The King’s Speech: Skandal Inferioritas, Langsung Dari Istana Buckingham

kings-speech-film_hlgh

The King’s Speech naik daun,” hanya itu yang bisa saya simpulkan menyusul hujan penghargaan atas film ini. Bukan sembarang, total penghargaan untuk The King’s Speech mencapai 121 nominasi! Nominasi itu jatuh pada departemen yang beragam; Tom Hooper untuk penyutradaraan, Colin Firth, Helena Bonham Carter, dan Geoffrey Rush untuk pencapaian seni lakon, Jenny Beaven untuk desain kostum, Tariq Anwar untuk penyuntingan gambar, Alexandre Desplat untuk iringan musik, George Seidler untuk penulisan naskah,  Danny Cohen untuk rancang sinematografi, Eve Stewart dan Judy Farr untuk pengarahan seni, Iain Canning, Emile Sherman, dan Gareth Unwin dalam susunan produksi, serta Paul Hamblin, Martin Jensen, dan John Midgley untuk tata rekam suara. Semua departemen ini, untuk penghargaan Oscar saja, sudah dianugerahi 12 nominasi! Kenyataan bahwa film ini terpuji di segala sektor tentu mengundang syahwat siapa saja untuk menontonnya, termasuk syahwat saya.

The King’s Speech mengajak kita balik ke Inggris menjelang perang dunia II. Ketika itu, Raja George V baru saja mangkat sehingga digantikan oleh anaknya, Raja Edward VIII yang sebelumnya bergelar Prince of Wales. Tokoh utama kita adalah adik Prince of Wales, yaitu Duke of York yang malang.  Malang sebab sejak umur lima tahun, beliau menderita penyakit gagap bicara. Ia tak pernah bisa jadi penyampai ujaran yang lugas di haribaan publik. Segala model dokter dan pakar sudah didatangkan namun hasilnya nihil, sampai suatu hari, Ratu Elizabeth mendatangi seorang praktisi yang (katanya) mujarab untuk menjadi juru terapi bagi suaminya. The King’s Speech diam-diam melarikan diri dari Istana Buckingham menuju ke ruang terapi sederhana di pinggir kota. Dalam keheningan ruang ini, pelan-pelan menjelma semacam guratan sejarah kecil yang diwarnai hubungan personal antara raja dan rakyatnya. The King’s Speech menceritakan tentang hubungan galib antara raja dan juru terapi ini.

The King’s Speech memakai banyak sekali faktor resiko untuk menggiring alur ceritanya. Alkisah pada suatu ketika, Raja Edward VIII ingin menikahi seorang janda padahal menikahi janda tidak diperbolehkan bagi seorang raja. Karena cinta, Raja Edward rela turun tahta sehingga Duke of York naik  jadi raja. Ada faktor-faktor resiko yang membuat segalanya menjadi tidak mudah. Pertama, Tahta yang menjadi arena wajib untuk diduduki oleh salah satu dari mereka, bukannya menjadi perebutan malah jadi tekanan tersendiri bagi kedua orang tersebut. Sebab Si Janda bagi Edward VIII menjadi timbangan yang lebih berat yang memaksanya turun tahta, sementara resiko yang tak kalah berat menanti Duke of York, ia tak pernah bisa bicara di depan publik dengan terang, sehingga menjadi raja hanya akan menjadi beban kutukan. Sindrom inferioritas melanda Duke of York, ia terkesan menjadi raja hanya karena hal remeh temeh yang justru sangat berat untuk ia taklukkan.

Di luar istana Buckingham, hubungan Duke of York dengan si juru terapi Lionel juga berkembang dalam bentuk yang canggung. Dalam ruang terapi, relasi mereka menjadi begitu beresiko. Duke of York, meskipun memiliki pangkat sosial yang lebih tinggi, namun posisinya lebih inferior secara klinis. Ia bukan pasien rawat jalan sekali hantam dengan resep biasa, ia butuh pelatihan bertahun-tahun.  Setali tiga uang dengan Lionel, ia hanya rakyat biasa yang bekerja sebagai pelatih otot, namun posisi klinisnya yang lebih tinggi memaksanya untuk terus bisa “memerintah” raja agar tidak malas berlatih. Dalam The King’s Speech, Colin Firth mampu menerjemahkan inferioritas Duke of York   itu kedalam acting yang membuatnya berpuluh-puluh kali lebih inferior dibanding Lionel. Lewat bantuan teknologi, Lionel berhasil memperkenalkan semacam penggandaan eksistensi bagi Duke of York, sehingga tidak hanya sebagai pembicara, ia juga bisa menempatkan diri sebagai penerima ujaran. Usaha kecil inilah yang menjadi kunci  pertemanan Lionel dengan Duke of York.

Bagi seorang Raja Inggris yang notabene memerintah lebih dari seperempat belahan dunia menjelang Perang Dunia II, kesempurnaan menjad tuntutan mutlak. Disinilah kepintaran The King’s Speech membidik tema, ia membongkar fakta bahwa keturunan seorang raja, belum lahir saja, sudah sakral posisinya. Namun sakralitas ini ada karena kita memandang posisinya dari sudut pandang omnipotent zaman televisi, dimana kita bisa memandang langsung ke dalam istana tanpa harus datang ke sana; lewat media, internet, dan buku-buku. Berbeda dengan zaman pra Perang Dunia II, orang bisa jadi hanya melihat rajanya sekali seumur hidup, karena untuk melihat raja, mereka harus berbondong-bondong ke istana menyaksikan raja berpidato. Pidato sang raja menjadi momen penting bagi seorang rakyat untuk berinteraksi langsung dengan rajanya. Sekarang fakta ini dibalik, The King’s Speech mempertanyakan bagaimana hal ini bila dilihat dari sudut pandang sang raja? Ternyata lebih menegangkan dampaknya.

Seorang raja, karena imaji sakral semula jadi di pundaknya, harus mati-matian menjaga citra agar ia tetap sakral sebagai seorang raja. Kesempatan menjaga citra ini hanya bisa ia perjuangkan ketika ia berpidato. Sebab itu menjadi satu-satunya cara bagi seorang raja untuk berinteraksi dengan khalayaknya dalam jumlah yang sangat besar. Penyakit yang diidap oleh Duke of York senantiasa mengancamnya untuk gagal mempertahankan citra itu. Pidato Raja adalah sebentuk monumen sejarah kecil yang akan berdampak pada citra agung istana.  Lewat ajang berpidato, The King’s Speech kembali membalik posisi raja menjadi lebih inferior dibanding rakyatnya. Parameternya bukan lagi tahta, tetapi persepsi khalayak. Di hadapan ribuan orang yang menanti untuk menyimak pidato, Duke of York memanggul beban ganda, sebagai seorang raja yang wajib menjaga citra, dan sebagai pengidap penyakit gagap bicara. Kedua beban ini beresiko mencederai satu sama lain, juga sangat mungkin berkongsi dalam mencederai hidup sang raja, tidak saja sebagai simbol negara, melainkan secara personal sebagai manusia biasa. Karir seorang raja agung begitu tergantung pada si juru terapi pinggir kota.

The King’s Speech | 2010 | Sutradara: Tom Hooper | Negara: Inggris | Pemain: Colin Firth, Geoffrey Rush, Helena Bonham Carter, Derek Jacobi, Guy Pearce.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend