Fred Cavayé: Film Haruslah Mudah Dikenali Penonton

wawancara-fred-cavaye_hlgh

Sebagai nama baru di sinema Prancis, Fred Cavayé sejatinya sudah punya reputasi mendunia. Salah satu penyebabnya adalah The Next Three Days karya Paul Haggis. Film tersebut merupakan adaptasi Hollywood dari film pertama Cavayé, Pour Elle (Anything for Her), yang dirilis tahun 2010 silam. Di tahun yang sama, Cavayé merilis film panjang keduanya, Á bout portant (Point Blank).

Cinema Poetica mendapat kesempatan wawancara dengan Cavaye 8 Desember 2011, di acara Rendezvous with French Cinema, Singapura. Selama dua puluh menit, Cavayé bercerita sekilas tentang teknik bercerita, pendekatannya ke medium film, dan rencananya ke depan.

Dari dua film Anda, Pour Elle dan Point Blank, ada dua pola yang saya lihat. Pertama, Anda selalu meletakkan orang biasa ke dalam situasi-situasi heroik. Di Point Blank, ada seorang perawat yang mendadak harus menggunakan pistol untuk menyelematkan istrinya. Di Pour Elle, pola yang serupa terjadi.

Pada dasarnya, saya suka melihat orang biasa terjebak. Dalam kondisi tersebut, ia harus melakukan tindakan-tindakan yang luar biasa untuk menyelesaikan masalah. Saya jelas bukan yang pertama membuat cerita macam ini. [Alfred] Hitchcock dulu juga buat cerita seperti itu. Ada karakter the boy next door, mister nobody, orang-orang biasa. Karakter-karakter seperti itu yang penonton bisa kenali dengan mudah. Rasanya dekat. Penonton akan lebih mungkin mengidentifikasi dirinya dengan mister nobody ketimbang James Bond. Buatku, film haruslah mudah dikenali penonton, dan film seperti itulah yang saya usahakan buat.

Pola lainnya yang saya lihat: protagonis kedua film Anda adalah “suami baik-baik”, yang siap melakukan apa saja demi kekasihnya.

Betul sekali. Film-filmku aslinya adalah cerita cinta, bukan action-thriller. Itu hanya kemasannya saja. Jujur saja, saya senang membuat orang banyak lari. [Tertawa] Begitulah caraku bercerita. Saat saya sudah punya cerita untuk protagonisku, saya harus membuat dia berlari. Hanya dengan begitu ceritaku bisa bekerja. Dan buatku, cara terbaik untuk membuat seseorang berlari adalah dengan memaksanya menyelematkan orang yang paling ia kasihi di muka bumi ini. Cinta, elemen paling dasar dari segalanya. Elemen yang baik untuk menarik perhatian penonton mengikuti protagonis. Elemen yang baik juga untuk membuat protagonisku melampaui kehidupan sehari-harinya.

Melihat dua pola tersebut, saya penasaran: bagaimana Anda biasanya menyusun naskah? Apakah Anda memikirkan karakter atau kejadian terlebih dahulu?

Saya belum pernah menulis naskah sendiri. Selalu ada co-writer: Guillaurme Lemans. Jadi setiap naskah filmku sebenarnya adalah hasil kerja sama kami berdua. Kami biasanya memulai dengan sebaris kalimat, dan kami tambahkan apapun, mengembangkannya hingga penonton terpukau dan ikut tegang dengan segala kejadian cerita. Kalau saya tak salah ingat, naskah Pour Elle awalnya adalah kalimat ini: “Cari seorang karyawan kantoran, taruh istrinya ke dalam penjara, walaupun tidak ada salah apa-apa, lalu buat sedemikian rupa sehingga tidak ada jalan keluar kecuali kabur dari penjara.” Begitulah. Untuk Point Blank: “Istri sedang hamil, diculik, kemudian suaminya lari selama satu setengah jam untuk menyelematkannya.” Iya, Point Blank sesederhana itu. [Tertawa]

Dalam Point Blank, adakah kesulitan dalam memasukkan seorang perempuan hamil ke dalam banyak adegan laga? Pernahkah Anda mendapat komplain tentang hal tersebut?

Penonton ketakutan. Atau setidaknya begitu, menurut beberapa orang yang melapor ke saya. [Tertawa] Sebenarnya, supaya kamu tahu, aslinya saya tidak ada niat memasukkan karakter perempuan hamil ke dalam cerita. Dalam draft-draft awal tidak begitu. Sampai kemudian co-writer saya bilang begini, “Akan sangat gila kalau perempuan ini hamil.” Kebetulan, istri dia juga sedang hamil. Saya pun berpikir, sesuatu yang gila ini bisa menjadi sesuatu yang bagus. Akhirnya saya ubah ceritanya. Masuk karakter perempuan hamil, hanya untuk membuat ceritanya lebih ketat, lebih menegangkan. Pengaruhnya ganda: adegan laga dan perempuan hamil. Gabungan keduanya menjadikan Point Blank hiburan yang menarik.

Salah satu adegan dalam Point Blank (2010)

Saya dengar Anda sebelumnya seorang fotografer.

Iya.

Apa yang membuat Anda tertarik dengan sinema?

Untuk waktu yang lama, saya berusaha membangun karierku lewat fotografi. Tapi kemudian saya merasa fotografi tak menarik lagi. Apa yang saya mau lakukan ternyata adalah bercerita. Saya tak bisa melakukan itu dengan foto saja. Namun sinema adalah medium berbeda. Butuh kerja sama. Sinematograferku aslinya adalah seorang fotografer. Dia sudah bekerja dengan banyak sutradara, dan dia jelas sejuta kali lebih baik dalam fotografi ketimbang saya. [Tertawa] Karena sering kerja sama dia, saya menyadari bahwa sutradara film itu seperti kondektur. Untuk menjadi kondektur yang baik, kamu harus bekerja dengan banyak musisi yang baik pula. Untuk menjadi sutradara film yang baik, kamu harus bekerja dengan sekelompok aktor dan teknisi yang baik pula. Semua orang harus membantu sesamanya.

Saya melihat cerita-cerita yang Anda tulis berisikan karakter-karakter yang moralitasnya ambigu. Tidak hitam, tidak putih. Tidak pernah ada sikap yang jelas, kecuali kepentingan pribadi. Apakah Anda juga mengambil inspirasi dari film noir?

Saya terpengaruh oleh film-film Prancis dan Amerika. Dalam menulis, saya terpengaruh oleh trilogi Jason Bourne. Menurut saya, film-film itu yang membuat action-thriller tidak pernah sama lagi. Saya juga suka film-film [Jean-Pierre] Melville. Jadi, kurang lebih saya terpengaruh oleh keduanya. Ditambah dengan semua film-film polisi dan detektif yang pernah saya lihat, kebanyakan Hollywood, beberapa Prancis. Jadi, akan sangat ironis kalau Point Blank nantinya dibuat ulang oleh Hollywood. Sudah ada beberapa tawaran sebenarnya dari beberapa studio di Amerika. Saya yang disarankan menyutradarai remake-nya. Jadi ironis karena Point Blank adalah film Prancis yang terpengaruh oleh Hollywood. Saya adalah sutradara film Prancis yang sangat terpengaruh Hollywood. Sementara Hollywood meminta saya membuat ulang film Prancis rasa Amerika itu menjadi film Amerika. Itu baru namanya lingkaran setan. [Tertawa]

Bagaimana pendapat Anda tentang The Next Three Days? Apakah Anda merasa pendekatan yang diambil sudah pas atau malah terlalu Hollywood?

Sebenarnya, buat saya, apa yang terjadi pada saya melalui The Next Three Days adalah sebuah dongeng. Pour Elle adalah film pertama saya, dan tiba-tiba sineas berbakat seperti Paul Haggis membuatnya ulang. Saya tersanjung. Saya bisa bilang dia berbakat, karena The Next Three Days memiliki sejumlah adegan yang saya harap saya tulis sebelumnya. Penulisan ulang yang Haggis lakukan sangat baik. Salah satunya adalah adegan Russell Crowe dan Elizabeth Banks di penjara. Sangat menarik bisa melihat hasil karyamu sendiri diceritakan ulang dengan cara yang berbeda, dengan pemain yang berbeda.

Jadi, selain remake Point Blank, apa yang bisa kami antisipasi dari karya Anda selanjutnya? Apakah Anda akan membuat action-thriller seperti Pour Elle dan Point Blank lagi? Atau sesuatu yang berbeda?

Untuk sementara waktu, kurang lebih sama. Saya sedang menulis sebuah cerita polisi dan detektif. Saya harap tahun depan sudah mulai produksi. Sebenarnya, lebih banyak detektifnya daripada polisinya. Ceritanya tentang penebusan dosa seorang laki-laki.

Sepanjang wawancara ini, saya mendengar Anda menyebut “polisi” dan “detektif” beberapa kali. Menarik. Ada ikatan apa sebenarnya Anda dengan kedua profesi itu?

Sewaktu kecil, saya biasa bermain polisi-polisian (cops and robbers). Saat saya sudah dewasa, satu-satunya cara untuk bertahan di industri film adalah dengan tetap menjadi anak kecil, bukan? [Tertawa]

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend