Badai di Ujung Negeri: Mencari Klimaks dalam Pecahan Aksi

badai-di-ujung-negeri_highlight

Menikmati film bukan hanya sekadar berkutat di dalam plot cerita yang disuguhkan. Kini menikmati indahnya alam Indonesiajuga bisa menjadi alasan tepat untuk menikmati sebuah film. Kali ini suguhannya cukup spesial: menikmati tampilan alam di pulau Sumatera, sekaligus aksi peperangan tentara marinir di laut bebas. Setelah beberapa film laga Indonesia dipuja-puji di beberapa festival film internasional, hadir lagi satu karya anak bangsa, Badai Di Ujung Negeri, yang mengedepankan laga sebagai sajian utama.

Film ini dibuka dengan percakapan dua sahabat di pinggir laut. Badai (Arifin Putra) bersama Nugi menikmati laut, tanpa ada ombak melintasi mereka berdua. Tahun berlalu, Badai pun tidak lagi tenang seperti dulu. Ia kehilangan Nugi yang meninggal di laut. Pengalaman pahit itu meninggalkan luka mendalam. Kakak Nugi, Joko (Yama Carlos), masih menyalahkan Badai atas insiden itu. Secara perlahan mereka berdua memisahkan diri namun tetap berada di jalur yang sama. Keduanya menjadi tentara dan bertemu kembali saat Badai bertugas di Pulau Sumatera. Ketegangan keduanya tidak bisa dihindari. Joko memilih untuk menjaga jarak dengan Badai agar luka lamanya tak lagi terkoyak. Badai pun memilih lebih dekat dengan Anisa (Astrid Tiar), gadis asli pulau tersebut yang membuatnya betah lebih lama menjalani tugasnya sebagai tentara.

Masalah pun datang satu persatu. Warga dibuat resah dengan munculnya korban tewas tak dikenal di laut pesisir. Puncaknya ketika Dika, anak penduduk lokal, tewas tertembak. Badai dan kawan-kawan pun mencoba mencari tahu siapa pelaku di balik kejahatan ini. Ternyata masalah yang ditemukan bukan sekadar pembunuhan belaka saja. Ada sindikat perdagangan manusia dan senjata yang terlibat. Celakanya lagi, Anisa tidak sengaja ikut terseret ke dalamnya.

Badai Di Ujung Negeri berusaha menampilkan aksi kepahlawanan seorang laki-laki yang dibalut rasa bersalah yang tinggi. Di awal film, Badai digambarkan sebagai sosok yang tenang, dan menjadi penengah bagi kakak beradik Nugi-Joko. Sayangnya karakter itu seolah tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya Nugi yang menyebabkan kematian. Sejak itu, Badai seperti menutup dirinya dan berusaha membayarnya dengan pengabdian pada masyarakat pesisir. Usaha-usaha penyelamatan dan penyelidikan Badai dan kawan-kawan juga merupakan bentuk tanggung jawab atas tragedi yang menimpa Nugi. Joko juga berperan menjatuhkan kepercayaan diri Badai setiap kali Badai berusaha bertindak. Hal ini terlihat saat Badai menggendong salah satu pasien balita di klinik pesisir, Joko refleks mengatakan, “Hati-hati pegang anak orang, nanti celaka.” Ucapan itu merupakan sindiran terhadap masa lalu Badai. Puncaknya saat kematian Dika. Badai seperti mengalami deja vu kembali kehilangan orang terdekatnya.

Dua unsur yang sangat ingin ditampilkan sang sutradara nampaknya adalah sisi melankolis seorang Badai sekaligus peran heroiknya sebagai tentara. Akibat minimnya, sinkronisasi adegan-adegan baku hantam, unsur melankolis nampaknya lebih dominan dibandingkan sisi heroiknya. Sesaat kita disuguhkan adegan baku hantam, mendadak adegan berpindah ke adegan lain sebelum menemukan titik puncak di adegan baku hantam tersebut. Hal ini tentu akan mempengaruhi adrenalin penonton. Di tengah-tengah adegan aksi yang tegang adegan, film mendadak pindah ke adegan romantis antara Badai dan Anisa. Ketegangan yang dibangun lewat percakapan dan scoring jadi kedodoran sendiri akibat rangkaian adegan yang terkesan tidak bersambungan. Tersisa celah bagi penonton dan akhirnya justru menjadikan turunnya adrenalin yang sebenarnya sudah terbangun secara perlahan, dan membutuhkan titik puncak untuk bisa melepaskan energi awal tersebut. Sayangnya juga, celah itu akhirnya justru membuat adegan-adegan dalam film tersebut seperti terpecah-pecah dan tidak utuh.

Jalannya film Badai Di Ujung Negeri sebenarnya terasa mulus di awal lewat percakapan Badai dan Nugi, namun perlahan seperti melepaskan diri satu persatu. Entah hal ini akibat editing yang membuat adegannya berjalan sendiri-sendiri, entah pembuat film yang kurang telaten menyatukan adegan laga dengan drama. Hal tersebut membuat penonton sulit merasakan klimaks saat dari sejumlah adegan kunci dalam film. Sebut saja adegan baku tembak, adegan drama cinta Badai dengan Anisa, dan adegan ketegangan persahabatan Badai dengan Joko, yang sama-sama berusaha memperjelas masalah yang selama ini mereka hadapi.

Badai sebagai tokoh utama layaknya bisa lebih mengekspresikan emosi dan juga karakter secara mendalam, sayangnya Arifin Putra tampaknya belum total menampilkan karakter tersebut. Kekuatan tokoh Badai sebagai pemeran utama seolah tertutup oleh pemeran pembantu dari segi totalitas emosi karakter yang ditampilkan.  Dari awal, Badai muncul sebagai tokoh utama yang begitu menunjukkan sikapnya sebagai pahlawan sejati, baik bagi penduduk lokal maupun Anisa. Kisah masa lalunya bersama Nugi dan Joko terkadang muncul sebagai bagian dari sisi melankolisnya dan menunjukkan emosi yang tertahan selama ini. Sikap dramatis Badai tidak langsung terlihat saat amarahnya muncul. Ia menahannya sejenak, sebelum akhirnya melepaskan segalanya. Hal ini bisa kita lihat saat Badai menemukan Dika tewas tertembak. Ia menunjukkan kesedihan yang mendalam berbaur dengan amarah yang luar biasa. Namun yang tampak jelas justru Badai seperti kehilangan arah dan putus asa. Barulah setelah meluapkan kekesalannya pada penembak yang tertangkap, emosi Badai baru memuncak dan diluapkan dengan sangat berapi-api.

Berbeda dengan Badai, Joko yang diperankan Yama Carlos menunjukkan konsistensinya lewat karakter yang kaku, dingin, sekaligus menyimpan dendam pada Badai. Sikap itu ia tunjukkan pasca kematian Nugi sampai akhirnya ia kembali bertemu Badai. Bukan hanya kekakuan sikapnya tetapi juga pemilihan kata-kata untuk menyerang Badai: tidak perlu panjang lebar namun langsung menohok. Penonton seolah diajak oleh Joko untuk ikut membenci Badai dan sulit untuk memaafkan kesalahannya. Lain lagi dengan Anisa. Peran Astrid Tiar ini mengalir begitu natural dan begitu menyatu sebagai penduduk lokal, yang terkadang begitu membenci para aparat yang bertugas tetapi juga tidak jarang membutuhkan bantuan mereka. Sikap Anisa yang sesekali keras perlahan-lahan melunak di depan Badai. Karakter Anisa justru sebenarnya bisa menjadi benang yang mengaitkan keseluruhan film, lewat ketegangan yang ia lalui sekaligus drama-drama yang menjadi pemanis film ini.

Satu tokoh yang sangat mencuri perhatian adalah karakter yang diperankan Jojon. Perannya yang selama ini dikenal sebagai komedian seolah luruh dalam topeng Pak Piter, yang keji dan merupakan tokoh di balik skandal perdagangan senjata dan manusia di Pulau Sumatera tersebut. Lewat permainan ekspresi dan juga watak Pak Piter, Jojon menampilkan konsistensi tokoh antagonis yang diingat sepanjang film.

Terlepas dari segala klimaks yang sulit ditemukan antar adegan sepanjang film, satu bagian yang tidak boleh luput dari perhatian adalah aransemen musiknya. Sejak awal film, scoring yang ditampilkan menunjukkan identitasnya sebagai musik etnik dan memperjelas latar yang dipakai Badai Di Ujung Negeri. Musik tersebut yang akhirnya memegang peran penting sebagai perekat jalannya film, baik saat momen-momen dramatisnya maupun saat ketegangan aksi peperangan. Suasana yang dibangun dengan musik mulai dari suasana tenang percakapan Badai & Nugi di awal, romantisme Badai dan Anisa, sampai ketegangan perang tentara dengan komplotan penjahat diceritakan lewat musik yang mengalir. Musik layaknya menjadi pelengkap adegan-adegan dalam film tetapi dalam Badai Di Ujung Negeri justru berperan menyatukan adegan yang berjalan masing-masing. Lewat emosi yang dihadirkan musik, emosi dalam adegan muncul dan bisa tersampaikan serta akhirnya dirasakan penonton.

Makin maraknya film Indonesia ber-genre action menjadikan pemicu beragamnya genre serupa yang muncul dan siap dinikmati penonton film Indonesia. Bukan sekadar mencoba menampilkan adegan penuh tembakan, ledakan atau baku hantam saja tetapi sepatutnya juga keunikan dari adegan action itu sendiri. Tanpa harus berkilah dengan alasan minim teknologi dibandingkan film asing, film action lokal harusnya bisa lebih berani menampilkan adegan-adegan yang berani, serta tidak memberikan ruang bagi para penonton untuk bernafas meski hanya sejenak. Adegan yang penuh aksi ekstrim, dan koreografi baku hantam yang tidak ragu-ragu tentu membutuhkan keberanian untuk ditampilkan ke hadapan penonton. Koreografi atau strategi bela diri bisa jadi kekuatan dalam film aksi, sekaligus menunjukkan esensi lokal sebagai identitas action lokal. Ketegangan bisa dipicu dari runutan adegan laga tanpa henti dan makin memuncak tiap menitnya. Nantinya, ketegangan itu akan menjadikan sebuah aksi klimaks dalam film, tanpa mementingkan siapa sebenarnya pahlawan atau lawan yang nantinya memenangkan pertarungan.

Badai Di Ujung Negeri | 2011 | Sutradara: Agung Sentausa | Negara: Indonesia | Pemain: Arifin Putra, Astrid Tiar, Yama Carlos, Deddy Murphy Avivu, Edo Borne, Priady Muzy, Adrian Alim H, Jojon, Ida Leman
Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend