Catatan Harian dari PIFAN 2012 #3

catatan-harian-pifan-03_hlgh

Cuplikan dari film Belenggu

Seringkali ada anggapan bahwa festival film sebenarnya ada sebagai etalase bagi film-film yang tidak terjala oleh industri arus utama. Lewat festival film, film-film datang dari berbagai negara. Karya yang hadir seringkali bukanlah film arus utama bahkan di negara asalnya. Salah satu fokus utama festival film adalah mempertontonkan film yang tak bisa dilihat di bioskop sehari-hari. Bagi banyak orang, fokus ini memberi kecenderungan bahwa festival film adalah pesaing industri film utama. Ia menjadi kutub kebalikan industri arus utama yang seringkali hanya mengedepankan beberapa film saja.

Perbedaannya sebenarnya tidaklah sehitam-putih itu. Festival film seringkali dimanfaatkan oleh pembuat film justru sebagai pintu untuk masuk ke industri arus utama. Lewat festival film, pembuat film bisa menarik perhatian distributor, eksibitor, bahkan festival film lain. Ditambah lagi fakta bahwa sekarang banyak festival film yang menyediakan ajang cari rekan bagi para pembuat film untuk mewujudkan ide-ide kreatif mereka. Ajang cari rekan ini berfungsi dua: mencari dana untuk produksi film dan mencari perhatian para rekan potensial. Lewat ajang NAFF (Network of Asian Fantastic Films), PIFAN tampak berusaha penuh untuk memenuhi kedua fungsi ini. Beberapa wakil dari lembaga pendanaan, distribusi, dan eksibisi tampak berseliweran sepanjang festival. Mereka berasal dari berbagai negara dan institusi, mengendus proyek-proyek baru yang sekiranya menguntungkan untuk diperkenalkan ke khalayak luas.

Tahun ini, lima karya-dalam-proses dari Indonesia datang ke NAFF 2012 untuk mencari dana dan partner potensial. Mereka adalah Homestay (Sutradara: Nitta Nazyra C. Noer, produser: Rusly Edy), Trauma (Sutradara: Sidi Saleh, produser: Nita Triyana), Blue Blood (Sutradara: Billy Christian, produser: Vera Lasut), Curious Grandmas: The Murder of Annet van Houten (Sutradara: Lucky Kuswandi, produser: Sammaria Simanjuntak), dan Beautiful Beasts (Sutradara: Paul Agusta, produser: Kyo Hayanto). Kelima karya ini datang dalam rangka Project Spotlight, yang memang dicanangkan oleh PIFAN 2012 secara khusus untuk mengangkat karya-karya dari Indonesia. Setelah proses dengar proposal, akhirnya Blue Blood keluar sebagai pemenang dan berhak atas hadiah sejumlah 10 juta won, setara dengan kurang lebih 80 juta rupiah. Jumlah itu tentu masih kecil dibanding dana produksi rata-rata film Indonesia yang berkisar antara 1 hingga 12 milyar rupiah. Ajang pitching berskala antarbangsa macam NAFF tidak hanya berfungsi sebagai penambah pundi-pundi dana, tapi juga berfungsi sebagai ajang promosi proyek. Terlepas dari menang atau tidak, proyek yang masuk ke program pitching setidaknya sangat berpotensi untuk menarik perhatian para investor, baik untuk sekedar menyuntik dana, memberikan peluang produksi bersama (co-production), ataupun sekedar memberikan petunjuk untuk masuk ke program pitching lain di festival film lain.

Heboh Belenggu

Belenggu adalah film terbaru Upi Avianto yang ikut berkompetisi bersama sebelas film lain di PIFAN. Ia bercerita tentang Elang, seorang lelaki introvert yang tinggal sendiri di apartemennya yang muram dan misterius. Dalam tidurnya, ia kerap didatangi oleh sosok kelinci pembunuh yang menggorok leher tetangga sebelah kamarnya. Satu-satunya tempat yang sering ia kunjungi adalah kedai kopi di mana ia bisa mendengar kabar terbaru tentang sekelilingnya. Suatu pagi, Elang tengah terlibat obrolan serius dangan pelayan kedai tentang kasak-kusuk pembunuh misterius yang sedang marak di wilayah mereka ketika secara kebetulan, seorang detektif ternyata mencuri dengar obrolan itu. Elang menaruh curiga bahwa detektif itu tengah mencurigainya sebagai salah satu tersangka, hanya karena ia seorang introvert dan tak banyak bicara.

Selanjutnya, Elang memasuki labirin-labirin yang rumit dan bercabang. Khayalan pribadinya membaur dengan dunia nyata. Pembuat film tampak tak mau repot-repot memisahkan mana yang mimpi dan mana yang nyata, atau sebaliknya, justru setengah mati membaurkan keduanya. Usaha ini berfungsi sangat baik, penonton mau tak mau harus memilah-milah sendiri,  merunut detail kejadian sendiri, lalu menyimpulkan sendiri. Dalam sebuah adegan, Elang tiba-tiba sudah duduk di kursi penonton sebuah pertunjukan teater. Di panggung, kelinci pembunuh sudah asyik melempar-lempar pisau ke arah seorang perempuan. Adegan panggung teater ini muncul beberapa kali, mengingatkan pada satu sekuen penting dalam film Mulholland Drive karya David Lynch. Bedanya, yang tampil di Mulholland Drive adalah seorang penyanyi opera yang sayu, sedangkan di Belenggu yang tampil adalah si kelinci pembunuh. Keduanya sama-sama berlangsung di alam antara khayalan dan kenyataan, antara mimpi dan realita.

Campur aduk antara alam pikiran Elang dan alam kenyataan tiba-tiba berhenti di tengah-tengah film dengan datangnya dua sosok polisi, yang sontak melontar ingatan pada film Se7en karya David Fincher. Film yang pada awalnya diteropong dari sudut pandang Elang sekarang berpindah ke sudut pandang kedua polisi detektif ini. Mereka menelusuri masa lalu Elang, mencari tahu segalanya dari sisi logis, yang kemudian bukannya berimbas pada semakin berbaurnya mimpi dan realitas, tapi berimbas pada penanggalan simpul teka-teki di awal film satu demi satu, sembari merunut kembali teka-teki yang baru.

Meskipun referensi visual Belenggu tampak begitu transparan, tapi tak ada kesan mencontek karena semuanya memang memiliki posisi penting bagi perkembangan cerita. Belenggu diceritakan bak puzzle yang berjarak yang seiring durasi berjalan berusaha mengurangi jarak dan memperjelas diri. Panggung teater di babak awal Belenggu adalah jarak sekaligus dinding yang tak bisa ditembus Elang dengan segala gelap pikirannya. Jangankan jarak antara kursi penonton ke panggung, Elang bahkan kerap kali tak mampu menaklukkan jarak antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya, antara pikiran dan realitanya. Jarak ini yang kemudian dikurangi ketika dua sosok detektif masuk ke layar. Mereka yang berperan mengisi jarak kosong antara Elang dan dunia yang ia anggap tak berpengaruh. Mereka menjadi signfikan dari sudut pandang sebab dan akibat.

Pada sesi tanya jawab, banyak penonton yang bingung sebab Belenggu memang bermain dengan konstelasi ketertukaran karakter yang teliti. Bahkan ada penonton yang mengajukan pertanyaan “Karakter yang satu itu tadi bagaimana, ya? Ke mana dia?” Pertanyaan itu sontak dijawab oleh penonton lain yang (merasa) punya jawabannya. Beberapa detik kehilangan konsentrasi, narasi Belenggu tak akan bisa ditangkap secara utuh.

Meskipun tidak menang dalam kompetisi (peraih gelar film terbaik adalah Space Brothers karya Mori Yoshitaka), Belenggu tetap berhasil menarik simpati penonton sebab ianya sendiri disusun oleh kreatifitas yang sedemikian detil. Penonton yang mengikuti PIFAN dari tahun ke tahun tentu akan mengait-ngaitkan film ini dengan Pintu Terlarang, karya Joko Anwar yang juga tayang di PIFAN beberapa tahun sebelumnya.  Sesuai tulisan juru program dalam katalog festival, Belenggu menjadi bukti selanjutnya bahwa Indonesia memang adalah gudangnya film-film genre berkualitas.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend