The Year of Living Dangerously: Melihat Indonesia dari Hollywood

the-year-of-living-dangerously_highlight

Dalam sejarah Indonesia, peristiwa September 1965 akan selalu terpatri sebagai tragedi. Sekitar setengah juta orang, yang diduga terkait dengan Partai Komunis Indonesia, dibunuh dan dihapus eksistensinya dari muka bumi. Kemudian, terjadi perpindahan kekuasaan dari rezim Sukarno ke Suharto. Setelah 33 tahun propaganda dan pembatasan hak-hak kemanusiaan, fakta di balik peristiwa September 1965 tidak juga diluruskan di mata publik. Parahnya lagi, kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut kurang mendapat perhatian di komunitas internasional, dan kerap terabaikan dalam memori kolektif dunia luar sana, terutama dunia Barat.

Pada tahun 1982, Peter Weir punya kesempatan mengangkat peristiwa September 1965 lewat The Year of Living Dangerously. Disokong dengan bujet enam juta dollar dari MGM, film tersebut menandai kerja sama pertama antara Hollywood dan Australia dalam industri perfilman dunia. Bagi Indonesia, film tersebut adalah satu-satunya film tentang penumpasan PKI yang tidak diproduksi oleh rezim Suharto. Meski begitu, film ini tidak punya agenda meluruskan kenyataan yang dikaburkan selama Suharto berkuasa. Lebih parah lagi, film ini hanya memperlebar jarak simpati antara dunia Barat dan Indonesia. Pasalnya, tragedi berdarah dalam sejarah Indonesia tersebut diperlakukan sebagai latar belakang roman kedua protagonisnya, yang berasal dari Australia dan Inggris.

Pembuat film The Year of Living Dangerously berusaha keras membuat Casablanca dengan setting Indonesia, namun gagal dalam dua aspek. Pertama, relasi romantis antara kedua protagonis, Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Jill Bryant (Sigourney Weaver), hanyalah tempelan standar ala Hollywood. Tidak ada chemistry di antara mereka, dan tidak ada perkembangan yang berarti di antara keduanya. Keduanya datang ke Indonesia, dan bertindak sebagai orang yang meliput dan memantau segala yang terjadi di sana. Tidak ada yang mengaitkan keberedaan mereka dengan kejadian di Indonesia secara organis. Berbeda, misalnya, dengan Rick Blaine, protagonis Casablanca. Meski dia orang Amerika, dia memang tinggal dan cari makan di Maroko. Keberjarakan tersebut menjadikan romansa antara Hamilton dan Bryant masalah bertahan hidup belaka. Pindahkan mereka ke genosida di Rwanda atau demo mahasiswa di Cina, dijamin The Year of Living Dangerously akan sama serunya.

Dangkalnya romansa antara kedua protagonis berdampak pada makin dangkalnya penggambaran kejadian yang melatari hubungan keduanya. Inlah kegagalan kedua The Year of Living Dangerously. Sebagai sebuah tragedi nasional, peristiwa September 1965 dipotret seadanya. Tidak ada investigasi lebih lanjut ke dalam mekanisasi politik di balik kejadian tersebut. Referensi perihal kegagalan pemberontakan partai komunis, yang didukung Sukarno, dan kesuksesan politik tandingan para petinggi militer, yang didukung CIA, disajikan secara minim. Konsekuensinya: peristiwa September 1965 hanya tergambar sebagai kejadian yang mempengaruhi orang-orang asing yang kebetulan ada di Indonesia. The Year of Living Dangerously lebih merekam para ekspatriat yang frustasi menghadapi krisis, ketimbang golongan buruh dan mahasiswa yang juga sama frustrasinya. Cerita yang berpotensi bicara banyak soal rezim Sukarno, dan mengangkat peristiwa September 1965 ke perhatian internasional, berakhir sebagai drama kejar-kejaran Hollywood belaka.

Eksotisme yang terkandung sekujur film semakin menegaskan cap Hollywood dalam The Year of Living Dangerously. Titik berangkatnya adalah musik pengiring rasa oriental, yang digubah oleh Maurice Jarre, komposer new age asal Prancis. Musik tersebut secara romantis mengiringi adegan-adegan kehidupan sehari-hari di Indonesia: mulai dari bagaimana para pribumi terlihat eksotis di mata para protagonisnya, lanjut ke rasa takjub para pribumi terhadap keberadaan orang dari luar negeri, hingga kondisi centang perenang para pribumi selama pergolakan para otoritas negara. Jarre mungkin lupa kalau bangsa Indonesia punya musiknya sendiri, di mana hanya sedikit di antaranya yang bernuansa oriental.

Satu-satunya penebusan dosa The Year of Living of Dangerously, walau tidak berarti banyak, terletak pada karakter Billy Kwan. Ada dua alasan kenapa tokoh laki-laki keturunan Tionghoa yang diperankan Linda Hunt itu terasa unik. Pertama, karena tantangan seni peran yang harus ia lakukan. Bayangkan, seorang perempuan Amerika memainkan laki-laki peranakan Cina. Kedua, karena perkembangan karakternya yang mewakili satu-satunya pernyataan film Hollywood ini tentang Indonesia. Di awal film, dia sangat optimis dengan rezim Sukarno. Seiring berkembangnya cerita, dia makin hilang simpati dan berujung pada penolakan segala hal yang berbau Sukarno. Baginya, Sukarno hanyalah seorang tukang bangun monumen, yang tidak melambangkan apa-apa kecuali ego dirinya. Hanya pada kesimpulan sempit tersebut, The Year of Living Dangerously berani bersuara nyaring.

The Year of Living Dangerously | 1983 | Sutradara: Peter Weir | Negara: Australia | Pemain: Mel Gibson, Sigourney Weaver, Linda Hunt, Michael Murphy

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (4)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (3)
Share

Send this to a friend