Modus Anomali dan Beberapa Marginalia

modus-anomali-dan-beberapa-marginalia_highlight

Tahun 1963, Hannah Arendt menerbitkan Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Buku ini, yang berawal dari artikel panjang di majalah New Yorker, bertanya mengapa orang yang taat hukum seperti orang baik-baik seperti Adolf Eichmann bisa larut ke dalam kejahatan Nazi dan mengirim jutaan Yahudi ke kamar gas. Eichmann tidak saja menunjukkan sikap taat perintah, tapi juga taat hukum. Dari catatan-catatan Arendt sepanjang persidangan Eichmann di Jerusalem, ia jauh dari stereotip psikopat yang sering dilekatkan pada penjahat perang/pembunuh massal Nazi lainnya; Eichmann mengaku hanya “melaksanakan tugas”. Penerbitan Eichmann in Jerusalem memicu skandal di mana-mana. Arendt—seorang Yahudi Jerman yang harus mengungsi selama perang—dituduh apologis. Polemik berlanjut hingga beberapa dekade kemudian.

Pernyataan Arendt sederhana: tidak selamanya orang sadar telah berbuat jahat, dan kejahatan Nazi dilakukan oleh para birokrat yang sekadar menerima tugasnya sebagai bagian dari moralitas publik Jerman. Para pengkritik Arendt mempertanyakan bagaimana Eichmann bisa pura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Pertanyaan saya: apakah Eichmann menikmati tugasnya karena mendapat justifikasi hukum, atau ia sekadar pengikut naif ideologi ultranasionalis Nazi? Dalam banyak kasus, seringkali yang terjadi adalah dua-duanya. Di satu sisi para pembantai massal hanyut dalam antusiasme yang digelorakan oleh ideologi resmi, namun di sisi lain bersikap sinis (“Persetan dengan ideologi, tapi selama ruling ideology masih ada, saya bebas membunuh!”).

Saya tidak sedang menulis resensi film Modus Anomali. Adrian Jonathan Pasaribu telah menuliskannya dengan baik dalam situs filmindonesia.or.id, dan komentar-komentar di bawah ini berangkat dari sana.

Di luar kesulitan-kesulitan menafsirkan apa yang mau dikatakan Joko Anwar dalam Modus Anomali, dua hal harus disepakati di sini: melihat film tersebut sebagai film keluarga, dan sedikit lebih naif untuk tidak terlalu mempedulikan kekerasan yang dihadirkan Joko alih-alih struktur naratifnya. Adrian menggarisbawahi kegagalan integrasi John Evans dengan keluarganya; ada jarak antara potret keluarga yang mulus (yang ditandai dengan pembicaraan di telepon antara John dan anak-istrinya) serta karnaval kekerasan yang dilakukannya. Kita seakan-akan menyaksikan kepribadian ganda, split personality, skizofrenia yang tidak terdamaikan dengan potret keluarga yang sempurna. Lain dari itu, ada pula spekulasi-spekulasi motif pembunuhan berantai yang lekas menjadi dasar untuk membaca karakter John. Boleh jadi John adalah seorang psikotik, namun saya kira pernyataan seperti itu adalah general statement yang tidak menjelaskan apa-apa; mungkin juga dia seorang homoseksual yang butuh pelarian karena sehari-harinya terjebak dalam pola relasi keluarga heteroseksual. Ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dirujuk untuk menunjukkan jurang antara John sebagai family man dan John yang brutal. Kita terjebak dalam pertanyaan moralis: mengapa seorang bapak yang baik bisa menjadi sedemikian barbar di luar rumah?

Mari kita balik pertanyaannya: bagaimana jika semua spekulasi itu justru menunjukkan integrasi yang kuat antara John dan keluarganya? Bagaimana jika karnaval bunuh-bunuhan itu sendiri justru menunjukkan keinginan John untuk memenuhi ukuran-ukuran “universal” bapak yang baik, tidak hanya bagi keluarganya tetapi juga bagi keluarga-keluarga lain yang dibantainya? Boleh jadi begitu; lihat beberapa adegan dimana ia menghapus gambar para bapak dari keluarga-keluarga yang dibunuhnya. Handycam lantas menjadi sarana yang membantu John mengkonfirmasi citraan ideal sebagai seorang suami dan bapak idaman semua keluarga.

Selain itu, ada pula motif yang sebetulnya sangat melankolis di sini: bagaimana jika aksi pembantaian John didorong oleh keinginannya merasakan kehilangan anggota keluarga? Tidak ada keluarga yang terus-terusan sempurna. Tidak usah jauh-jauh membayangkan sebuah keluarga sempurna yang tiba-tiba retak karena perselingkuhan, judi atau minuman keras. Cukup ambil contoh sederhana saja: kelak orangtua akan mengalami sindrom empty nest ketika anak-anak mereka beranjak dewasa dan sudah saatnya keluar rumah. John belajar untuk menerima kehilangan sebelum kehilangan sungguhan. Singkatnya, John merasa terlalu paham bahwa keluarga yang sempurna, jika pun benar-benar ada, adalah mitos yang cepat lambat akan hilang dengan sendirinya, meski tetap harus dipertahankan. Di sini Modus Anomali seperti remake slasher dari melodrama keluarga seperti My Life without Me (2003).

Ann, karakter utama dalam My Life Without Me, adalah seorang perempuan yang divonis kanker stadium empat dan akan mati dalam beberapa bulan. Sebelum mati, ia diam-diam mempersiapkan banyak hal untuk keluarganya yang miskin namun bahagia. Ann juga mencoba pengalaman-pengalaman baru seperti merokok atau bercinta dengan laki-laki selain suaminya. Semua ini dikerjakan tanpa merusak ritme kehidupan sehari-hari keluarganya. Pendeknya, ia memiliki kehidupan ganda, yang dalam film-film horor barangkali akan dinggap kasus split personality. Sayangnya di sini tidak. Ia cuma tidak ingin fiksi kolektif yang menyatukan keluarganya hancur. Fiksi kolektif ini menuturkan kisah tentang rumah tangga yang sempurna dimana seluruh kebutuhan dan passion semua anggotanya terakomodasi, dan untuk menjaga keutuhan fiksi tersebut, paradoksnya Ann harus mencari kebahagiaan di luar rumah melalui serangkaian affair. Ann merasa bahwa keluarganya harus percaya bahwa dirinya telah menjalani kehidupan yang utuh.

Akhir My Life Without Me sangat terbuka (open-ended). Sah bagi penonton untuk kemudian bertanya bagaimana seandainya vonis dokter tidak terbukti sehingga semua antisipasinya atas kematian secara objektif menjadi dalih untuk selingkuh, sementara di saat yang sama Ann tetap percaya bahwa usianya tinggal hitungan minggu? Jika memang demikian, tidakkah kita menjumpai irisan yang unik antara Adolf Eichmann, Ann, dan John Evans di Modus Anomali—satu tipikal karakter yang percaya buta tapi juga sinis?

Jangan lupa jika di setiap awal permainan John selalu menyuntik lengannya sendiri, yang menandakan keinginannya untuk hanyut dan menikmati semua proses pembantaian. Ada pesan lain yang bisa ditangkap dari sini: John tidak mau tahu dan tidak ingin merasa bersalah. Itu sebabnya ia menyisipkan potret-potret dirinya ke dalam handycam milik keluarga-keluarga yang dibantainya. Ia ingin dirinya sendiri percaya bahwa setelah membunuh beberapa keluarga, ia masihlah seorang kepala keluarga yang baik. Ideologi keluarga borjuis yang ideal itu, selain hadir melalui suara anak dan istri di telepon serta gambar-gambar dalam handycam, juga merasuk lewat jarum suntik. Satu ironi yang manis.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend