Trust: Memasuki Zona Percaya Diri Lewat Tombol Enter

trust-film_highlight

Bagaimana testimonial yang ada di dinding halaman profil pribadi Facebook atau Myspace bisa mempengaruhi pribadi kita? Apakah kita bisa mengukur ketulusan dari apa yang tertulis secara virtual? Bisakah kita meyakini ribuan teman di daftar teman Facebook atau followers Twitter itu benar-benar nyata memuji atau mengenal kita ketika berpapasan di dunia nyata? Lepas dari segala benar atau salah pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, teknologi membantu beberapa dari mereka yang punya masalah dalam bersosialisi dan berkomunikasi untuk bisa menikmati hubungan sosial virtual tersebut secara nyata nyaris tanpa beban. Tanpa tatap muka, hanya jentikan jemari yang memainkan kata dan makna, yang terkadang tanpa sadar diputarbalikan.

Trust, film yang awalnya saya kira bergenre thriller ini, merupakan karya sutradara David Schwimmer, aktor yang lebih dikenal dalam perannya sebagai Ross Geller di serial televisi Friends. Mengusung tema dilema remaja saat masa pubernya, film yang dibintangi Clive Owen, Catherine Keener dan Liana Liberato ini ditayangkan perdana di Festival Film Toronto 2010 lalu.

Kisahnya bermula ketika Annie, gadis empat belas tahun, mulai mengenal dunia virtual lebih dari sekadar mendapat teman baru, mengunggah foto, dan saling bertukar testimonial. Annie aktif dalam chatroom dan mulai akrab mengenal Charlie, laki-laki yang membuatnya berbunga-bunga tiap malamnya. Charlie adalah sosok idaman yang pernah Annie bayangkan. Ia adalah seorang atlit di sekolahnya, berambut pirang dan berbadan atletis. Intensitas hubungan Annie meningkat dari sekadar chatting dan telepon. Annie akhirnya bertemu dengan Charlie, sayangnya Annie menuai kekecewaan sejak pertemuannya. Charlie bukanlah sosok laki-laki yang duduk di senior year seperti apa yang selama ini dikatakannya. Charlie bukanlah laki-laki pirang dengan tubuh atletis, yang selama ini Annie bayangkan lewat foto yang dikirimnya. Annie dengan segala fantasinya hancur karena telanjur mempercayai semua kata-kata Charlie, yang membuatnya merasa sempurna sebagai perempuan yang baru puber. Perasaan Annie yang begitu kuat terhadap bayangan Charlie akhirnya mengacaukan logika dan realita yang terjadi. Charlie, laki-laki yang mengaku mahasiswa pasca sarjana, akhirnya sukses membuat Annie melepaskan keperawanannya atas nama cinta.

Annie mungkin merupakan satu dari sekian banyak gadis yang begitu membutuhkan pengakuan dari peer group-nya. Masa-masa puber tentu menjadi masa penentuan identitas yang dimiliki. Tokoh Annie digambarkan penuh ketidakpercayadirian di antara teman sekolahnya yang populer, di tengah keluarganya, termasuk di mata teman laki-lakinya. Media internet bagi Annie adalah media tepat untuk mengekspresikan mau menjadi seperti apa dirinya. Annie membutuhkan kepercayaan dari orang lain bahwa dia cantik, seksi dan menarik. Hal ini terlihat ketika Annie berbelanja dengan Serena, salah satu teman sekolahnya yang populer. Serena menyuruh Annie membeli bra dengan motif animal print, supaya dadanya terlihat seksi dan laki-laki akan meliriknya. Annie butuh orang lain untuk membuatnya yakin pada dirinya sendiri.

Ketika bertemu Charlie, ia menemukan keyakinan itu, keyakinan pada dirinya dan kepercayaan diri. Charlie, yang berkali-kali mengatakan ia cantik dan betapa Charlie mencintainya, membuat Annie menaruh kepercayaan pada Charlie nyaris seratus persen. Ketika akhirnya Annie dinyatakan diperkosa, ia tidak begitu saja menerima kenyataan bahwa Charlie adalah penjahatnya. Bagi Annie, hubungan seksnya dengan Charlie adalah wajar. Mereka melakukan atas dasar cinta dan ia tidak terima saat semua orang, termasuk orangtua, polisi dan terapis yang menangani kasus ini, mengganggap hal ini sebagai tindak perkosaan. Bagi Annie, pengalaman hubungan intimnya dengan Charlie adalah salah satu momen yang membuatnya makin yakin dengan dirinya sebagai wanita.

Pergolakan emosi makin terasa antara Annie dan Will, sang ayah yang kian memuncak dan bersitegang. Will terbakar amarahnya kalau harus membayangkan Annie berada di kamar motel bersama Charlie, dan ia merasa harus menemukan penjahat kelamin itu. Ia yakin Annie adalah korban. Tanggung jawabnya sebagai ayah membuatnya begitu mudah terbakar emosi. Di sisi lain, Annie merasa ayahnya tidak bisa melepaskan apa yang sudah terjadi. Emosi Will yang terus meledak-ledak dan segala kecurigaannya membuat Annie tidak nyaman, dan terus diingatkan pada tragedi tersebut.

Ada dua adegan di mana Annie dan Will meluapkan emosinya. Pertama, saat Annie masih terpukul dengan kejadian pemerkosaan. Ia memilih menyendiri di kamar, kemudian Will masuk ke kamarnya dan mencoba mengajaknya bicara tentang Charlie. Annie masih dirundung duka marah dengan sikap Will yang seolah masih menyalahkannya. Perseteruan ayah-anak tersebut betul-betul mengaduk-aduk emosi penonton. Adegan kedua adalah ketika Will mulai mengakui kesalahannya, dan meminta maaf sambil menangis pada Annie atas sikapnya selama ini. Adegan ini seperti kebalikan dari adegan emosional sebelumnya, dan menunjukkan tingkat emosi yang dibangun lewat dua tokoh utama Annie dan Will.

Ketika hubungan ayah dan anak diwarnai ketidakpercayaan pada satu sama lain, Annie merasa insecure dengan apa yang akan dilakukan ayahnya terhadapnya. Pada Charlie, Annie menemukan sosok laki-laki lain yang bisa membuatnya percaya pada semua yang dikatakannya, meskipun semuanya hanya omong kosong. Sebaliknya, Will justru terlalu mempercayai apa yang ia yakini sendiri sampai ia tidak mendengarkan apa kata orang-orang sekitarnya. Keretakan hubungannya dengan Annie terpicu dengan segala keyakinan atas dirinya sendiri, tanpa ada kepercayaan pada sang buah hatinya sendiri.

Dua karakter yang dibangun lewat Annie dan Will seperti menggambarkan watak yang akan selalu dimiliki manusia. Satu sisi selalu berusaha meyakini diri sendiri, dan cenderung mengabaikan apa kata orang lain. Sisi lainnya menyentuh bagian paling sensitif, yang cenderung disembunyikan, dan menjadi titik lemah ketika diri sendiri butuh pengakuan dan kepercayaan dari orang lain. Ironisnya, terkadang mempercayai orang lain lebih mudah dibandingkan mempercayai diri sendiri. Jadi, apakah sebenarnya trust ini ada dalam diri manusia secara otomatis, atau kita membutuhkan orang lain sebagai pemicu rasa percaya itu?

Trust | 2010 | Sutradara: David SchwimmerĀ | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Clive Owen, Catherine Keener, Liana Liberato

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend