Cai Lan Gong: Horor yang Tidak Meneror

cai-lan-gong_hlgh

Aileen tidak berkutik ketika A Kung, kakeknya, mendapuknya sebagai penerus tradisi penjaga Cai Lan Gong—sebuah keranjang sayur bertuah, yang telah berlangsung antar generasi ke generasi. Akung tak mau mendengar pendapat Aileen. Baginya, tak ada yang layak menerima tugas keluarga ini, kecuali Aileen. Ia masih lajang sebelum usia 21 tahun—syarat utama bagi calon penjaga Cai Lan Gong – yang membuatnya pantas untuk mengikuti upacara penasbihan. Di luar perkiraan, Chandra, asisten A Kung, menyabotase. Dengan bantuan Shifu Pei, Chandra meletakkan sebuah jimat penolak arwah jahat di bawah keranjang Cai Lan Gong dengan tujuan mengambil keuntungan dari kekuatan arwah yang bersemayam di dalamnya. Mengamuklah arwah yang terjebak selama empat ratusan tahun ini—arwah yang cantik jelita—bernama An Yi. Murka karena merasa dikhianati, An Yi memilih untuk balas dendam kepada orang-orang yang menghadiri upacara penasbihan: Aileen, Chandra, A Kung, Shifu Pei, dandua teman baru Aileen—Rhama dan Mary.

Membahas budaya Tiongkok dalam film horor Indonesia terhitung cukup menantang, karena memang tak banyak kisah mistis Tionghoa yang terjabarkan ke publik. Untuk membangun pengetahuan mengenai budaya Tionghoa itu sendiri, Cai Lan Gong dihadapkan dengan dua kebutuhan: membangun narasi yang penuh akan keterangan budaya Tionghoa dan mengartikan kebudayaan tersebut dengan perspektif penonton Indonesia.

Cai Lan Gong menjawab kebutuhan tersebut dengan menampilkan banyak detail mengenai budaya Tiongkok, tak hanya melalui simbol yang terlihat dan narasi yang diucapkan, tapi juga penjelasan rinci mengenai tiap kata dan dialog berbahasa Tiongkok. Penonton menjadi akrab dengan warna merah menyala dan kuning yang menghiasi dekorasi. Suara cempreng dan riasan menor An Yi yang  mengingatkan pada wanita opera-opera tradisional etnis Tionghoa. Shot panorama dalam adegan pemakaman Tionghoa pun tidak luput untuk ditampilkan. Mungkin ini salah satu jembatan untuk menghubungkan penonton Indonesia dengan dunia hantu Tionghoa. Tidak sulit rasanya menemukan makam Tionghoa di Indonesia.

Dengan membangun kedekatan tersebut, Cai Lan Gong memberikan penekanan pada mitos yang menjadi sentral ceritanya—perebutan kekuasaan atas arwah An Yi, dan balas dendam An Yi.  Hal ini dikuatkan dengan minimnya kesan mencekam dari hantu-hantu yang disajikan. Hantu-hantu muncul tidak terlalu meningkatkan adrenalin. Mereka muncul di tempat dan waktu yang terduga, seperti ketika malam gelap, di kursi goyang, balik pintu, dan kamar yang remang. Selain itu, riasan hantu pun kurang menakutkan dan kentara sekali efek visualnya.

Di lain sisi, segala informasi terjabarkan dalam film secara gamblang. Dialog para tokoh dipenuhi penjabaran mengenai asal usul An Yi dan Cai Lan Gong. Kejelasan informasi ini sayangnya malah berbuah celaka bagi filmnya. Dialog jadi tak lebih dari pengungkapan trivia belaka, yang hampir tidak berdampak bagi perkembangan cerita.

Dialog yang serba trivia ini ironisnya juga malah menyorot berbagai lubang dalam cerita Cai Lan Gong. Misalnya, ketika Chandra ingin menyabotase upacara Cai Lan Gong karena ia ingin mendapatkan keranjang yang dianggap dapat menjadikan pemiliknya kaya dan berkuasa. Mary, si fotografer amatir, bertanya secara tepat: jika Cai Lan Gong dapat membuat seseorang kaya, mengapa A Kung tidak kaya? Rumah A Kung terlihat sederhana, letaknya di pekarangan kuburan Tionghoa pula. A Kung lebih mirip penjaga makam yang memiliki banyak kawan makhluk halus. Pertanyaan Mary ini tidak terjawab sebab A Kung yang terkesan misterius ini mati dilempar beling oleh An Yi sebelum ia sempat menjelaskannya.

Lubang juga terasa ketika Mary menggunakan smartphone ketika ia ingin memotret upacara Cai Lan Gong. Mary terlihat bingung karena foto yang ia ambil, tepat ketika An Yi mengamuk, hilang. Foto itu ingin ia daftarkan dalam kompetisi foto National Geographic. Kesempatan kedua hadir ketika Chandra mengulang upacara Cai Lan Gong bersama Shifu Pei. Namun, kali ini, Mary tidak membawa kamera digital, layaknya fotografer profesional. Ia hanya membawa smartpnone-nya untuk mengabadikan momen Cai Lan Gong, tanpa perangkat cadangan. Aneh, sebab Mary sendiri yang bilang bahwa Cai Lan Gong momen teramat langka—ia seharusnya bersiap lebih. Tak terduga—atau malah sangat terduga—sosok An Yi malah bisa ditangkap dalam kamera smartphone.

Penggunaan smartphone dalam film mengingatkan kita pada label promosi Cai Lan Gong, yang disiarkan sebagai film pertama di Indonesia yang diproduksi dengan ponsel pintar. Harus diakui bahwa kualitas gambarnya memang layak untuk dapat diputar di bioskop. Namun, penggunaan smartphone ini tidak lebih dari product placement dalam film—kosmetik  yang tidak berfungsi apa pun dalam cerita. Akan terasa lebih menarik, jika fungsi ponsel pintar ini dapat ditautkan dengan cerita. Misalnya dengan menjadikan kamera sebagai sudut pandang orang pertama, seperti yang terjadi dalam Dread Out, permainan interaktif asal Indonesia, yang memakai perspektif ponsel pintar untuk menangkap bayangan dari hantu-hantu Indonesia.

Cantik Itu Menyakitkan

Elemen signifikan lainnya yang patut disorot adalah tokoh An Yi sendiri. Dalam film, warga Desa Yong Tai menuntut An Yi, karena menurut mereka kecantikan An Yi tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang masih kelihatan muda meski sudah berusia enam puluh tahun? An Yi pasti pakai ilmu sihir. Ia dianggap penyihir jahat, sehingga harus dimusnahkan. Setelah mendapat masukan dari Shifu Xian Min, leluhur dari Aileen, warga percaya bahwa satu-satunya cara untuk memusnahkan An Yi adalah dengan membakarnya. Perempuan itu pun mati dan arwahnya dimasukan ke dalam keranjang sayur keramat.

Penokohan perempuan penyihir cantik dalam Cai Lan Gong ini sesungguhnya merupakan klise menahun dalam sejarah film horor Indonesia. Singkatnya, sebagaimana yang tertuang dalam buku kompilasi esai Fear Without Frontiers: Horror Cinema Across the Globe (2013), ada dua jenis tokoh perempuan dalam film horor Indonesia: yang berkekuatan magis dan yang baik, taat, juga penurut. Si perempuan baik-baik menjadi ‘cantik’ karena tingkah lakunya—yang sejalan dengan norma dan harapan masyarakat akan peran perempuan di lingkungannya. Si perempuan berkekuatan magis digambarkan cantik secara fisik, yang dituding didapat dengan cara magis atau supranatural. Karena itu, ia dianggap sebagai ancaman bagi warga—khususnya laki-laki.

Kedua penokohan perempuan ini, dalam Cai Lan Gong, dapat kita temui pada sosok An Yi dan Aileen. An Yi yang dianggap mengancam karena memiliki kekuatan supranatural untuk menjadi cantik. Sedangkan, Aileen dijadikan sosok penurut yang terima saja diberikan Cai Lan Gong dan tokoh yang menghormati leluhur dan sayang keluarga. Sehingga, akhir film pun bisa ditebak, wanita penurut akan menang melawan wanita pembangkang. Patriarki terlanggengkan dengan manisnya.

Klise ini sangat disayangkan. Pasalnya, kecantikan An Yi sebenarnya bisa diolah menjadi nilai plus tersendiri, mengingat antagonis film horor Indonesia lima tahun terakhir ini kebanyakan hanya ingin tampil seram—dengan rambut berantakan dan kostum bersimbah darah. Para protagonis Cai Lan Gong tidak merasa takut dengan kehadiran hantu-hantu di sekitar mereka—kecuali ketika mereka menyerang. Bahkan, di suatu adegan dalam kamar, Aileen malah kesal dengan pintu lemari yang terbuka sendiri secara tiba-tiba. Berbeda, dengan film hantu pada umumnya yang tokoh utamanya malah pasrah pada kehadiran hantu atau berlari ketakutan.

Cai Lan Gong rasanya ingin memangkas jarak antara manusia dan dunia supranatural—bahwasanya, di Indonesia, kita sesungguhnya menjadikan dunia mistis sebagai keseharian kita, bahkan bagian dari leluhur kita. Pesan ini terasa dari awal film ketika Aileen berkata kepada Mary, “Ini cara kami menghormati leluhur.” Atau penjelasan A Kung kepada Aileen kenapa banyak hantu di rumah mereka, “Mereka teman A Kung.” Dalam Cai Lan Gong, kita jarang menemukan hantu-hantu yang menyeramkan. Sayangnya, lapisan cerita ini jadi tak terlalu kentara akibat plot film yang klise nan amburadul.

Cai Lan Gong | 2015 | Durasi: 86 menit | Sutradara: David Poernomo | Produksi: Rexinema | Negara: Indonesia | Pemeran: Ineke Valentina, Vien Febrina, Ronny P Tjandra, Anthony Xie, Rezca Syam, Putri Ariani, Burhan Salim

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (10)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend