Pertanyaan untuk Bapak: Peliknya Eksplorasi Asal-usul

pertanyaan-untuk-bapak_hlgh

Seorang pemuda berusia 34 tahun pulang kampung mencari ayahnya ke Tanjung Pinang, tempat kelahirannya. Perjalanan itu bukan mudik biasa. Sang pemuda ingin bertanya kepada ayahnya: mengapa dulu ia tega memperkosa anaknya sendiri. Ia, bersama seorang sutradara lain, mendedahkan perjumpaan dengan sang ayah dalam dokumenter berdurasi 40 menit yang diproduksi Kalyana Shira, Pertanyaan Untuk Bapak.

Ayahnya memang bukan ayah yang sama yang selama ini ia bayangkan. Cung Kiang, nama sang bapak, sudah lama bercerai dari keluarga si pemuda. Mereka butuh beberapa hari untuk mencari kediaman Cung Kiang di kota itu. Begitu berhasil ditemui, Cung Kiang seperti orang asing yang sepuh dan pikun. Bahkan dia tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sang anak.

Pertanyaan Untuk Bapak juga menelusuri asal-mula kecintaan subjeknya pada sinema. Yatna, nama sang pemuda, semenjak dua tahun silam, memutuskan serius menggunakan medium film untuk menceritakan pengalaman-pengalaman pribadinya serta hal-hal terkait seksualitasnya sebagai gay. Ada banyak manusia yang jatuh hati pada sinema dan memutuskan jadi pembuat film setelah ketemu lapak DVD bajakan kualitas super di Mangga Dua, atau memiliki akses internet berlimpah sehingga bisa mengakses film-film dari seluruh dunia. Lain halnya dengan Yatna. Minat sinematiknya bersumber dari pengalaman traumatik. Ayahnya, seorang pelukis poster film di Tanjung Pinang era 1970-80an, berkali-kali memperkosanya di bioskop.

Relasi traumatik—dan ironis—antara medium dan senimannya ini mengingatkan saya pada Paul Celan. Celan, penyair Jerman asal Czernowitz, Rumania, kehilangan bapak dan ibunya ketika Perang Dunia II merembet ke kampung halamannya. Jerman mendeportasi ribuan populasi Yahudi Czernowitz ke kamp-kamp konsentrasi. Celan selamat namun orang-orang terdekatnya tidak. Bertahun-tahun kemudian, Celan yang sudah lama tumbuh dalam iklim budaya Jerman, mau tidak mau menulis menulis puisi dalam bahasa para pembunuh keluarganya: bahasa Jerman. Pun Yatna, yang di masa kecilnya sudah akrab dengan budaya film, harus menuturkan kisah hidupnya melalui medium yang mau tak mau mengingatkan dia pada pemerkosanya.

Di sinilah keistimewaan Pertanyaan Untuk Bapak. Ia adalah penjelajahan atas penggalan-penggalan masa silam—dari problem keluarga hingga seksualitas—yang turut berkontribusi membentuk subjek utamanya (si pembuat film itu sendiri), sekaligus medan yang dipilih untuk mengkonfrontir warisan-warisan yang serba tidak enak itu.

Terlepas dari keistimewaan itu, eksekusi Pertanyaan untuk Bapak kedodoran di sana-sini. Si pembuat film menggunakan voice-over di sekujur film. Naratornya, Yatna sendiri, bernada liris ketika menuturkan motif kepulangannya—kisah masa kecil dengan keluarganya, pengalamannya sebagai orang dewasa, hingga kesulitan berkomunikasi dengan Cung Kiang di akhir film. Masalahnya, gambar dan suara pun bertumpuk dan si pembuat film akhirnya kelihatan tidak percaya diri dengan gambar dan segala macam bunyi diegetis, bebunyian asli yang berasal dari lokasi.

Adapun dari segi kesan yang sampai ke penonton, dramatisasi berlebihan ini hanya akan menerbitkan rasa iba sampai taraf eksploitatif, yang mengalihkan perhatian dari problem yang ingin diangkat pembuatnya. Ini sangat umum ditemui, jika bukan menjadi pendekatan khas, dalam narasi korban/penyintas di Indonesia.

Saya sendiri akhirnya gatel menebak-nebak apa jadinya seandainya voice-over itu dihilangkan, diganti nadanya, atau diganti pesannya; atau justru seluruh dialog dalam film itu dihapus untuk mempertahankan voice-over—mungkin saja akan lebih ‘bunyi.’ Saya segera teringat beberapa film yang kekuatan utamanya terletak bertumpu pada komentar-komentar off-screen: dokumenter Nuit et brouillard (Alain Resnais, 1955), film pendek La Jetée (Chris Marker, 1962) dan Colloque de chiens (Raoul Ruiz, 1977) hingga dokumenter lokal Indonesia Bukan negara Islam (Jason Iskandar, 2009). Film-film ini sukses menghidupkan gambar justru dengan membisukannya—dan tentu tanpa harus menye-menye.

Konfrontasi dengan orangtua seringkali memang sulit. Apalagi dalam kasus kekerasan seksual, dimana pelakunya akan lebih sulit diungkap jika berasal dari keluarga sendiri ketimbang keluarga orang lain. Sutradara film ini menggambarkan hal itu dengan cukup baik di bagian akhir, ketika ia diperlihatkan kesulitan merangkai pertanyaan di hadapan sang ayah. Ia tak cukup mampu tegas bertanya, “Mengapa Bapak dulu memperkosa aku?” alih-alih “kenapa dulu Bapak begitu sih ke Yatna?” sambil berputar-putar ke sana kemari.

Namun di luar kesulitan-kesulitan hubungan khas bapak-anak yang sudah disebut di atas, yang menjadi pertanyaan untuk saya adalah, tidakkah kecanggungan itu berkaitan dengan proses pembuatan filmnya sendiri?

Pertanyaan Yatna diajukan hanya beberapa saat setelah bertemu ayahnya, nyaris seperti orang asing daripada bapak-anak. Hanya Yatna yang paham bagaimana mengukur tepat atau tidaknya kapan ia mengajukan pertanyaan yang dipendamnya selama bertahun-tahun. Namun, menanyakan satu masalah sensitif yang tak pernah diungkit sebelumnya oleh kedua pihak di hadapan kamera, adalah persoalan lain. Sang bapak kelihatan sadar bahwa kehadirannya ditangkap sorotan kamera di mana-mana, sesuatu yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Ini pendekatan yang sama sekali tidak efektif.

Bukan soal patut atau tidak patut. Ini masalah membangun (ulang) kedekatan antar-subjek sehingga kecanggungan bisa dihindari; sehingga ada ruang yang lebih lega di mana kedua belah pihak siap mengeksplorasi pertanyaan dan jawaban, khususnya dengan keberadaan kamera di sekitar mereka. Sebetulnya hal yang sama tidak hanya dialami Yatna. Sedikitnya waktu pendekatan pra-filmis dengan subjek juga dapat disaksikan dalam Senyap (Joshua Oppenheimer, 2014). Hasilnya lebih parah: keluarga pihak pelaku pembantaian di film itu bukan saja merasa terganggu. Mereka bahkan luar biasa murka.

Tentu ada perbedaan yang jelas di sini. Sutradara Senyap bukan anggota keluarga korban pembantaian 65, sementara Yatna adalah korban itu sendiri. Dari situ saya bisa sedikit memahami letak kesulitannya. Di sisi lain, dalam konteks pendekatan ala reality show macam Termehek-Mehek seperti di atas, baik Pertanyaan untuk Bapak maupun Senyap keliru mengartikan konfrontasi dengan masa lalu sebagai pencarian jawaban selekasnya dari seorang pelaku (atau keluarga pelaku, dalam Senyap). Maksudnya mungkin baik, namun cara yang ditempuh justru menghalangi tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Pertanyaan untuk Bapak | 2015 | Durasi: 40 menit | Sutradara: Yatna Pelangi, Mayk Wongkar | Produksi: Kalyana Shira Foundation | Negara: Indonesia

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (8)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend