Sepatu Baru: Berpayung pada Hujan, Berpegang pada Gang

sepatu-baru-film_hlgh

Bahan baku Sepatu Baru bukanlah sol, tali, dan kain, melainkan celana dalam, gang, dan hujan. Rasanya memang tak relevan. Oleh karena itu, penting untuk mengikat dan terikat pada detil-detilnya, agar Sepatu Baru terasa nyaman.

Seorang anak perempuan berjalan telanjangkaki dengan payung warna-warni. Ia menyusuri gang-gang sempit, mencari sesuatu. Sesuatu itu tidak diketahui sampai akhirnya ia mendapatinya tergeletak di lantai rumah seorang pria; sebuah celana dalam. Celana-dalam itu ia curi, ketika sang tuan rumah sedang lengah. Ketahuan, mereka pun terlibat kejar-kejaran. Kejar-kejaran berhasil dimenangkan oleh tokoh utama. Namun sial baginya, kemenangan itu menjadi percuma karena hujan kembali turun mengotori sepatu barunya.

Terikat dan Mengikat

Dalam sebuah film, hujan kadang hanya menjadi pelengkap momen-momen dramatis. Kehadirannya dipasangkan dengan adegan tangis-tangisan, perpisahan, kematian, atau ciuman. Namun tidak sama halnya dengan hujan pada film Sepatu Baru. Kehadiran hujan pada Sepatu Baru tidak hanya sebagai pemanis visual, melainkan sebagai motif keseluruhan. Ada yang menikmati hujan yaitu anak-anak yang bermain bola, ada yang mengkapitalisasi yaitu pawang hujan, ada yang menghindari yaitu tokoh utama, bahkan sekilas ada juga yang secara oportunis menjadikannya bahan kampanye, yaitu calon legislatif pada baliho. Dari keadaan itu pembuat film mengusung premis: seorang anak ingin memakai sepatu barunya. Premis ini berjalan manis dan mendobrak pengetahuan kita yang terbatas tentang lokalitas daerah film berada. Alhasil, meminjam rima lagu Tik Tik Bunyi Hujan ciptaan Ibu Soed; film ini motifnya muncul tidak terkira, cobalah tengok tokoh dan setting. Tokoh dan setting terasah semua.

Penokohan pada film ini setidaknya ada tiga: Si anak perempuan yang menjadi tokoh utama, pawang hujan, dan anak-anak kecil yang bermain bola. Tokoh utama adalah seseorang yang terancam akan kehadiran hujan dan berupaya untuk menghentikannya. Berlawanan dengan tokoh utama, anak-anak kecil yang bermain bola justru menari di bawah hujan. Mereka tak terpengaruh, dan tidak memiliki pertimbangan yang berlebihan.

Anak-anak kecil itu memperlakukan barang sesuai esensinya. Mereka menendang bola dengan gembira, tidak seperti tokoh utama yang enggan menginjak sepatu barunya. Kontras pun akhirnya tergambarkan lebih jelas lewat tampilan gambar bola yang koyak; suatu konsekuensi yang dimaksudkan tokoh utama agar tidak terjadi pada sepatunya.

Pawang hujan digambarkan mengenakan singlet, dengan sebatang rokok dan kopi panas di belakang teralis jendela. Sebuah keadaan yang hangat di tengah dinginnya hujan, serta sebuah keterpisahan yang berjarak. Ia tidak menari di bawah hujan, tidak pula terancam oleh kehadirannya. Mungkin relasi antara keduanya seperti relasi antara tuan dan kapital. Relasi yang mana kapital, yaitu hujan, menjadi sesuatu yang dikuasai, dimanipulasi, dan dipandang dengan jarak.

Kuasa si pawang hujan membuat tokoh utama membutuhkannya. Sebelum terik matahari hadir, dua kali tokoh utama menengok ke arah jendela pawang hujan. Kali pertama ketika sebelum menyaksikan anak-anak kecil bermain bola. Saat itu yang ada hanyalah segelas kopi, sedangkan pawang hujan tak ada. Lalu kali kedua adalah seusai ia berkeliling mencari celana-dalam. Pada kali kedua ini, ia sampai memanjat ke depan jendela.

Ketidakhadiran pawang hujan membuat tokoh utama terpaksa berusaha menghentikan hujan dengan tangannya sendiri. Beruntung, di perjalanan berikutnya tampak sebuah celana-dalam di rumah seorang pria. Ia tentu tahu mencuri hingga ke dalam rumah akan lebih rawan tertangkap tangan. Namun, karena hasil nihil pada perjalanan pertama, dan karena tak-kunjung nampaknya batang hidung si pawang hujan, mencuri celana-dalam tersebut seakan menjadi pilihan tunggal. Teranglah urgensi dari kenekatan tokoh utama di sini.

Selain tokoh-tokoh dan detil yang berkesinambungan, setting juga berperan penting pada film ini. Setting pada film saya singkat menjadi dua hal yang mewakilkan, yaitu hujan dan gang sempit. Gang sempit tidak hanya merujuk pada lebar jalan, tapi merujuk juga pada kelas sosial. Untuk kelas sosial yang tinggal di lingkungan gang sempit, sepatu merupakan suatu hal yang berharga – atau setidaknya lebih membebani dalam hal harga. Pemaknaan sepatu sepatu di sini pun agak serupa dengan makna sepatu di film Children of Heaven (1997): demi sepatu baru, tokoh utama rela melakukan apapun.

Selain mengarah pada kelas sosial, masyarakat yang tinggal di gang sempit juga memiliki pola hidup tertentu. Pola hidup yang dimaksud terkait pada ruang terbatas yang mereka miliki. Di lingkungan gang sempit, sebagian penghuni menjemur pakaian di luar, dan sebagian besar rumah tidak memiliki halaman ataupun pagar. Keadaan ini menjadi poin penting dan dasar seluruh cerita. Terutama untuk yang dilakukan oleh tokoh utama, seperti berkeliling melihat-lihat jemuran, atau masuk ke dalam rumah orang untuk mengambil celana dalam.

Terpikat oleh Sepatu Baru

Secara teknis dan cerita, film Sepatu Baru boleh dibilang sangat rapi. Sepanjang empat belas menit durasi film, cerita dan tokoh Sepatu Baru begitu menyatu dengan latarnya. Upaya teknis dan detil cerita yang diberikan punya tujuan yang jelas, yaitu mengemas tokoh dan latar ke dalam satu entitas. Misalnya permainan fokus ketika tokoh utama berbelok melintasi gang, seakan membahasakan hubungan dialogis tokoh dengan latarnya. Demikian juga ketika tokoh utama bersembunyi di kamar mandi. Kamera mengambil gambar dari atas, menunjukkan seberapa tipis jarak mereka–hanya terbatas pintu. Namun walaupun setipis itu, saat ada suara air dari dalamnya, kamar mandi tidak hanya menjadi sebuah ruang, melainkan sebuah tempat personalmilik banyak orang yang harus dihargai privasinya.

Entitas yang terbentuk mengacu juga pada lokalitas daerah, yaitu mitos melempar celana dalam ke atap untuk menghentikan hujan. Lokalitas ini, bila meminjam istilah yang digunakan Levinas, boleh jadi merupakan wajah dari lautre, atau yang liyan. Kehadiran wajah yang liyan ini kemudian mendobrak keberadaan penonton yang belum mengenalnya. Penonton menjadi terganggu, dan terpancing untuk menelaah wajah, lokalitas, tersebut hingga akhir.

Dalam upayanya merengkuh wajah lokalitas pada film ini, penonton pun menenggelamkan dirinya ke dalam detil-detil gambar dan cerita. Stimulus sesederhana apapun menjadi tertangkap lebih cepat. Misalnya ketika sang pria menggaruk-garuk dagunya dengan koin, atau ketika celana dalam sang pria digenggam erat oleh tokoh utama. Mungkin jijik, mungkin penasaran, tapi lebih dari itu: mungkin penonton memang tengah terikat dan mencoba mengikat Sepatu Baru.

Sepatu Baru | 2013 | Durasi: 14 menit | Sutradara: Aditya Ahmad | Produksi: Institut Kesenian Makassar | Negara: Indonesia | Pemeran: AN Isfira Sri Febiana, Ali Topan, Irwanto Danumulyo, Asmaul Husna

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (7)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend