merekam perasaan ketika dipandang. Dalam Lady Bird, perwujudan terkuat akan hal ini terjadi dalam momen-momen antara si protagonis dengan biunya. Keduanya saling memandang dan, seringkali, salah menerjemahkan pandangan. Dalam shotshot dialog antara Lady Bird dan Marion, kita melihat berbagai emosi bertukar: kebingungan, salah paham, kasih sayang, benci. Kamera ditempatkan di posisi netral, untuk mengkomunikasikan perasaan keduanya ke penonton sekaligus mengasingkan masing-masing tokoh dari lawan mainnya. Lagi-lagi, sebuah paradoks. Dalam Lady Bird, hampir tidak ada satu shot pun yang memungkinkan kita untuk mengobjektifikasi tokoh perempuan sebagai objek hasrat seksual semata.

Ketiga, memandang balik ketika dipandang. Lady Bird, seperti yang sempat dijelaskan, dihadirkan sebagai tokoh yang aktif dalam memaknai dunia di sekitarnya: pria-pria yang ia taksir, bapaknya, ibunya, kakaknya. Ia juga aktif dalam memaknai dirinya sendiri, yang tercermin dari usahanya untuk diakui dan merasa ada: nama “Lady Bird” yang diciptakan tokoh Christine untuk dirinya sendiri, masuk ke kelompok teater, berbohong supaya bisa nongkrong bareng geng anak-anak populer. Lady Bird menerjemahkan pakem khas kisah-kisah coming-of-age dalam kesalahpahaman dan ketidakpahaman si protagonis terhadap pandangan orang lain kepadanya—yang dalam banyak hal merujuk pada beban berat menjadi seorang perempuan. Setiap pandangan dalam film, baik dari tokoh lain maupun dari kamera, berfokus pada momen-momen emosional dan mengesampingkan visual kesetubuhan, atau keseksian.

Female gaze umumnya dimanfaatkan sebagai perangkat representasi perempuan, tapi dalam Lady Bird cara ungkap tersebut menjadi perangkat untuk membaca perempuan dalam konteks yang lebih luas, dalam isu-isu yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh identitas gender. Jelang akhir film, kita menyaksikan Christine membaca surat-surat ibunya yang tak pernah selesai ditulis, yang tak pernah bisa dikirimkan ke anaknya, berisikan coretan-coretan kebingungan bagaimana cara memandang anak perempuannya, bagaimana memahami dunia. Adegan ini menjadi pernyataan penutup yang begitu lantang. Surat-surat tersebut menjadi medium empati antara dua sosok perempuan yang menjadi sentral dalam Lady Bird. Seperti kata Hélène Cixous:

Dengan menulis [tentang] dirinya, perempuan akan kembali ke tubuh yang telah disita darinya, yang telah membuatnya menjadi makhluk asing yang dipertontonkan—dalam bentuk yang sakit atau mati, yang seringkali dibuat jadi teman yang nakal, penyebab dan tempat yang terlarang. Sensorlah tubuh, dan kau akan menyensor nafas dan kata-kata di saat yang bersamaan.

Tulislah dirimu. Tubuhmu harus didengar. Dengan cara itu, maka sumber daya besar akan menyeruak dari ketidaksadaran. (The Laugh of the Medusa, 1976, halaman 880)

Melalui kosa gambar yang peka terhadap dimensi kemanusiaan tokoh-tokohnya, Lady Bird mempertemukan sejumlah wacana dalam satu wadah bahasan yang utuh. Setiap sosok dalam cerita tidak dihadirkan—dan dipolemikkan—berdasarkan identitas gendernya semata, tapi juga dari perkara ras, opresi sosial, marginalitas ekonomi, dan seterusnya. Saling silang ini bukanlah hal yang asing. Kehidupan kita sehari-sehari jugalah kompleks, yang seringkali kita acuhkan hanya karena kita teramat fokus pada satu permasalahan, dan gagal untuk melihat bagaimana masalah kita dan masalah orang lain sesungguhnya terhubung. Saling silang inilah yang membuktikan bahwa Lady Bird merupakan film feminis yang peka terhadap rentang hubungan antarmasalah dalam kehidupan.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (65)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend