Territorial Pissings: Bias Gender dalam Adegan Sederhana

territorial-pissings_highlight

When I was an alien, cultures weren’t opinions…” Kutipan ini adalah sepenggal lirik lagu Territorial Pissings yang dipopulerkan Nirvana. Entah Jason Iskandar, sang sutradara, memang mengadaptasikan interpretasinya terhadap lagu ini menjadi film pendek garapannya atau ada alasan lain. Pastinya, lirik lagu tersebut sedikit banyak berasosiasi dengan apa yang diberikan Jason dalam film pendeknya yang berjudul sama.

Territorial Pissings mengawali adegannya dengan sepasang kekasih yang berada di dalam mobil Terrano hitam. Konflik dalam film terjadi saat si perempuan ingin merokok tapi dilarang berulang-ulang oleh si laki-laki. Lucunya, si laki-laki malah merokok setelah melarang pacarnya merokok. Si laki-laki seakan menunjukkan kekuasaan dan kekuatannya dengan melarang pacarnya merokok, tapi mengizinkan dirinya sendiri untuk merokok.

Keadaan kemudian menjadi paradoks saat si laki-laki berulang-ulang gagal menyalakan mesin mobilnya tapi si perempuan bisa menyalakannya dengan mudah. Kekuasaan dan kekuatan yang sebelumnya ia bangun dengan ego yang tinggi, runtuh dalam sebuah adegan sederhana.

Film ditutup dengan miniatur mobil Mickey dan Minnie Mouse yang menempel pada dashboard mobil disorot secara penuh. Pada miniatur tersebut, Mickey-lah yang menyetir mobil dan Minnie duduk di kursi penumpang. Mereka sedang tersenyum dan tampak bahagia. Penggambaran ini seakan mengajak penonton untuk melakukan perbandingan dengan keadaan sepasang kekasih tadi yang sangat berlawanan.

Territorial Pissings berdurasi tujuh menit. Durasi yang singkat dan konflik yang ringan harusnya memberi penonton kesempatan lebih untuk mencerna maksud dari sang sutradara. Mari baca kembali lirik lagu Nirvana tadi, “When I was an alien, cultures weren’t opinions.” Saat aku menjadi alien, kebudayaan bukanlah pilihan. Kebudayaan untuk menjadikan laki-laki “lebih” dari pada perempuan, stereotipe berdasarkan jenis kelamin, dan subordinasi terhadap perempuan, bukanlah suatu pilihan dalam dunia yang alien atau “asing”. Sayangnya, dunia yang kita tinggali saat ini bukanlah suatu dunia “asing”. Kita masih dituntut untuk mengikuti pilihan-pilihan kebudayaan yang disajikan. Territorial Pissings ternyata menyajikan isu gender tanpa mengatakannya langsung secara gamblang kepada penonton.

Kenyataan yang ada dalam masyarakat kita saat ini, perempuan bisa dilarang untuk melakukan suatu hal hanya karena dia seorang perempuan. Misalnya saja, tidak aneh mendengar kalimat, “Jangan merokok! Perempuan kok merokok?” Sungguh menyedihkan untuk melarang suatu hal hanya karena jenis kelamin yang ia miliki sejak lahir, yang bahkan tidak bisa ia pilih sendiri.

Tidak hanya perempuan yang kemudian “dirugikan” dengan adanya patok kebudayaan gender ini. Kaum laki-laki tidak jarang terjebak dalam stereotipe yang juga merugikan mereka. Misalnya saja, laki-laki yang dianggap lemah bila menangis. Atau dalam konteks film ini, dianggap lemah dengan membiarkan perempuan menyetirkan mobil untuknya.

Manusia yang mengaku sudah modern dan memiliki peradaban yang tinggi dengan segala macam gerakan usaha penyetaraan gender, ternyata masih terkungkung dalam suatu penjara yang sering disalahartikan sebagai kodrat. Laki-laki dan perempuan dianggap memiliki suatu kodrat yang apabila dilanggar, akan menjadikan mereka sebagai sosok yang “aneh” dan tidak berterima dalam masyarakat. Padahal, kodrat itu sendiri tidak memiliki tolok ukur yang jelas.

Salah satu fungsi penting kesenian adalah sebagai pemberi katarsis bagi penikmatnya. Apa katarsis yang terjadi setelah menikmati film ini? Berhenti melihat ke sekitar lalu sejenak berkaca pada diri sendiri. Apa kita sendiri telah bebas dari penjara kodrat itu? Atau ternyata kita hanyalah miniatur Mickey dan Minnie dalam mobil, yang selalu tersenyum dalam zona nyamannya, diam dalam kodrat yang dianggap “benar” oleh sekitar, lalu akhirnya bahkan tidak bergerak ke mana pun?

Territorial Pissings | 2010 | Sutradara: Jason Iskandar | Negara: Indonesia | Pemain: Yovita Ayu, Deo Grasianto

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend