Megamind: Tiga Superhero Baru, Satu Konflik Lama

megamind_highlight

Lebih dari seratus tahun yang lalu, Pak Tua Ferdinand de Saussure pernah bilang, sesuatu hanya memiliki makna bila ia diperlawankan dengan sesuatu yang lain. ‘Gelap’ hanya memiliki arti bila diperlawankan dengan terang. Bila tak ada terang, orang takkan menyadari bahwa sesuatu itu gelap. Bila tak ada ‘jauh’, orang takkan mengenali apa itu ‘dekat’. Dalam bahasanya, Saussure mengistilahkan fenomena ini dengan sebutan: oposisi biner. Oposisi biner kemudian melatar-belakangi munculnya aliran strukturalisme linguistik dan seperti yang sudah kita duga, “teradopsi” juga kedalam film.

Budayawan John Storey menyebutkan bahwa oposisi biner telah diadopsi sejak meledaknya film-film koboi tahun 1940-an. Dengan menggunakan film The Searchers sebagai prototype, Storey mengemukakan bahwa jenis film koboi adalah jenis film dimana pahlawan tak akan bermakna bila tak ada musuh yang jelas. Sang koboi selalu datang ke perkampungan, biar lebih dramatis, dikisahkan bahwa ia adalah jago tembak yang sudah pensiun. Tetapi berhubung di kampung tersebut garong tengah bersimaharajalela, maka sang koboi harus turun gunung membasminya. Eksistensi sang koboi baru diakui sebab ada si garong. Tanpa si garong, koboi tak bermakna apa-apa. Struktur keberlawanan karakter yang sama diperagakan dalam film-film Superhero yang menjadi tren menyusul melempemnya genre film western. Biasanya diangkat dari komik, seorang superhero juga harus menyelamatkan sesuatu dari ancaman musuh: juga sebuah sistem oposisi biner yang eksplisit.

Meskipun telah terbiasa dengan format superhero yang membungkus ulang struktur narasi film koboi, penonton selalu dibuat terkagum-kagum oleh kehebatan superhero yang biasanya selalu bergantung pada peralatan canggih, tidak seperti koboi yang selalu (hanya) dicantoli pistol, tali lasso, dan ringkikan kuda, kuno. Baru-baru ini dirilis Megamind, film animasi-superhero lucu yang mencoba bermain-main dengan konsep oposisi biner. Ia menghadirkan dua karakter yang saling berlawanan dan memaksa penonton untuk bersimpati justru pada karakter yang jahat. Dikisahkan, karena masa kecil kurang bahagia, Megamind akhirnya tumbuh menjadi superhero jahat yang ingin mengalahkan saingannya, Metroman, yang kini telah dinobatkan menjadi pahlawan kota. Ditengah kekalutan cerita, muncul superhero lain, yakni Titan, pahlawan yang diciptakan untuk menjadi baik tapi justru mangkir dari ‘takdirnya’.

Baik dan buruk adalah perkara penting dalam menonton film superhero. Tentu masih teringat kita dengan tonil superhero kawakan macam Satria Baja Hitam atau Pasukan Turbo. Pertanyaan yang paling sering muncul ketika menganalisa posisi mereka adalah “Karakter anu baik atau buruk?”, “Si anu tujuannya mau ngapain?”, “Kenapa dia bisa jadi jahat?”. Itu yang sedang dimodifikasi oleh film Megamind. Bagaimana kebekuan prinsip moral a la film superhero dilembamkan lewat karakter sentral Megamind, superhero yang berusaha keras untuk menjadi baik tapi tak pernah bisa mendapat tempat, yang memberinya penghargaan justru adalah kejahatan. Bagi Megamind, menjadi jahat bukanlah sebab tabiat, melainkan satu-satunya ruang untuk mengambil tempat. Ia dan seteru sejak lahirnya, Metroman, harus berebut tempat di hati masyarakat meskipun cap permanen sudah melekat di jidat mereka: Metroman adalah yang baik, dan Megamind adalah yang jahat.

Di pertengahan film, Megamind sedikit menipu penonton dengan membelokkan plotnya lewat karakter Titan, superhero yang lahir ketika Metroman tengah hiatus. Saya sempat berdecak kagum atas keberanian pembuat film dalam menampilkan tiga superhero dalam posisi yang saling berbeda dan saling berlawanan: semacam ménage a trois aneh dalam format superhero.  Tetapi decakan kagum saya tidak terlalu lama, sebab alih-alih mempertahankan kerunyaman prinsip moral yang mendasari aksi para karakter, film Megamind justru menyingkirkan Metroman dari kancah pertarungan dan meletakkannya hanya sebagai penonton. Meskipun karakternya segitiga, tetapi peta konfliknya tetap terbaca jelas dalam pola oposisi biner. Tak ada yang baru.

Ketertarikan saya terhadap Megamind di sisi lain terletak pada caranya menyindir stereotip karakter baik yang selama ini selalu melekat dalam tokoh protagonis, tidak hanya dalam film superhero, koboi, dan action melainkan hampir di setiap genre. Seorang baik pada dasarnya didasari motivasi utopia: menginginkan sesuatu yang baik dengan cara yang tak realistis (bila ada skema realisnya, tentu tak ada unsur dramatis, penonton bukannya terhibur, mereka akan tidur). Sebaliknya, karakter jahat mendambakan semesta yang distopia: kekacauan tanpa batas. Dengan desain fisik yang sangar, Megamind dan sobatnya Minion ternyata dirancang sebagai superhero yang latah dan humoris. Sehingga bukannya membenci, penonton justru akan merasa bersalah bila membenci mereka. Sebab di balik jidatnya yang cembung, Megamind memiliki motivasi utopia dan distopia yang sama besarnya, dibungkus oleh fisik mengerikan namun mata yang jenaka. Tidak seperti, misalnya, karakter Saruman dalam The Lord of the Rings, Jack Torrance dalam The Shining, atau gerombolan penyamun Rykers dalam film koboi Shane, yang memiliki ambisi tanpa batas pada kekacauan.

Megamind saya nilai sebagai film yang berani bertaruh dengan membalik ketidaktegasan prinsip moral karakter Megamind sebagai cara untuk merebut simpati penonton. Sebaliknya, kebaikan Metroman justru diobral lewat imej Metroman sebagai metroseksualis dengan persona bak Elvis Presley: melankolik, baik, sekalipun tak pernah licik. Megamind berhasil membuat penonton jatuh cinta pada karakter utamanya dengan cara yang ironik. Ia ampuh sebagai tontonan keluarga karena kelatahannya yang lucu, meski sebenarnya, tak ada yang baru dari film ini. Hanya beberapa poin kecil saja yang bisa kita garis bawahi.

Megamind | 2010 | Sutradara: Tom McGrath | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Will Ferrell, Tina Fey,  Brad Pitt, Jonah Hill, David Cross

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend