The Beaches of Agnes: Renungan Pribadi Atas Memori yang Melarikan Diri

Tentu semua orang waswas dengan pernyataan pribadi Agnes Varda bahwa The Beaches of Agnes akan menjadi penutup seluruh karya-karyanya. Semakin waswas kita ketika menonton film ini, yang ternyata memang berisi rangkuman perjalanan seorang Agnes Varda, ia mengajak kita memasuki kehidupan sinema serta sinema kehidupannya sedari awal karir hingga kini. Agnes Varda adalah sineas kunci dalam sejarah perfilman Perancis, ia muncul sebagai pembuat film dengan visi yang sangat otentik. Ia aktif pada zaman yang sama dengan Alain Resnais, Jean-Luc Godard, dan tentu saja sineas kondang yang juga suaminya, Jacques Demy.

Dari dimensi bentuk, gaya  pengambilan gambar dalam karya-karya Varda memang mirip dengan sineas-sineas Perancis masa itu. Tidak saja karena pengaruh teknologi, tetapi juga karena kemiripan konsep dari para sineas muda yang sehari-harinya selalu bertemu ini. Meskipun bentuknya mirip, tapi tak pernah ada kesamaan visi dari mereka, semua berbeda, demikian juga dengan Varda.

Kekuatan yang digunakan Varda dalam mengunikkan karyanya adalah kecintaannya pada dunia keperempuanan. Kecintaan ini membuatnya begitu fasih dalam menyuarakan keperempuanan dalam karya-karyanya. Nyaris semua protagonis Varda adalah perempuan, dengan sudut pandang yang juga begitu perempuan. Selain lekat kaitannya dengan gerakan Nouvelle Vague, Varda juga adalah salah satu aktivis The Left Bank Cinema, sebuah gerakan sinema politik – politik sinema yang muncul dari sebelah ‘kiri’ Sungai Seine di jantung kota Paris.

Menonton The Beaches of Agnes berarti menonton kembali karya-karya Varda dengan cara yang sangat cepat namun (harus) menyeluruh. The Beaches of Agnes mengingatkan kita kembali pada konsep yang dianut Varda dalam sebagian besar karirnya, yakni konsep CinecritureCinecriture adalah konsep yang menggagas bahwa sutradara seyogyanya memiliki peran artistik yang sama dengan peran seorang penulis dalam seni sastra. Ia memanggul segala apa yang ada di depan kameranya, tidak hanya penulisan naskah, tetapi juga pemerian gambar, pergerakan kamera, pemilihan aktor, sampai pada seleksi lokasi.1 Hal ini ditegaskan kembali oleh Varda dalam salah satu sekuens dalam The Beaches of Agnes, bahwa berbeda dengan Truffaut, Varda tidak memasuki dunia sinema lewat remang pertunjukan bioskop, melainkan sebagai seorang yang selalu gemas untuk memasukkan kata pada serangkaian gambar. Itulah yang membuat Varda tidak puas dengan karir awalnya sebagai seorang fotografer.

Sebelum mendorong karya-karyanya memasuki ruang publik, Varda menyelipkan banyak sekali elemen privat yang seringkali tak diperhatikan orang. Tak banyak orang yang memperhatikan bahwa Rosalie Varda dan Mathieu Demy, dua anak dari rumah tangganya dengan Jacques Demy, sering muncul dalam karya-karyanya. Bukan semata untuk mendongkrak popularitas si anak, atau menjumpalitkan anak untuk memasuki ruang publik sedini mungkin, akan tetapi Varda melakukan itu dengan tujuan yang  mengarah pada dirinya sendiri. Bahwa lewat sinema-lah ia mengamati pertumbuhan buah hatinya, lewat sinema-lah anak-anak itu belajar mengenali orang, dan suatu saat ketika masa sudah lama berlalu, sinema itu akan kembali menyajikan memori, lalu kebahagiaan Varda sebagai seorang Ibu menjadi terpenuhi. Beginilah Varda menghidupi sinemanya dan membiarkan sinema menghidupinya. Membaca Varda berarti membaca bahwa sang sineas dan karya-karyanya adalah satu, yang disebabkan oleh perlakuannya yang sedemikian personal ditambah jiwa keperempuanannya yang begitu terindera.

Ribuan batu dalam perjalanan karir Varda bersatu menjadi partikel penghuni The Beaches of Agnes: napak tilas masa kecil, perkenalannya dengan Demy dan fotografi, pengalaman pertamanya membuat film dan bagaimana film itu tak digemari pasar, sampai pada solilokui visual Varda sendiri. Tentu kita tetap bertanya, apa sebenarnya arti pantai-pantai (beaches) dalam judul The Beaches of Agnes? Varda menjawab pertanyaan ini lagi-lagi dengan cara yang personal. Pantai adalah lanskap favorit Varda ketika ia sedang menulis, pantai adalah tempat liburan favoritnya bersama Demy, pantai adalah pertemuan dan pemisahan yang janggal antara air dan pasir, dimana lewat kejanggalan itu, Varda mengarahkan penonton untuk menyadari umur Varda yang tak lagi muda (82 tahun). Di pantai itu, Varda menebar cermin-cermin untuk merefleksikan panorama, ada refleksi utuh ada pula yang terpenggal, ada yang tegak adapula yang tidak. Bagi seorang Varda, memanggil kembali memori menjadi kemungkinan yang tak lagi jangkap, sebab memori sudah gemar sekali melarikan diri.

Selanjutnya, dalam ruangan se-personal The Beaches of Agnes, masih adakah ruang-antara bagi penonton untuk masuk dan mengambil posisi? Penonton rawan untuk terkelabui sebab Varda ikut masuk ke film dan mengarahkan krunya dari depan layar. Ia bahkan sempat bergumam ke arah kamera “Anda yang mengarahkan saya sekarang”. Saya pribadi penasaran, sebab dengan demikian, otoritas Varda sebagai “penulis penuh” film-filmnya dilemahkan sendiri olehnya dengan memberi semacam kuasa pada penonton untuk ‘mengarahkan’. Dengan menyerahkan kuasa arahan pada penonton, berarti Varda berarti telah mengubah status filmnya dari yang personal menjadi tidak lagi personal, begitu pikir saya. Varda yang biasanya tak memberi ruang, secara sumbang berubah jadi dermawan.

Menit berselang menit ketika saya menyadari bahwa sebenarnya pernyataan pendek Varda tersebut telah mengelabui penonton untuk mencurigai konsistensi visinya. Sebenarnya, alih-alih menyerahkan kuasa pada penonton, Varda sejatinya tengah memperkuat posisinya sendiri. Meskipun Ia berpindah dari belakang ke depan kamera, tetapi ia tetap mengarahkan mise-en-scene termasuk penyelia gambar. Penonton tetap tak bisa memutuskan dari mana gambar harus diambil sebab komando tersebut tetap ada pada Varda. Biasanya, otoritas Varda ini hanya terendus lewat filmnya sebab ia sendiri berdiri di belakang kamera. Namun dalam The Beaches of Agnes, ia melipat-gandakan pengaruh pribadinya dengan masuk dan menampakkan dirinya pada penonton, bahwa kuasa arahan itu benar-benar sepenuhnya di tangan seorang Agnes Varda.

Beberapa dari anda mungkin menganggap apa pentingnya meributkan siapa yang mengelabui dan siapa yang dikelabui. Memang benar, hanya saja, sejarah perjalanan gerombolan Nouvelle Vague, Left Bank, dan karir Agnes Varda sendiri nyaris tak pernah lepas dari pemetaan relasi antara film, pembuatnya, dan penontonnya. Contoh yang sering kita lihat misalnya Godard dan Brechtian Theater-nya, atau Rivette dengan ‘fenomenologi durasi’2-nya, untuk menyadarkan penonton bahwa film haruslah tetap dilihat sebagai film.

The Beaches of Agnes2008 Sutradara: Agnes Varda | Negara: Perancis | Pemain: Agnes Varda, Jane Birkin, Rosalie Varda, Mathieu Demy, Corinne Merchand, Delphine Seyrig

Tulisan ini adalah resensi salah satu film yang akan diputar selama Festival Sinema Perancis 2011. Jadwal selengkapnya bisa diakses di sini.


1 Hurd, Mary G. Women Directors and Their Films. Prager: London, 2007. hal. 122

2 ‘Phenomenology of Duration’ adalah istilah yang digunakan oleh James Monaco pada tulisannya mengenai Jacques Rivette dalam “The New Wave: Truffaut, Godard, Chabrol, Rohmer, Rivette” (Oxford University Press, 1977), diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh saya sendiri.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share
Send this to a friend