True Grit: Akibat Revisionisme Setengah-Setengah

true-grit_highlight

Oleh banyak sebab, menonton lagi Shane (George Stevens, 1954) dan The Wild Bunch (Sam Peckinpah, 1967) di tahun 2011 akan terasa lebih kering. Film koboi dengan pembagian biner begini sudah banyak sekali dan sudah dirumuskan oleh banyak sekali pengamat, seperti misalnya John Storey (Storey: 2006). Berdasarkan informasi itulah, harapan saya melambung tinggi ketika True Grit dibuka oleh denting piano yang khusyuk menyambut langkah-langkah kecil Mattie Ross menemui seorang perempuan tua.  “Revisionisme film koboi!,” jerit saya seraya nostalgia pada film-film revisionis macam Blazing Saddles (Mel Brooks, 1974) dan McCabe and Mrs. Miller (Robert Altman, 1971); memohon dalam hati agar True Grit datang mengubah, atau setidaknya mempertanyakan sesuatu.

Sudut yang paling saya curigai adalah penggunaan perempuan sebagai tokoh utama, dan perempuan tua yang muncul di awal film sebagai penasihat yang berpotensi mempengaruhi pandang-dunia gadis kecil litu. True Grit tampil menyejukkan sebab seolah hendak meruntuhkan dominasi lelaki-lelaki dekil berpistol dalam film koboi lalu menggantinya dengan gadis kecil berkepang dua. Selanjutnya tentu pada denting piano yang nampak berupaya menjembatani genre klasik dengan tren scoring masa kini. “Bila bukan sebuah revisi, pastilah sebuah pembelokan tradisi,” pikir saya.

Langkah-langkah Mattie Ross itu dibimbing oleh nasib pribadinya sebagai perempuan muda peninggalan ayahnya. Harapan saya mengendur seiring rumor bahwa Mattie tengah mencari seorang jago tembak untuk membalaskan dendamnya pada Tom Channey, orang yang membunuh ayahnya. Salah apa gerangan anak kecil ini sehingga harus memanggul ambisi maskulin sedemikian runyam?

Dari situ, janji pesona yang diumbar di dua puluh menit pertama menguap perlahan-lahan. Detik demi detik, Mattie Ross merebut satu-persatu simbol maskulin di lingkungannya demi keperluan balas dendam, seperti pistol dan kuda. Bersama Rooster Cogburn, Mattie menelusuri padang terik berdebu; menerabas aral demi menemukan Tom Channey dan memaksa duel. Sosok Cogburn juga adalah pahlawan tipikal, ia diceritakan sudah berencana pensiun tapi harus kembali karena ada keperluan mendesak, atau demi sekantong kepeng yang akan pahit bila dilewatkan. Apa eloknya seorang pahlawan bila ia muncul dengan cara yang mudah ditebak?

Saya menyimpan sakit hati pribadi sebab True Grit mengkhianati janji revisionisme itu dan mencekoki kepala Mattie Ross dengan pandangan khas laki-laki gurun tanpa menyertakan atribut keperempuanan sama sekali. Atau jangan-jangan semua wanita di sekitar Texas dan Arizona pada masa tersebut bersifat sama seperti laki-laki? True Grit sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan itu. penggambaran yang menyedihkan ini berlanjut ketika menjelang akhir cerita, rasa sayang Ross pada ayahnya bergeser menjadi rasa sayang Ross pada Cogburn. Panji-panji suci yang dikibarkan pada permulaan cerita hilang secara serta-merta berganti kecintaan pada Cogburn si pembunuh gaek yang buta sebelah.

Dalam sebuah wawancara, Coen Bersaudara mengakui bahwa meskipun True Grit yang mereka buat adalah remake dari True Grit yang dibintangi John Wayne (disutradarai Henry Hathaway tahun 1969), tapi mereka lebih memilih untuk kembali pada novelnya dan menafsirkan semuanya dari awal lagi. Fakta ini menarik, sebab bila kita menilik pada kasus Ladykillers (2004) yang diadaptasi Coen Brothers dari karya klasik Alexander MacKendrick berjudul sama (1955), terdapat kesamaan fenomena. Bagi saya, Ladykillers dan True Grit sama-sama adalah titik terlemah kualitas pernyataan yang ingin disampaikan dua bersaudara Joel dan Ethan. Ladykillers dan True Grit seperti dibuat untuk kegemaran personal mereka pada dua materi klasik tersebut.

Akibatnya, rentetan dialog stilistik sarat muatan nihilis seperti yang muncul pada karya-karya andalan macam Fargo (1996) dan The Big Lebowski (1998) hilang tak berbekas. Ladykillers tak lain hanya sebagai komedi latah perampok-perampok lamban, sementara True Grit tentulah kisah balas dendam yang sungguh tipikal keterlaluan.

Dari sudut pandang lain, melalui True Grit, Coen Bersaudara seperti berusaha melepaskan diri dari emblem eksistensialisme yang selama ini disematkan para pengamat terhadap film-film mereka. Seperti misalnya kritikus Mark Conrad yang menelusuri jalin-kelindan pemikiran filsuf Martin Heidegger dan hakikat interpretasi dalam Barton Fink (1991), atau munculnya kembali tipologi penderitaan menurut Soren Kierkegaard dalam The Man Who Wasn’t There (2001) yang dirumuskan oleh pengamat film Karen Hoffman. (Conrad: 2009)

Bagi saya, soal berubahnya visi ini lebih penting daripada sekedar mempertanyakan kenapa Coen Bersaudara kembali membuat film berjenis koboi padahal empat tahun sebelumnya No Country for Old Man (yang juga bergenre western) baru saja dibuat? Masalahnya bukan pada sekedar genre, tetapi pada visi sang sutradara. Dalam katup senjata antik Javier Bardem di No Country For Old Men, terdapat paksaan besar bagi siapa saja untuk memeriksai kembali anutan moral mereka, ketimbang hanya memercayai saja. Meskipun kekoboi-koboian, No Country For Old Men (2007) tetaplah film yang bercorak eksistensialis, beda dengan True Grit yang murni koboi.

Dalam No Country For Old Men, Coen Bersaudara tidak melakukan perubahan apa-apa. Dalam True Grit lah mereka berjudi besar-besaran dan kembali dalam keadaan bangkrut dan kotor, sebab True Grit ternyata hanyalah revisionisme genre yang setengah-setengah, dengan pengesampingan visi sutradara yang sebelumnya lama menggelora.

True Grit | 2010 | Sutradara: Joel Coen & Ethan Coen | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Hailee Steinfeld, Jeff Bridges, Matt Damon, Josh Brolin, Barry Pepper

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend