Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1: Menyoal Kenyamanan Pembaca (Bukan Penonton?)

harry-potter-and-the-deathly-hallows-part-1_highlight

Sekitar setahun lalu, ketika mendengar rumor bahwa Harry Potter and The Deathly Hallows akan dipecah menjadi dua bagian, saya memikirkan dua kemungkinan yang bisa jadi mendasarinya. Pertama, pembuat film ingin merayakan seri terakhir petualangan penyihir ini sedetil mungkin sehingga penggemarnya terpuaskan. Kedua, karena ini film terakhir, maka pembuat film memecahnya menjadi dua bagian agar keuntungan finansialnya membengkak jadi dua kali lipat. Pengembangan artistik memang kelihatan tak pernah menjadi prioritas dalam seri petualangan ini. Saya mencatat, titik kulminasi garapan artistik seri Harry Potter adalah ketika ia dibesut Alfonso Cuaron (Harry Potter and the Prisoner of Azkaban) dan Mike Newell (Harry Potter and the Goblet of Fire). Lantas bagaimana dengan Harry Potter and the Deathly Hallows Bagian Pertama?

Dalam kurun sembilan tahun, Harry Potter telah menjelma dari novel anak-anak yang syahdu menjadi film gelap yang penuh ancaman. Hal ini tak bisa terlepas dari sektor novel yang memang berkembang sesuai umur sang Harry Potter. Intrik dan darah kerap mengisi halaman novel terutama sejak Harry Potter and the Order of Phoenix. Bukan hanya Harry Potter yang bertambah tua, tapi juga penggemarnya. Sehingga semua seri yang digarap sutradara David Yates, adalah seri Harry Potter yang gamang, jauh dari kesan pertamanya sebagai petualangan anak-anak. Pola konfliknya, romansanya, dan tentu saja cara para karakter dalam menyikapi masalah. Sehingga Harry Potter bersama penggemarnya bisa ikut menyesuaikan ketertarikan bersama.

Dalam menonton seri Harry Potter, sebagian besar penonton datang ke bioskop bukan untuk mengetahui ceritanya. Bukan main, mereka sudah hafal mati kalau cuma plot. Mereka datang menonton untuk membuktikan seberapa benar fantasi mereka ketika membaca novelnya. Sebab, entah ini baik atau buruk, sedari awal memang film-film Harry Potter didesain untuk para pembacanya. Mereka yang belum membaca biasanya sedikit tertatih mengikuti plotnya yang sangat tertutup akan pengenalan karakter.

Dalam Harry Potter and the Deathly Hallows, film tak lagi sudi mengenalkan siapa itu Ignotus Peverell, Batilda Bagshot, Xenophilius Lovegood, Gellert Grindelwald, sebab semua pembaca pasti sudah akrab dengan mereka meskipun hanya muncul di novel jilid ketujuh. Maka resikonya sama dengan ketika menonton The Last Airbender, banyak penonton senang karena pemerian gambar sama dengan yang tertera dikepala mereka selama ini, tapi tak kurang juga yang kecewa karena ternyata film “tidak sesuai dengan yang mereka harapkan” sebab tak sama dengan bayangan mereka akan komik dan serial televisinya.

Seiring dewasanya Harry Potter, ia sudah mulai paham bahwa sihir juga penuh dengan intrik politik. Bagaimana kementrian dirasuki orang-orang yang siap mengubah rezim, menebar doktrin rasis mengenai para Muggle dan menangkapi mereka yang berdarah-lumpur (penyihir kelahiran Muggle). Saya tersenyum kecut, monumen simbol penindasan Muggle di halaman kantor kementrian saya tandai sebagai alegori paham-paham xenophobic awal abad ke-19. Sebut salah satu, misalnya alergi Nazi terhadap ras Yahudi. Ditengah kekacauan seperti itu, Harry Potter dan kompatriotnya harus berkeliaran mencari beberapa Horcrux yang tersisa. Dengan beberapa potong warisan dari Albus Dumbledore, mereka berangkat.

Saya akui, ini adalah eksekusi film Harry Potter yang paling rapih. David Yates tak mau mengambil resiko dengan bergerak terlalu jauh dari treatment novel namun tetap beserta pengembangan sinematik sebaik yang ia bisa. Yates membayar kepercayaan produser dengan menggaet mereka yang berpengalaman, sinematografer Eduardo Serra dan komposer Alexandre Desplat contohnya. Bukan sembarang, Yates bangga sebab sebelumnya sempat terancam akan digantikan Guillermo del Toro di bangku sutradara.  Di film ini terdapat lebih banyak bahasa gambar yang dipakai ketimbang serangan verbal yang menyiksa seperti yang terjadi di dua film sebelumnya. Dunia klaustrofobik Harry Potter diterjemahkan dengan selalu mengambil lokasi di pinggiran dunia sihir. Sebab bila Yates nekat mendominasi adegan dengan shooting di daerah-daerah pusat (Diagon Alley, Hogwarts, dll), bisa jadi kesan gelap yang diharapkan penonton jadi berkurang. Tercatat hanya sekali adegan kejar mengejar yang terjadi di daerah padat penduduk yakni di Kementrian Sihir. Yates sadar, terlalu banyak adegan di dearah padat akan membuat penonton mati rasa dan puncak pertarungan Harry Potter dan Voldemort kelak akan terasa biasa saja.

Nah, di film ini bahkan saya meleset dua langkah: menurut saya, karena Harry Potter and the Half-Blood Prince sudah disulap menjadi film melodrama-penyihir-remaja, harusnya Harry Potter and the Deathly Hallows habis-habisan mengeksploitasi tempo cepat disertai aksi yang akan menggiring penonton ke puncak pertarungan dengan Voldemort. Tapi bukannya demikian, Yates malah sibuk dengan melodrama lain. Ia hanya pindah fokus, kalau di seri sebelumnya ia mengangkat fenomena pubertas berlatar Hogwarts, sekarang ia mengeksploitasi perasaan di antara Ronald Weasley dan Hermione Granger. Hasilnya, durasi waktu yang seharusnya dipakai untuk berkejaran dengan Horcrux jadi terbuang percuma oleh adegan cemburu-remaja. Saya yakin banyak yang merasa terkhianati oleh kenyataan ini.

Di sisi lain, beberapa hal konyol betul-betul mengganggu saya ketika menonton. Di adegan Godric Hollow, Harry Potter sempat mengenang adegan pembunuhan orang tuanya lewat flashback. Dalam kenangan itu, Voldemort digambarkan sebagai lelaki berwujud setengah ular. Namun di film-film sebelumnya (juga di novel), Voldemort masih berwujud manusia setiap flashback pembunuhan James dan Lily. Menurut novel, Voldemort baru berubah wujud menjadi lelaki-setengah-ular ketika merestorasi nyawanya di Harry Potter and the Goblet of Fire. Kenapa tiba-tiba ada adegan Voldemort-setengah-ular saat kejadian 17 tahun yang lalu? Lain lagi dengan adegan Godric Hollow saat natal. Coba perhatikan, meskipun bersalju, tapi tak ada satupun karakter yang mengeluarkan semacam-kabut ketika menghembus nafas, seperti lumrah terjadi ketika musim dingin turun. Terakhir yang membuat saya begitu gelisah, sesaat setelah menghancurkan liontin, Ronald mendesah “Masih ada tiga lagi yang harus kita hancurkan.” Sementara kita mengetahui Horcrux yang dihancurkan baru tiga, yakni cincin Morvolo Gaunt (Harry Potter and The Half-Blood Prince), buku harian Tom Riddle (Harry Potter and the Chamber of Secret) dan liontin Salazar Slytherin (Harry Potter and the Deathly Hallows). Berarti cuma ada enam Horcrux? Padahal seharusnya ada tujuh Horcrux kan? Harusnya Ron berseru “Empat!” Sebab memang masih ada empat, Diadem Ravenclaw, Topi Hufflepuff, Nagini, dan Harry Potter sendiri. Sepele memang, tapi setiap penggemar seri Harry Potter pasti akan terganggu dengan ini.

Harry Potter and the Deathly Hallows part.1 | 2010 | Sutradara: David Yates | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Pemain: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend