Eat Pray Love: Antara Makna dan Katalog Wisata

Film Eat Pray Love menarik banyak perhatian di Indonesia, karena salah satu lokasi ceritanya di Bali. Di seberang Samudera Pasifik sana, film ini juga diantisipasi banyak orang, karena buku yang jadi basis film ini laku keras di pasaran. Saking inspiratifnya bagi perempuan-perempuan yang tidak puas dengan hidupnya, memoir perjalanan Elizabeth Gilbert tersebut memuncaki tangga penjualan buku di Amerika Serikat selama 150 minggu. Bukan Hollywood namanya kalau tidak tergiur dengan pundi-pundi uang yang mungkin didapat dari fenomena ini.

Tugas untuk menerjemahkan Eat Pray Love ke layar lebar dititahkan ke Ryan Murphy. Bagi Murphy, mengadaptasi buku jadi film bukanlah hal yang baru. Pada tahun 2006, ia menyutradarai adaptasi buku Running with Scissors, yang diterima secara suam-suam kuku oleh para kritikus. Berbeda dengan film sebelumnya, Murphy kali ini memilih menggunakan nama besar sebagai protagonis filmnya: Julia Roberts. Dia yang akan memerankan Elizabeth Gilbert (dalam film disingkat jadi Liz), seorang perempuan biasa yang sukses menemukan kembali orientasi hidupnya paska dua perceraian yang buruk.

Judul film ini memberi petunjuk bagaimana ketiga babak dalam film ini akan berlangsung. Eat menjadi panggung persiapan Liz yang pertama. Pada babak ini, ia memupuskan kegelisahan duniawinya, melalui makanan dan gaya hidup orang Italia yang tanpa beban. Pray adalah persiapan di level selanjutnya, yakni spiritual. Kedatangan Liz di India, yang disorot layaknya Slumdog Millionaire, sangat kontras dengan kepergiannya dari Italia yang penuh gegap gempita. Di tempat tersebut, ia bersemayam di pondok seorang guru spiritual, dan sukses mendedikasikan dirinya pada seni meditasi dalam tiga bulan saja. Menariknya, periode Liz belajar meditasi jauh lebih cepat dari jangka waktu yang direkomendasikan banyak orang: seumur hidup.

Love, layaknya babak ketiga di mayoritas film Hollywood, menjadi medan perang sesungguhnya. Liz pergi ke Bali dan kembali berurusan dengan hati. Permasalahan yang ia hadapi adalah Felipe, seorang pengusaha bisnis impor-ekspr asal Brazil. Diperankan secara jantan dan menawan oleh Javier Bardem, Felipe membuat dunia Liz gonjang-ganjing dengan segala perhatiannya. Pada titik ini, Liz harus menentukan pilihannya. Ia pun bertanya pada dirinya sendiri: haruskah ia kembali ke jalan yang sama dengan mengkomitkan dirinya pada seorang laki-laki, atau memulai hidup baru yang lebih seimbang dengan meninggalkannya pergi?

Pada titik yang sama, Murphy rasanya perlu mempertanyakan kapabilitas dirinya sebagai seorang pencerita. Menilik literatur serta premis yang mendasarinya, Eat Pray Love merupakan narasi tentang kehilangan. Dalam pandangan klasik, narasi yang baik adalah narasi yang mampu menyeimbangkan dirinya sendiri, dan berakhir dengan apa yang ia tidak miliki di awal cerita. Liz memulai cerita dengan kondisi cerai berai paska dua perceraian yang buruk. Ia kehilangan dua hal: hubungan afektif dan otoritas atas dirinya. Namun ia lebih menginginkan hal yang terakhir, karena baginya hubungan afektif bisa datang kapan saja. Akan sangat ideal baginya, dan penonton, apabila Liz sukses memerdekakan dirinya di akhir cerita dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang.

Sayangnya, Murphy mengabaikan keinginan Liz di awal cerita dan semena-mena menggantinya di babak ketiga cerita. Menghadapi Felipe di Bali, Liz bertingkah tidak seperti orang yang baru belajar hidup di Italia dan India. Sedikit sekali adegan yang menunjukkan dia makan enak dan berusaha hidup bebas. Sedikit juga adegan yang memperlihatkan dia tenang setelah meditasi. Adegan dia bermeditasi malah lebih sedikit lagi. Penonton lebih banyak disuguhi adegan Liz gundah gulana karena bingung harus bagaimana dengan Felipe. Pertanyaan perihal otoritas diri di awal cerita, yang digodok cukup mumpuni di pertengahan cerita, seperti hilang begitu saja saat Liz berada di klimaks perjalanannya. Hal ini membuat Eat Pray Love menjadi film yang sangat menipu. Ia mulai sebagai biografi perkembangan diri dan berakhir sebagai komedi romantis standar Hollywood. Perjalanan ke Italia, India dan Bali jadi tidak lebih dari acara wisata yang dipandu selebritis Amerika.

Eat Pray Love | 2010 | Sutradara: Ryan Murphy | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Julia Roberts, Javier Bardem, Richard Jenkins, Viola Davis

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend