Pocong Mandi Goyang Pinggul: Apakah Yang Pop Juga Harus Berarti Imbisil?

pocong-mandi-goyang-pinggul_highlight

Dalam sebuah wawancara, produser film KK Dheeraj menyatakan bahwa film yang baik adalah film yang ditonton dan menghibur banyak orang. Oleh karena itu, pada pembukaan film terbarunya Pocong Mandi Goyang Pinggul, tertera tulisan dalam bahasa Inggris yang kurang lebih berarti “Hidup kita sejatinya penuh tekanan, maka sila abaikan sejenak, tontonlah film ini dan mari tertawa”. Judul Pocong Mandi Goyang Pinggul dan ajakan tertawa tentu saja semakin menguatkan antisipasi penonton akan niatan Dheeraj untuk membuat film komedi horor, yang dipandangnya tengah membumbungi pasar film Indonesia.

Pada malam satu Suro, Ferdi mengendarai mobilnya pulang dari pub sambil mabuk. Di tengah jalan ia bertabrakan hingga pingsan, ketika siuman ia sudah lupa ingatan. Pada masa-masa pemulihan ingatannya, Ferdi berkenalan dengan Sasha Altmeyer di internet. Sasha dan Ferdi sering mengobrol via webcam, Ferdi juga sering memergoki makhluk halus di sekitarnya. Ada pocong yang menatapnya dari pucuk tangga, ada pisau yang menyerangnya dari dalam kulkas, ada setan yang berdiri di dekat lantai dansa, macam-macam. Suatu hari Ibunda Ferdi pulang dari Amerika Serikat, ia mengamati kejanggalan dalam diri anak lelakinya ini dan mulai mencurigai bahwa Sasha Altmeyer ada dibalik semuanya, Sang Ibunda menyewa detektif swasta untuk penyelidikan. Sama sekali tak ada pocong yang sedang mandi sembari goyang pinggul dalam film ini, sebagaimana terdengar pada judulnya.

Tak ada plot transparan dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul. Kalaupun kita paksa untuk menguraikan struktur penceritaannya menjadi tiga babak, maka akan kita temukan fakta bahwa babak kedua hanay berisi adukan sampah yang tak jelas arahnya, tak tahu gunanya, dan tak tahu atas inisiatif siapa keberadaannya. Babak pertama berisi perkenalan karakter:  Ferdi si karakter utama, Rheina pacarnya, Fiona adiknya, dan sahabatnya yang pandir (diperankan oleh Tatang Gepeng). Sedangkan babak ketiga tentunya berisi penyingkapan misteri dan penjelasan duduk perkara serta resolusi cerita pada penonton. Nah, masalahnya terutama terletak pada babak kedua, tiba-tiba Anisa Bahar naik panggung  di dekat pekuburan dan berjoget ditonton kurang dari tiga puluh orang, yang entah bagaimana dilewati Mpok Nori bersama suami mudanya yang mengendarai mobil ambulans.

Apa signifikansi adegan surreal nan absurd ini? Kuat dugaan saya, motivasi penempatan karakter secara acak-acakan murni bertujuan untuk menjual bintang yang memerankan karakter tersebut. Jalan cerita menjadi masalah nomor sekian. Mpok Nori datang bukan sebagai aktris yang memerankan ‘seseorang’, tetapi datang sebagai dirinya sendiri, dengan imaji yang biasa ia proyeksikan ke hadapan penonton: menjerit histeris dengan nada tinggi. Tatang Gepeng datang dengan ciri khas latahnya, misalnya berjalan pelan menoleh ke samping lalu terantuk tembok. Alih-alih memerankan sebuah karakter, Anisa Bahar juga datang sebagai dirinya, menyanyi dangdut dan memutar bokong sesuai keadaannya yang asli. Penggunaan bintang televisi tanpa diselimuti oleh peran yang jelas semakin menjadi fenomena biasa dalam film-film Indonesia saat ini. Namun dalam kasus Pocong Mandi Goyang Pinggul, yang meresahkan adalah jumlahnya yang begitu banyak dan hampir menguasai keseluruhan satu babak, atau sepertiga total durasi film. Bandingkan dengan peran Yadi Sembako dalam Suster Keramas, atau Daus dalam Suster Keramas 2 yang masing-masing muncul tak sampai sebabak.

Penggunaan bintang televisi (umumnya komedian) dalam film-film horor Indonesia masa kini tentu saja untuk menambah bumbu komedi, sebagaimana yang menurut KK Dheeraj tengah “digemari pasar”. Akan tetapi bila keberadaan komedian ini tidak disambut dan diberi peran dengan baik oleh pembuat film, dibiarkan saja berimprovisasi sampai menghabiskan durasi satu babak, lantas apa bedanya film bioskop dengan komedi panggung televisi yang bisa dilihat dari rumah tanpa perlu membayar? Struktur tiga babak Pocong Mandi Goyang Pinggul harus mengorbankan dirinya untuk diintimidasi kesana kemari demi kebodohan dan kemalasan berpikir para pembuat filmnya.

Selanjutnya, Pocong Mandi Goyang Pinggul menjadi bukti jelas. Bahwa biar menggandeng nama besar Hollywood dan bintangnya sekalipun, kalau anda adalah orang tolol, film anda akan tetap saja tolol. Bukti-bukti sinematik menyangkut ketololan ini berserakan di sepanjang film. Reverse shot obrolan Ferdi dan Sasha via webcam tampil dalam pewarnaan yang tidak selaras, padahal secara logis, adegan tersebut masih diambil dari ruangan yang sama, yakni Ferdia via kamera film dan Sasha Altmeyer via webcam. Perhatikan juga karakter Ibunda Ferdi yang katanya baru balik dari Amerika Serikat, berikut dialog yang meluncur manis dari mulutnya “I need info about someone girl, don’t forget, call me.” Iya, memang begitulah bila orang tolol berusaha keras untuk terlihat pintar dan glamor.

Peran Sasha Grey sendiri, yang posturnya menguasai hampir setengah poster publikasi film (bermakna ia menjadi tameng terdepan promosi) kebanyakan hanya muncul via webcam dan sun-sun jarak jauh. Memang ada adegan dirinya tengah mengobrol sedikit pada bagian akhir film. Namun ekspektasi penonton untuk melihat Sasha Grey “membuka” sesuatu tidak terpenuhi. Aktris lokal Baby Margaretha justru yang memenuhi ekspektasi ini. Awalnya saya mencoba membandingkan peran Sasha Grey dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul dengan peran dalam filmnya yang lain yang berjenis non-porno, yakni The Girlfriend Experience karya Steven Soderbergh. Sebab tentunya menarik untuk menganalisa kemampuan seni peran Grey per se.  Saya memutuskan berhenti membandingkan ini, sebab bila saya teruskan, saya bisa berakhir bunuh diri.  Sama sekali tak bisa dibandingkan.

Ukuran pamungkasnya adalah, lantas apakah niatan komedi horor KK Dheeraj  berhasil? Saya kira tidak, sebab kecenderungan yang ada dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul adalah film horor yang pembuatannya tidak diperhatikan, yang logika ceritanya menghina-dina kemampuan berpikir penonton. Hasilnya bukan tawa yang menguar-menggelegar, tapi kekesalan bukan main yang berkobar. Mungkin akan sulit untuk menemukan yang lebih buruk dari film ini sepanjang tahun 2011. Kalaupun ada, kemungkinan besar pembuatnya adalah KK Dheeraj juga.

Pocong Mandi Goyang Pinggul | 2011 | Sutradara: Yoyok Dumprink | Negara: Indonesia | Pemain: Chand Kelvin, Sasha Grey, Baby Margaretha, Sheza Idris, Tatang Gepeng

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend