The Tourist: Sang Mafia Ikut Berwisata, Filmnya Jadi Cokelat Semua

 

the-tourist_highlight

Menonton The Tourist rasanya seperti melihat orang sukses yang belum rela direbut kejayaannya. Sutradara Florian Henckel von Donnersmarck sukses besar lewat film terdahulunya, The Lives of Others (2006) dan ia belum ikhlas untuk kehilangan kesuksesannya itu. Adegan pembuka film The Tourist langsung mengingatkan kita pada benang merah di The Lives of Others: penyadapan pakai komputer dan serbuan warna cokelat dalam jumlah yang sangar. Suatu pagi di Lyon, Perancis, Elise Ward tengah minum kopi di kafe tanpa sadar bahwa ia tengah diintai dari mobil van tak jauh dari tempat duduknya. Lyon disini didominasi oleh warna cokelat. Elise Ward menerima pesan rahasia dan ia pergi naik kereta ke Venezia, yang juga berwarna cokelat. Perjalanan Elise diintai oleh pusat operasi rahasia nun di Inggris Raya, lagi-lagi berwarna cokelat. Warna cokelat dalam The Tourist diabadikan bukan karena ia memang warna asli kota-kota tersebut, melainkan wujud usaha keras Donnersmarck untuk mengingatkan kita pada The Lives of Others yang juga cokelat semua. Ia belum rela turun tahta dari kesuksesannya.

Bagaimanapun, The Lives of Others tak bijak disamakan dengan The Tourist. The Lives of Others mencoba mengumpulkan patahan rahasia ideologis masa lalu dan menyusunnya menjadi narasi thriller yang tenang dan selalu mencekam. Sementara The Tourist adalah film jalan-jalan seru yang berusaha lucu tapi tampaknya buntu. Dalam perjalanannya ke Venezia, Elise Ward bertemu Frank Tupelo, guru matematika dari Amerika Serikat. Mereka lalu berwisata sembari dikejar mafia dan polisi kota. Garingnya, Donnersmarck menempatkan mafia bukan sebagai ancaman bagi Elise dan Frank, melainkan menjadikannya  satu kotak dengan paket wisata mereka. Koreografi ruang dan waktu yang melatari aksi reaksi Elise-Frank dan para mafia-polisi sudah diatur sedemikian rupa sehingga bukan ancaman bahaya, tapi eksotisme kaku yang membubungi lensa kamera.

Plot The Tourist bisa berjalan karena beberapa hal. Pertama, The Tourist menghubungkan konsep wisata dan konsep spionase lewat semacam fetisisme atas persona para pemainnya.  Fungsi spionase dalam The Tourist tidak semata ditujukan untuk mengetahui rahasia besar Elice Ward, melainkan juga sebagai ajang fetisisme bagi para polisi dan mafia (juga para penonton). Elise Ward digambarkan sebagai wanita yang anggunnya “Masya Allah”, jago berdandan tetapi juga adalah agen kelas satu. Bagi saya, dua atribut yang melekat pada Elise Ward yakni “Keanggunan” dan “Agen Kelas Satu” adalah sebuah kombinasi naratif yang belum sinkron sehingga kita tidak boleh berhenti hanya sampai disitu, ketidak-sesuaian ini harus dijelaskan lewat keterangan lain yang membantu. Tapi The Tourist tidak mengusahakan itu, ia berhenti sampai disitu saja tanpa bisa menjelaskan alasan naratifnya sama sekali. Ketidak-jelasan itu akhirnya ditambal dengan memasang aktor yang sudah mentereng saja popularitasnya.

“Anggun” dan “Agen” simply digabungkan mentah-mentah karena ia toh adalah Angelina Jolie. Memasang Jolie sebagai Elise Ward akan membius semua penonton dan melupakan apa perannya. Tak akan ada yang peduli Elise Ward itu agen rahasia atau tukang siomay, karena orang datang ke bioskop bukan untuk melihat Elise Ward melainkan untuk melihat Angelina Jolie. Hal yang mendingan (namun tetap saja berpola sama) terjadi pada Frank Tupelo, dimana profesinya sebagai guru matematika masih bisa dijadikan bahan tertawaan. Meskipun saya akui, lebih banyak penonton yang melihatnya tetap sebagai Johnny Depp dibanding sebagai guru matematika dari Wisconsin.

Kedua, meskipun banyak sekali pihak yang terlibat dan saling mengusahakan kepentingan masing-masing, seperti Elise Ward, Frank Tupelo, Alexander Pearce, Mafia, dan Polisi, pola pergerakan karakter menjadi mudah ditebak karena adanya semacam kesamaan kata kunci antar para karakter, yakni “altruisme”. Perhatikan saja, Elise Ward rela berkorban apa saja untuk Alexander Pearce, Frank Tupelo rela berkorban apa saja untuk Elise Ward, dan Polisi rela berkorban apa saja untuk Frank Tupelo. Satu-satunya yang tak termasuk dalam rantai itu adalah Sang Mafia. Sehingga pergerakan dan keberlawanan menjadi jelas: semua karakter versus Sang Mafia. Tak usah dipikirkan kenapa orang-orang yang belum saling kenal ini bisa bergaul lewat pola yang sama persis? Memikirkannya hanya akan menjadi sakit kepala tersendiri.

Ketiga, menonton The Tourist berarti kita harus percaya pada premis “Identitas tak ada hubungannya dengan bangun fisik”. Semua orang bisa saja menjadi Alexander Pearce, dan semua orang bisa saja menjadi Frank Tupelo. Setiap wisatawan adalah penjahat, dan setiap penjahat adalah wisatawan. Orang yang lebih pendek empat inci dari Alexander Pearce bisa saja dituding sebagai Alexander Pearce. Sebab morfologi fisik dalam The Tourist tak lagi kuasa menjadi parameter identitas secara apapun. Keberadaan teknologi operasi plastik dengan longgarnya keluar masuk cerita tanpa bisa menutupi kekakuan plot yang sudah ada sejak awal.

Satu hal yang membuat saya tertarik terhadap The Tourist adalah eksperimentasinya yang unik terhadap ending cerita. Meskipun masih ragu, ia mencoba menggabungkan close-ending dan open-ending sekaligus sehingga penonton bisa memilih lebih suka ending yang mana; yang terang ataukah yang remang. Selebihnya, The Tourist hanyalah film bernuansa cokelat yang berusaha mempertemukan mata turis, mata detektif, dan mata penonton, dan tetaplah film jalan-jalan seru yang berusaha lucu tapi tampak buntu.

The Tourist | 2010 | Sutradara: Florian Henckel von Donnersmarck | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Angelina Jolie, Johnny Depp, Paul Bethany, Timothy Dalton, Christian De Sica

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend