Fish Tank: Marah, Kebingungan, dan Selalu Terancam

fish-tank_highlight

Di sebuah rumah susun di Inggris, seorang anak perempuan dan ibunya bertukar kegamangan. Ciri-ciri remaja, bila menilik apa yang dikatakan dalam American Beauty (Sam Mendes, 1999), remaja adalah “Angry, Insecure, and Confused”, premis itu sepertinya dipahami benar oleh Mia Williams yang belum lagi berusia 19 tahun. Anehnya, tidak hanya Mia, melainkan juga Ibunya, Joanne Williams, yang sepertinya belum kuasa meleraikan tabiat-tabiat keremajaan tersebut dari perangainya. Mia tak punya ayah –biasa-, ia punya seorang adik bernama Tyler, kulitnya jauh lebih gelap, bisa ditarik kesimpulan bahwa mereka berasal dari ayah yang berbeda, dengan ibu yang sama. “Ibu-ibu di Inggris memang aneh”, pikir saya waktu pertama kali menonton Fish Tank.

Perkara menjadi runyam ketika suatu hari Joanne membawa lelaki pulang kerumah, Joanne berpacaran didepan anak-anaknya yang entah apa kerjaannya. Tidak sekolah, tidak juga bekerja. Sehari-harinya, Mia hanya mondar-mandir ke Warnet, menonton video breakdance (semacam tarian yang menempatkan kepala penarinya dibawah dan kakinya diatas, macam lutung), dari video itulah Mia kemudian belajar menari. Meskipun merasa terganggu, Mia tak punya cukup alasan untuk benci pada Connor (Pacar Joanne), lelaki itu murah senyum, telaten mengajak Mia dan Tyler berpiknik dan tak jarang merogoh kocek setiap kali Mia kelaparan. Dalam Fish Tank saya melihat pola keluarga yang dibalik, hubungan asmara Joanne (si ibu) dan Connor yang naik-turun membuat Joanne berkelakuan tak ubahnya remaja, Mia (si anak) yang benci terhadap hal itu tak bisa berbuat apa-apa sebab bagaimanapun, ia lahir dari rahim Joanne. Secara praktikal, Mia adalah seorang ibu dan Joanne-lah anaknya.

Tak cukup sampai di situ, Connor juga melirik-lirik pada Mia, anak gadis itu memang sedang mekar-mekarnya. Semakin seringlah Connor memberinya uang, bahkan ia meminjami perekam digitalnya agar Mia bisa merekam demo breakdance dan mengirimnya pada agen pencari bakat. Sampai disini, Mia tak punya cukup tameng untuk bertahan. Rumah Susun dalam Fish Tank terlampau jauh untuk membahas persoalan moral.

Menonton Fish Tank rasanya seperti menonton film-film Dardenne Bersaudara ditambahi sekelumit adegan seks. Kamera yang dipegang langsung (handheld camera) dengan setia mengikuti ke manapun Mia berjalan, sehingga menambah sensasi keseharian dan menyemburatkan kesan bahwa persoalan Mia adalah persoalan sehari-hari bagi warga miskin di manapun di Inggris–meskipun sangat menggiriskan bahwa orang-orang miskin di Inggris masih saja sanggup membeli discman, pakaian sporty, dan compact disc original. Entah mentalitas mereka yang konsumtif, ataukah memang standar hidup di Republik Indonesia ini yang dijungkalkan terlampau rendah.

Fish Tank sukses menggerogoti kekacauan-emosi kelas bawah dan membawanya menjadi sebuah film yang sangat patut untuk ditonton. Meskipun harus sabar, karena diawal-awal, Fish Tank seperti sebuah video yang diabadikan dengan kamera handphone dan dioperasikan oleh orang bangun tidur (itu adalah strategi memantik emosi biar cepat panas, menurut saya) dan Fish Tank melakukannya dengan baik. David Denby dari The New Yorkers bahkan menyebutkan Fish Tank sudah sampai pada taraf yang sangat mengesankan sehingga bisa dibandingkan dengan film legendaris, The 400 Blows, which I totally disagree. The 400 Blows tetap berpuluh-puluh kali lipat lebih baik. The 400th Blows menyumbangkan bahasa sinema baru, sementara Fish Tank belum sampai kesitu.

Fish Tank | 2009 | Sutradara: Andrea Arnold | Negara: Inggris | Pemain: Katie Jarvis, Kierston Wareing, Rebecca Griffiths, Charlotte Collins, Michael Fassbender.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend