Plan 9 from Outer Space: Terbaik dari yang Terburuk!

plan-9-from-outer-space_highlight

Keragaman pendapat itu umum di kalangan penggemar film. Masing-masing orang punya seleranya sendiri dalam memilih film, dan tentunya standar personal saat menilai suatu film. Oleh karena itu, suatu film dapat menyebabkan para penggemar film pecah ke berbagai kelompok yang berbeda: ada yang positif, ada yang negatif, ada juga yang netral. Menariknya, fenomena tersebut tidak terjadi saat Ed Wood merilis film sains-fiksi berjudul Plan 9 from Outer Space (1959). Semua penggemar film pasti sepakat kalau Plan 9 adalah film terburuk yang pernah dibuat oleh umat manusia.

Banyak alasan yang bisa dikedepankan. Yang paling kentara adalah efek visual. Kita tidak usah bicara soal suara pistol yang kurang keras sehingga gagal memberi efek yang menggelegar. Tidak perlu juga mempertanyakan makeup alien-nya, yang saking tidak meyakinkannya sehingga membuat alien-alien di Plan 9 tidak lebih spesial dari badut-badut di sirkus pinggir kota. Untuk membuat ilusi UFO terbang saja, Plan 9 tidak mampu. Di adegan pembuka, terlihat ada benang tipis di atas UFO-UFO yang sedang terbang. Benang itu setia “menggiring” para UFO sampai film selesai.

Masalah lainnya ada di kontinuitas plot. Seburuk-buruknya suatu film, setidaknya ada logika yang menghubungkan antara satu adegan dengan adegan berikutnya. Jadi, saat melihat adegan orang keluar dari suatu pintu, kita berharap orang itu akan keluar dari pintu yang sama di adegan berikutnya. Tidak dengan Plan 9. Film itu sepertinya punya logikanya sendiri, terutama mengenai konsep siang dan malam. Pada saat Plan 9 sedang menampilkan interior UFO, kita melihat ada jendela dengan panorama siang hari. Setelah periode beberapa detik yang diselingi sejumlah adegan di ruang yang sama, jendela tersebut malah menampilkan langit malam hari.

Konsep siang-malam yang sudah kacau itu diperparah di tengah film. Ketika itu ada adegan tersebut seorang zombie bergerak maju dengan kaku di malam hari. Yang muncul berikutnya malah seorang perempuan berlari ketakutan di  siang hari. Adegan zombie dan adegan perempuan tersebut bergantian tampil selama sembilan kali, memberi ilusi bahwa si zombie sedang mengejar perempuan. Padahal jelas kalau keduanya berada di zona waktu berbeda.

Tapi, dari daftar kejahatan filmis yang dilakukan Plan 9, ada satu yang paling fatal, yakni karakter yang dimainkan Bela Lugosi. Saya tidak mempermasalahkan pemerannya. Bela Lugosi nyatanya merupakan salah satu figur penting di industri perfilman Amerika. Berkat aksi Lugosi memerankan Count Dracula di Dracula (1931), Drakula menjadi bagian penting dari mitologi Hollywood bersama King Kong dan Frankenstein. Yang saya permasalahkan adalah cara Wood mengeksekusi karakter Bela Lugosi di Plan 9. Di awal film kita melihat Lugosi keluar dari rumah dan memetik bunga di halaman. Lalu terdengar narasi, “inilah pria yang sedang dirudung kesedihan akibat kematian istrinya…” Lugosi keluar dari frame dan terdengar suara tabrakan mobil. Pada titik ini, kita beranggapan kalau Lugosi mati (sebenarnya, kalau penonton jeli, bayangan Lugosi masih terlihat di pojok kiri layar).

Selang beberapa menit kemudian, alien mendarat di bumi. Mayat-mayat dalam kuburan, termasuk karakter Lugosi, dibangkitkan para alien dengan harapan dapat menguasai Bumi. Ketika dari kuburan keluar karakter Lugosi yang sudah dihidupkan kembali, dengan cepat kita dapat mendeteksi beberapa perbedaan. Pertama, karkater Lugosi yang ini terlihat lebih muda. Kedua, kepalanya terlihat kecil ketimbang Lugosi di awal film. Dan, yang terakhir, karakter ini terus menutupi wajahnya dengan kain bajunya sepanjang film, sementara Lugosi di awal film selalu membiarkan wajahnya terbuka. Usut punya usut, ternyata Bela Lugosi meninggal di tengah produksi dan Wood merekrut orang lain untuk memainkan karakter Lugosi dari tengah hingga akhir film. Sialnya, orang yang dipilih Wood itu tidak ada mirip-miripnya dengan Lugosi!

Blunder Wood tersebut seperti menjadi paku terakhir di peti mati reputasi Plan 9. Secara kualitatif, tidak ada yang bisa dibanggakan dari Plan 9. Secara komersil, Plan 9 sulit dijual. Dibutuhkan promosi yang luar biasa manipulatif untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang ada dalam Plan 9. Oleh karena itu, pantas kita beranggapan kalau film yang memilki daftar kejahatan filmis sepanjang Plan 9 logisnya tidak memiliki umur panjang dalam sejarah. Kritikus pastinya akan mencacimaki film tersebut dan penonton pastinya juga ogah menyisihkan uang untuk menonton film yang cacat.

Namun, Plan 9 seperti punya logikanya sendiri. Berbanding terbalik dengan kualitas filmnya, reaksi orang-orang yang melihatnya malah luar biasa positif. Para kritikus, terutama yang kontemporer, menyukainya, bahkan memujinya. Menurut mereka, kesalahan-kesalahan filmis itulah yang membuat Plan 9 tidak saja menyenangkan, tapi juga menjadikannya karya seni yang subversif. Leonard Maltin, dalam bukunya yang berjudul Movie Guide, mendaulat Plan 9 sebagai “film yang saking buruknya sehingga malah terlihat lebih baik dalam tontonan kedua, ketiga dan seterusnya”. Jim Hoberman dari Village Voice, koran yang cukup berpengaruh di Amerika, menyebut Wood sebagai “avant-gardist kecelakaan”. Maksudnya: saking absurdnya kesalahan yang dibuat Wood, kesalahan tersebut tidak bisa lagi dilihat sebagai kesalahan, tapi sebagai manuver artistik yang brilian.

gambar_plan-9-from-outer-space

Di Amerika sendiri ada kelompok penggemar yang memuja Plan 9. Jangan salah, kelompok tersebut tidak saja berisikan movie freak yang kebanyakan waktu luang atau slacker gendut yang kebanyakan minum bir, tapi juga sutradara-sutradara besar Hollywood. Sam Raimi, sutradara trilogi Evil Dead dan Spider-Man, mengaku sering mengulang dialog dalam Plan 9 bersama teman-temannya. Joe Dante, kreator Gremlin dan Piranha, mengaku Plan 9 sering mencerahkan hari-harinya. Bosan menonton film ‘normal’, Dante sebagai gantinya mengisi waktu luang dengan mengkonsumsi film-film busuk, dan salah satunya adalah Plan 9. Tim Burton mereferensi Plan 9 dalam filmnya Charlie and the Chocolate Factory (2005) lewat gestur penghormatan Oompa-Loompa ke Willy Wonka. Gestur tersebut sama dengan gestur yang dilakukan para alien di Plan 9. Bukan itu saja, Tim Burton bahkan pernah menyutradarai Ed Wood (1994), film biografi tentang Wood!

Sulit memang membayangkannya. Usai disodori rentetan panjang kesalahan yang dibuat Plan 9, kita tahu-tahu  dihadapkan dengan reaksi positif dan testimoni cemerlang mengenai Plan 9. Ada dua dokumen yang dapat membantu kita memahami sentimen positif yang menyelimuti Plan 9. Yang pertama adalah Flying Saucers Over Hollywood: The Plan 9 Companion. Film dokumenter yang diproduksi Mark Patrick Carducci tersebut menceritakan seluk beluk di balik produksi Plan 9. Carducci tidak saja melakukan wawancara dengan para pemain dan teknisi Plan 9, tapi juga petinggi studio serta distributor yang sempat berurusan dengan Wood. Selain itu, Carducci juga mendatangi tempat-tempat yang dipakai Wood untuk syuting Plan 9 dan menceritakan bagaimana tempat tersebut digambarkan di Plan 9.

Dokumen kedua adalah Ed Wood karya Tim Burton. Film tahun 1994 tersebut bercerita tentang kehidupan Wood dari pertama kali masuk Hollywood hingga memproduksi Plan 9 from Outer Space. Tim Burton, yang sejak lama menggemari film-film Wood, mengaku ia sangat bias saat menyutradarai filmnya tersebut. Ketimbang menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan Wood, Tim Burton menampilkan Wood sebagai sutradara yang antusias dan penuh semangat. Kesalahan-kesalahan yang Wood lakukan digambarkan Burton sebagai akibat dari ketidakmampuan masyarakat memahami visi unik yang diusung Wood. Namun, ini bukan berarti kalau film Ed Wood murni fiksi, karena naskahnya didasarkan pada buku Nightmare of Ecstasy, biografi Wood yang disusun oleh Rudolph Grey. Buku tersebut terdiri dari wawancara dengan keluarga dan kerabat Wood serta surat-surat yang pernah ditulisnya. Jadi, meski sangat bias dalam penyajiannya, Ed Wood tetap mengandung fakta-fakta yang kredibel.

Flying Saucers Over Hollywood dan Ed Wood saling melengkapi satu sama lain. Flying Saucers Over Hollywood fokus terhadap dunia di sekitar Wood ketika ia memproduksi Plan 9: kondisi industri Hollywood, pandangan kritikus dan reaksi pasca Plan 9 dirilis. Sebaliknya, Ed Wood memberi penjelasan tentang pergulatan pribadi yang dialami Wood sepanjang kariernya: perkawinannya, obsesi pribadinya dan persahabatannya dengan Bela Lugosi. Lewat kedua dokumen tersebut, dapat dipetakan bagaimana Plan 9 memperoleh statusnya sebagai ‘film terburuk’ namun tetap digemari banyak orang.

Plan 9 datang di masa Wood sering berkolaborasi dengan Bela Lugosi. Kolaborasi tersebut terjadi di awal 50an, jaman dimana Lugosi sudah menjadi bayangan dari kejayaannya di masa lalu. Kesuksesannya saat bermain di Dracula (1931) dan White Zombie (1932) seperti tidak berbekas di Hollywood. Tidak hanya masyarakat Amerika yang mulai melupakan Lugosi, tapi juga studio-studio besar Hollywood. Saat akan memproduksi Abbott and Costello Meets the Frankenstein (1948), para petinggi studio Universal terkejut ketika ditawari nama Bela Lugosi oleh si sutradara. Mereka kira Lugosi sudah meninggal!

Lalu datang Ed Wood. Sejak pertama kali berkenalan, Wood dan Lugosi langsung akrab. Bisa jadi karena Lugosi sendiri merupakan idola masa kecil Wood. Maklum, waktu kecil Wood sering pindah rumah karena pekerjaan bapaknya di jasa layanan pos. Wood pun sering bosan di rumah, dan akibatnya sering bolos sekolah untuk nonton film di bioskop. Salah satu dari film yang ia tonton tersebut adalah Dracula, di mana Lugosi menapaki puncak kariernya. Wood pun tertarik dengan film sejak itu.

gambar_plan-9-from-outer-space_03

Ed Wood dan idolanya, Bela Lugosi (kanan)

Saat berkenalan dengan Wood, Lugosi sedang mengalami krisis keuangan. Wood pun langsung merekrut Lugosi untuk film pertamanya, Glen or Glenda (1953), dengan bayaran $1000 per satu hari syuting. Film tersebut bertemakan transvestisme (hobi memakai pakaian milik lawan jenis, salah satu obsesi Wood) dan akibatnya mendapat tanggapan yang buruk pada jamannya. Usai memproduksi film kriminal berjudul Jail Bait pada tahun 1954, Wood reuni dengan Lugosi di film Bride of the Monster setahun kemudian. Seperti yang bisa diduga, film tersebut juga gagal di pasaran.

Pasca bermain di dua film Wood, Lugosi jatuh sakit. Penyebabnya adalah kecanduan Lugosi terhadap morfin selama dua puluh tahun terakhir. Lugosi terpaksa dilarikan ke panti rehabilitasi selama beberapa bulan. Saat Lugosi dinyatakan bersih, Wood langsung memboyongnya untuk membuat The Ghoul Goes West, sekuel dari Bride of the Monster. Sayangnya Wood hanya mampu mengumpulkan $900, yang itupun tidak cukup untuk membiayai satu hari syuting. Jadilah Wood mengambil beberapa gambar secara acak, salah satunya adalah adegan Lugosi keluar dari rumah dan memetik bunga di halaman.

Kemudian, terjadi dua peristiwa penting dalam karier Ed Wood. Pertama, Bela Lugosi wafat. Pada 16 Agustus 1956, Lugosi ditemukan berbaring tanpa nyawa di rumahnya. Pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Lugosi wafat akibat serangan jantung. Gara-gara kejadian itu, Wood terpaksa membatalkan produksi filmnya. Tapi, selang beberapa bulan kemudian, Wood mendapat tawaran untuk membuat film. Kala itu Wood didatangi penjaga apartemennya. Si penjaga apartemen Wood memiliki saudara seorang jemaat di Southern Baptist Church. Si jemaat ingin mengajak Wood membuat film tentang dua belas murid Yesus. Namun Wood merespons dengan argumen: daripada menghabiskan uang untuk membuat satu film tentang murid-murid Yesus, kenapa tidak membuat satu film yang laris supaya bisa buat dua belas film untuk setiap murid Yesus? Apalagi, menurut Wood, film sains-fiksi sedang laris waktu itu. Tak tahu menahu perihal dinamika industri perfilman, si jemaat setuju dan siap mendanai proyek Wood.

Terjadilah produksi Plan 9 from Outer Space. Sebelum produksi Plan 9 jalan, pihak gereja mengajukan dua permintaan ke Ed Wood. Pertama, setiap kru tim Ed Wood harus dibaptis terlebih dahulu. Harapannya supaya produksi film Wood lancar dan berkenan di mata Tuhan. Selain itu, gereja juga meminta judul film Wood diganti. Tadinya Plan 9 berjudul asli Graverobbers from Outer Space, namun pihak gereja menganggap judul tersebut tidak sesuai untuk sebuah film yang disponsori sebuah institusi religius. Mengingat dirinya sering kesulitan mengumpulkan dana, Wood pun menyetujui kedua permintaan tersebut.

Usai mendapat dana, Wood langsung mengerjakan film sesuai gayanya. Demi menghemat biaya, Wood menyelesaikan sekitar 30 adegan setiap harinya. Ini berlawanan dengan kebiasaan sutradara lainnya, yang cenderung menyelesaikan satu atau dua adegan per hari. Saking cepatnya ia bekerja, Wood selalu menganggap take pertama adalah yang terbaik. Kalau ada krunya yang menunjukkan kesalahan yang dia buat, Wood akan langsung menjawab, “Tenang, tenang. Selesaikan satu adegan ini, yang salah akan kita tutup di editing.”

Wood juga rajin mengumpulkan klip-klip video lama saat produksi Plan 9. Tujuannya untuk membuat adegan yang sulit dengan biaya yang murah. Adegan pertempuran antara militer dan alien di awal Plan 9 merupakan hasil dari koleksi Wood. Dia mengambil klip artileri, tank dan ledakan senjata dari dokumentasi Perang Dunia II dan memasukkanya ke dalam Plan 9 saat editing. Vampira, salah satu pemain di Plan 9, menyebut cara kerja Wood mirip “dengan penjahit yang sedang membuat sulaman”.

Karena kecenderungannya memakai klip lama tersebut, Wood turut memasukkan klip Lugosi dari produksi The Ghoul Goes West. Fakta bahwa Lugosi sudah meninggal tidak mencegah niat Wood. Untuk menjaga kontinuitas, Wood merekrut tukang pijatnya yang bernama Tom Mason untuk memainkan peran Lugosi. Konyolnya, Mason tidak ada mirip-miripnya dengan Lugosi! Oleh karena itu, Wood menginstruksikan Mason untuk menutupi wajahnya dengan kostumnya sepanjang film!

gambar_plan-9-from-outer-space_02

Bela Lugosi dalam Plan 9 from Outer Space

Ketika selesai diproduksi pada tahun 1956, Plan 9 tidak bisa langsung didistribusikan ke bioskop. Ed Wood tidak punya cukup biaya untuk mengadakan negoisasi dengan pihak distributor. Baru pada tahun 1959, Wood berhasil mengumpulkan cukup dana untuk meluncurkan Plan 9 ke pasaran, itupun untuk pemutaran terbatas di beberapa bioskop kecil. Sayangnya usaha Wood sia-sia: filmnya tidak dilirik penonton, entah karena kurangnya promosi atau akibat minimnya kualitas. Southern Baptist Church pun kehilangan kepercayaan pada Wood dan menolak untuk membiayai proyek-proyeknya selanjutnya.

Seusai Plan 9, karier Ed Wood menukik drastis. Kegagalan Plan 9 membuat Wood dalam hutang yang besar dan dia pun diusir dari apartemennya. Dia sering pindah-pindah apartemen, karena tak pernah punya cukup uang untuk menyewa dalam jangka panjang. Untuk menyambung hidup, Wood membuat beberapa film porno dan novel erotis. Seringkali Wood menyelesaikan satu novel dalam satu hari dan langsung menjualnya ke penerbitan hanya untuk membeli makan. Sepanjang sisa hidupnya Wood melakukan pekerjaan itu hingga ia tutup usia pada tahun 1978.

Sampai ia meninggal, Wood tidak pernah melihat karyanya disanjung oleh publik luas. Menariknya, setahun setelah Wood meninggal karyanya malah banyak diakses orang. Penyebabnya satu, buku The Golden Turkey Awards karya Harry dan Michael Medved. Sebelum Golden Turkey, Medved bersaudara pernah menyusun buku berjudul The Fifty Worst Movie of All Time. Dalam buku Fifty Worst Movie tersebut, Medved bersaudara secara subjektif menyusun lima puluh film yang mereka anggap buruk dan tidak layak tonton. Namun karena pilihan mereka turut melibatkan film-film ‘besar’ seperti Last Year in Marienbad (1962) dan The Omen (1976), Medved bersaudara menuai banyak protes dari pembaca. Jadilah, mereka menyusun The Golden Turkey Awards yang berisikan film-film terburuk pilihan pembaca. Saat dilakukan pengumpulan suara untuk kategori film terburuk sepanjang masa, Plan 9 keluar sebagai pemenangnya!

Yang jadi pertanyaan, bagaimana para pembaca bisa tahu tentang Plan 9 kalau filmnya sendiri tidak beredar lama di bioskop? Ternyata, masyarakat Amerika mengetahuinya dari biografi Bela Lugosi. Para biografer Lugosi cenderung kaget melihat film-film terakhir Lugosi yang disutradarai Ed Wood. Mereka mencantumkan film-film Wood sebagai “akhir yang absurd untuk karier secemerlang Lugosi”. Mengingat Lugosi memiliki banyak penggemar berkat kesuksesannya bermain di Dracula, nama Wood juga turut menyebar di kalangan tersebut. Beruntunglah para penggemar Lugosi tersebut, karena televisi-televisi di Amerika sering mengadakan pemutaran film horror dan sains-fiksi klasik tiap tengah malam. Dalam beberapa kesempatan, film-film Lugosi yang disutradarai Wood turut disiarkan. Keanehan film-film Wood dengan mudah merebut hati banyak penggemar Lugosi, yang juga sudah terbiasa dengan keunikan aktor idolanya. Lewat komunikasi mulut ke mulut, orang-orang lain di luar penggemar Lugosi juga mengetahui karya-karya Wood dan juga ikut jadi penggemar. Alhasil, terbentuk kelompok penggemar Wood yang cukup besar namun tidak terekspos media.

Buku Medved bersaudara itulah yang memberi kesempatan bagi kelompok penggemar Wood tersebut untuk menyalurkan suaranya. Ketika Plan 9 muncul menjadi pemenang, para kritikus langsung membahas film tersebut di koran dan majalah. Beberapa sutradara besar Hollywood yang sempat menonton Plan 9 mengakui kesukaannya terhadap film tersebut di depan umum. Jadilah Plan 9 dikenal oleh khalayak ramai dan memperoleh labelnya sebagai film terburuk. Sampai sekarang.

Plan 9 from Outer Space | 1959 | Sutradara: Ed Wood | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Gregory Walcott, Mona McKinnon, Tom Keene, Tor Johnson, Dudley Manlove, Joanna Lee, John Breckinridge, Vampira, Bela Lugosi

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share
Send this to a friend