Vulgar: Mengapa Kekerasan Harus Dirayakan?

 

vulgar-ladya-cheryl_hlgh

I

Ladya Cheryl membuat film pendek berdurasi empat menit. Seperti durasinya yang minim, baik teknis, wacana, dan estetikanya pun ikutan minim. Menit-menit pertama diisi dengan gambar tikus yang berlarian di dalam sebuah rumah kosong. Kemudian sisa film diisi dengan adegan tikus yang terlindas ban mobil berkali-kali di sebuah jalanan yang ramai, lalu selesai. Penonton ditinggalkan dalam kondisi tanpa pegangan. Untuk menyelamatkannya, Ladya menuturkan saat sesi Q&A mengenai inti cerita yang kurang lebih seperti ini, ia ingin bercerita mengenai tikus-tikus yang terperangkap di dalam rumah kosong dan ingin keluar dari ruang tersebut. Semacam bisa masuk, tapi susah keluar. Ternyata setelah keluar, tikus-tikus itu justru terlindas mobil-mobil yang mengebut di jalan raya.

Tidak perlu menjadi seorang ahli tikus untuk mempertanyakan narasi Ladya. Menurut pengalaman empirik bersama, kita bisa mendeskripsikan tikus sebagai binatang yang menyukai tempat kotor, tidak teratur, area yang jarang ditempati atau minim pergerakan, dan juga gelap. Tidak hanya itu, tikus juga memiliki indera penciuman dan pendengaran yang baik, juga cerdas dalam menemukan jalan pintas, celah, sehingga sangat gesit dalam menghindari diri dari ancaman apa pun. Itulah mengapa kita sulit sekali menangkap tikus yang cerdas kecuali dengan jebakan yang tak kalah cerdas mendekati licik. Lalu, darimana logika mengenai tikus yang terjebak dan ingin keluar dari ruang gelap dan kotor yang merupakan habitatnya menuju jalanan ramai yang jelas dihindari tikus. Mari tinggalkan logika si sutradara dan membaca apa saja yang tersaji secara visual dari sebuah film.

II

Ada satu hal yang sedang menjadi trend dalam budaya kontemporer Indonesia belakangan ini, yaitu representasi kekerasan dalam bahasa sinema. Bahasa yang seperti apa? Sayangnya, bahasa yang superfisial. Eksploitasi kekerasan terhadap objek dalam adegan, didukung teknis yang manipulatif serta efek visual yang membuat ngilu. Semakin bagus efeknya, semakin keren filmnya, kira-kira begitulah rumusnya. Efek bagus kira-kira seperti darah yang muncrat di mana-mana, bagian tubuh yang rusak tak beraturan, atau metode pembunuhan dan penyiksaan yang semakin jauh dari realitas dunia inderawi. Dalam estetika gambarnya seperti, penggunaan close-up terhadap objek yang disiksa untuk menghadirkan kengerian kepada penonton atau adegan kekerasan yang diulang-ulang untuk mereproduksi ketegangan secara terus menerus hingga nanti mencapai titik puncak yaitu kematian si objek.

Representasi kekerasan dalam sinema sedang mencari tempatnya dalam film Indonesia. Tercatat ada beberapa judul sebagai rujukan. Misalnya: Rumah Dara, Belenggu, Modus Anomali, The Raid, dan yang baru saja tayang The Killers. Belum lagi di ranah film pendek. Bisa dicek, banyak hasil karya sutradara muda yang bermain di wacana kekerasan dengan efek darah muncrat kemana-mana. Tentu sebagai kenyataan merupakan kewajaran untuk mengeksplorasi kekerasan menjadi sebuah karya seni, baik literatur, lukisan, maupun film itu sendiri. Pertanyaannya kemudian, kekerasan seperti apa yang bisa diterima dalam ranah sinema?

Banyak sekali tulisan yang sudah mempersoalkan usaha untuk me-visualkan realitas kekerasan ke dalam bahasa sinema yang justru jauh dari realitas itu sendiri dan akhirnya terjebak dalam destruksi makna kekerasan itu sendiri. Paradoks antara realitas di dunia nyata dan film itu dapat kita lihat dalam film The Act of Killing. Si pelaku pembunuhan membuat pengakuan bahwa pada awalnya mereka membunuh korban dengan cara yang paling vulgar. Lama kelamaan ada perasaan risih saat melihat darah berceceran dari tubuh korban yang sangat menderita ketika menuju kematian. Dicarilah cara yang lebih cepat dan bersih untuk mengantarkan korban kepada kematian, yaitu dengan mencekik leher korban dengan kawat. Atau bagaimana dengan motif serupa, tentara SS Nazi membuat kamar gas untuk mengeksekusi tahanannya. Kecenderungan pelaku kekerasan mengeksekusi korbannya di dunia inderawi cukup paradoks dengan bagaimana kekerasan dihadirkan secara “mewah” dalam sinema.

Dasar itulah yang kemudian membuat banyak orang juga mengkhawatirkan bagaimana efek psikologis ke penonton ketika terus menerus dipenetrasi gambar-gambar kekerasan. Mengingat bahwa manusia mampu untuk memulihkan keseimbangannya melalui adaptasi ulang diri dengan kenyataan, sehingga kemudian gambar-gambar seperti itu menjadi hal yang biasa bahkan bisa sampai ke titik suatu kesenangan. Ketika itu menjadi kesenangan, dikhawatirkan menjadi suatu kebutuhan.

Apa itu realitas tentu dikembalikan kepada subjek yang merasakan kehadiran realitas si objek. Sejauh ia merasakan kehadiran dan memberi ijin kepada realitas sebuah objek, tentu realitas itu mutlak menjadi realitas sebenarnya. Terlepas dari apakah itu benar-benar terjadi dalam dunia inderawi atau tidak. Dengan itu, usaha me-visualkan realitas sudah rancu dari awal mulanya. Tanpa ingin mendefinisikan standart apa yang layak diterima sebagai sebuah film, ada baiknya melihat film sebagai produk itu sendiri, dan tidak usah meributkan tanggung jawab sineas kepada penonton. Kita bergeser kepada tanggung jawab seorang pembuat film terhadap film itu sendiri. Bergeser dari me-visualkan realitas menuju realitas dalam visual itu sendiri.

III

Film yang dapat diterima secara baik adalah film yang utuh. Sebagai sebuah produk film yang utuh, tentu dibutuhkan struktur, estetika, dan logika yang utuh pula. Itulah realitas dalam visual. Singkatnya, agar sebuah realitas dapat nyata terhadap subjek, maka ia menuntut keseimbangan. Semakin seimbang atau utuh komponennya, maka ia semakin nyata terhadap subjeknya. Dalam hal ini, pada awal sekali subjek atau penikmat film terkena hukum afektifitas.

Sekitar 75% film Vulgar diisi oleh adegan tikus yang terlindas mobil. Di dalamnya tidak lupa close-up tikus yang tengah meregang nyawa dengan darah segar berceceran, juga adegan tikus terlindas mobil yang berulang-ulang. Selain usaha untuk menghadirkan kekerasan secara vulgar, baik struktur, estetika, maupun logika terlihat dikesampingkan. Seakan tidak begitu penting kecuali bagaimana film menangkap kekerasan dalam mediumnya. Banyak film serupa yang jatuh kepada format seperti ini. Sebuah film yang hadir hanya sebagai “perayaan” akan kekerasan, minus struktur, narasi, estetika, dan logika. Film yang jauh dari kata utuh. Sebagai film, estetika Vulgar ikut meramaikan “perayaan kekerasan” tersebut. Dan seperti film sejenisnya, Vulgar juga ikut mereproduksi klise yang sama.

Vulgar | 2013 | Sutradara: Ladya Cheryl | Negara: Indonesia

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend